Afril, Pengibar Bendera Pusaka Tak Berani Bercita-Cita, Ibunda: Tamat SMA Bisa Cari Sepiring Nasi

Magdalena Yuliana, ibunda Gregorius Paulus Afrizal, menangis menceritakan keseharian bersama enam orang anaknya, Selasa 12 Agustus 2005 di rumahnya Gang Flamboyan, Iligeteng, Kelurahan Beru, Kota Maumere. (dewadet.com/eginius moa)

MAUMERE,dewadert.com-Tiga hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2025 dilangsungkan di Istana Merdeka Jakarta dan diseluruh penjuru Tanah Air.

Semua mata akan tertuju ke Jakarta. Momentum maha penting dari sejarah perjuangan sampai proklamasi kemerdekaan 1945 adalah pengibaran Bendera Merah Putih, pembacaan Teks Proklamasi  Kemerdekaan dan dinyanyikannya lagu kebangsaan Indonesia Raya untuk pertama kali.

Lakon itu berulang setiap tahun, kini memasuki usia ke-80 tepat pada hari Minggu nanti. Salah satu dari tiga lakon sejarah itu adalah pengibaran bendera Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskribraka). Ada 76 orang putra-putri terbaik hasil seleksi ketat dari 38 provinsi.

Provinsi NTT menempati dua orang pilihan,Gregorius Paulus Afrizal dari Kabupaten Sikka dan Merlin Angraeni Mausali asal Kabupaten Alor.

Baca juga: Berkah Jual Kompor Minyak untuk Periksa Kesehatan, Kisah Paskibraka Nasional dari Maumere

Tampilnya Afril, sapaan siswa kelas XI SMAK Frater Maumere telah menghadirkan motivasi, semangat, dan teladan kepada generasi muda Sikka di masa depan. Sulung dari enam bersaudara ini memberi contoh tentang belajar– modal diri menyongsong masa depan. Ketekunan, kerja keras, disiplin, rendah hati untuk terus belajar.

Afril, sepantasnya mendapat kesempatan langkah yang diincar banyak siswa dan siswi SMA dan SMK. Dia membina diri sejak lama, bukan mengejar menjadi anggota Paskibraka Nasional, tetapi menyiapkan modal menyongsong masa depan.

Tapi tahukah Anda latar belakang Afril? Dia berasal dari keluarga sangat sederhana. Ayahnya telah ‘tinggalkan’ Afril dengan lima orang adik dan ibunya, Magdalena Yuliana  dikala mereka butuh perhatian. Semenjak ditinggalkan ayah, ibunya menjadi tulang punggung bekerja serabutan menghidupi mereka.

Sebaga anak suling, Afril tidak rela membiarkan ibu tanggung sendiri. Dia  membantu sebisa yang dapat dilakukan meringankan beban ibunya. Kerja apa saja.  Jual nasi kuning, bakso tusuk, jagung rebus bahkan ojek dilakukan Afril tanpa rasa malu.

Baca juga: Pengibar Bendera Pusaka Tak Malu Jual Nasi Kuning, Jagung Rebus dan Ojek  

Mental pekerja keras, tanggungjawab dan spotivitas sudah tertanam sejak kecil. Menekuni olahraga belah diri Karate sejak bangku sekolah dasar sampai saat ini turut menempanya. Berbagai  kompetisi Karate diikutinya dengan beragam prestasi diraih oleh pemegang sabuk Coklat.

“Dia rangking satu sejak SD Wairotang sampai SMPN Alok. Peringkat lima di SMAK Frater Maumere. Waktunya habis dengan semua kegiatan. Sekolah, kerja tugas, melatih belah diri, dan membantu saya cari uang. Jual nasi kuning, jagung rebus dan ojek,” kisah Magdalena Yuliana, ibunda Afril, Selasa 12 Agustus  2025 di kediaman mereka di Lorong Flamboyan, Iligetan, Kelurahan Beru, Kota Maumere.

Semangat belajarnya membara. Tak punya laptop dan Wifi untuk mengerjakan tugas sekolah, Afril mengandalkan kebaikan teman-teman sekelas. Karena itu, dia lebih sering belajar di rumah teman yang punya laptop dan jaringan Wifi. Hanya sesekali dia mengajak kawanya belajar di rumahnya yang sederhana.

“Dia anak yang agak tertutup dengan kesulitan yang dialaminya. Adiknya juga seperti itu. Bahkan kalau dia dengar ada orang yang marah atau omong hal yang kurang baik tentang orangtuanya pun, dia selalu diam,” imbuh Magdalena.

Baca Juga: Afrizal dari Sikka dan Merlin asal Alor Wakili NTT Kibarkan Bendera Pusaka di Istana Merdeka

“Teman-temanya yang sering belajar ke sini, tahu keadaan kami. Mereka tahu, mama Afril ojek. Tapi dia tidak pernah cerita kepada teman-temannya tentang keadaan kami,” kisah Magdalena tetang perangai Afrill.

Afril tahu benar keseharian dan beban mama serta adik-adiknya diakui sang bunda, sejak kecil hingga di bangku kelas XI SMAK Frater tak pernah menyampaikan cita-citanya selepas SMA.

Magdalena terkejut dengar Afril ‘kepengen’ menjadi anggota Polri ketika dia dinyatakan lulus seleksi Paskribraka tingkat provinsi dan hendak berangkat ke Kupang.

“Dia pernah bilang, mama e…seandainya ada kesempatan saya masuk masuk Akpol. Saya tidak mengerti Akpol itu apa. Saya bilang, nanti kau pergi jauh-jauh bagaimana dengan adik-adik,” Magdalena mengulangi percakapannya dengan Afril bulan Juli lalu.

Baca juga: Siswa SMAK Frater Maumere Terpilih Kibarkan Bendera Pusaka di Istana Negara

“Saya tidak punya mimpi akan cita-cita anak saya. Kami miskin. Tidak berani punya cita-cita. Intinya dia tamat SMA bisa cari satu piring nasi untuk dirinya sudah cukup bahagia saya. Tidak  terlintas sama sekali. Kalau ada yang baik hati mau bantu kami, Puji Tuhan,” kata Magdalena.

“Setelah lolos Paskibraka nasional ini, saya baru berani berharap. Sebelumnya, demi nama Tuhan, saya tidak berani menanyakan cita-cita anak-anak saya. Kami tahu kondisi kami,” imbuh Magdalena. *

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan