Sabtu, 9 Agustus 2025. Hari Biasa Pekan XVIII. Kitab Ulangan 6:4-13; Matius 17:14-20.
Oleh: RD.Fidelis Dua
PAUS Benediktus XVI pernah menegaskan, “Iman bukan hanya sebuah perasaan, tetapi sebuah komitmen total kepada Allah yang esa.”
Pernyataan ini sangat relevan dalam dunia kita yang penuh dengan gangguan dan godaan materialisme. Seringkali, iman disalahartikan hanya sebagai perasaan nyaman atau pengalaman emosional sesaat.
Namun, Kitab Ulangan mengajak kita untuk menyadari bahwa iman sejati adalah suatu pengabdian menyeluruh yang mengarahkan seluruh hati, jiwa, dan kekuatan kepada Allah yang satu dan esa. Allah yang sama yang membebaskan umat-Nya dari perbudakan bukan hanya menjadi kenangan masa lalu, melainkan hadir sebagai kekuatan nyata dalam hidup kita sehari-hari, yang layak kita cintai dan taati dengan totalitas.
Dalam bacaan pertama, Tuhan menegaskan keesaan-Nya dan menuntut komitmen penuh dari umat-Nya. Kasih kepada Allah bukan hanya sebuah perasaan, tapi totalitas hidup yang berakar dalam kesadaran bahwa Dia telah membebaskan kita dari “Mesir” zaman modern: dari ketergantungan, ketakutan, dan perbudakan berbagai bentuk dosa. Pesan ini relevan bagi kita yang sering lupa bersyukur dan bergantung pada kekuatan sendiri, bukan pada Allah.
Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Buku Cinta yang Menuntun Hidup
Demikian pula dalam bacaan Injil, Yesus menegaskan kekuatan iman, bahkan yang sekecil biji sesawi sekalipun, dapat memindahkan gunung. Ini bukan hanya metafora, tetapi panggilan untuk meyakini bahwa dengan iman yang tulus dan penuh harap, tidak ada masalah yang terlalu besar untuk diatasi. Iman bukan soal ukuran besar, tapi kesungguhan hati yang tak tergoyahkan oleh keraguan. Realitas kehidupan umat hari ini sering penuh dengan tantangan dan ketidakpastian, namun Yesus menguatkan kita untuk percaya bahwa tiada yang mustahil bagi orang yang beriman.
Saudari dan saudara yang terkasih, mari kita teguhkan hati untuk mencintai Tuhan dengan sepenuh jiwa dan kekuatan, selalu mengingat pembebasan dan penyertaan-Nya dalam hidup kita setiap hari. Kita bisa memulainya dengan menyediakan waktu setiap hari untuk berdoa secara fokus dan sungguh-sungguh bukan sekadar waktu sisa dari kesibukan kita. Kita membaca Firman Tuhan sebagai pedoman dan arah langkah hidup, sekaligus mengingat kebaikan-Nya yang nyata dalam pengalaman pribadi kita. Selain itu, berkomitmenlah untuk memilih kebaikan dan kejujuran dalam setiap tindakan, meski dunia sekitar mengajak pada hal sebaliknya.
Dalam hal ini, kita dapat beriman dengan sungguh-sungguh, meyakini bahwa melalui iman kecil kita, meski hanya sekecil biji sesawi, kuasa Allah dapat mengatasi segala gunung persoalan dalam hidup. Ketika menghadapi kesulitan, jangan langsung putus asa atau mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi bangunlah keberanian untuk berdoa dan menyerahkan segala pergumulan kepada Tuhan, sambil terus melangkah dengan keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman dalam Tekanan: Antara Batu dan Salib
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Iman sejati bukan sekadar perasaan, melainkan pengabdian total yang menguatkan langkah kita di tengah dunia yang penuh godaan.”
“Dengan iman sekecil biji sesawi yang dipenuhi kepercayaan, tidak ada gunung masalah yang tak dapat dipindahkan oleh kuasa Allah.”
Tuhan memberkati kita.






