Jumat, 05 September 2025. Hari Biasa Pekan XXII (Jumat Pertama Dalam Bulan)
Kolose 1:15-20; Lukas 5:33-39.
”JANGANLAH puas menjalani kehidupan Kristiani yang biasa-biasa saja. Berjalanlah dengan kebulatan tekad di sepanjang jalan kekudusan.”
Saudara-saudari terkasih. Rasul Paulus dalam suratnya kepada kepada Jemaat di Kolose menyingkapkan wajah Kristus yang penuh kemuliaan. Dialah gambaran Allah yang tak kelihatan, kepala tubuh yaitu Gereja, yang sulung di antara segala ciptaan. Melalui salib-Nya, Kristus mendamaikan segala sesuatu, baik yang di bumi maupun yang di surga.
Paulus menegaskan bahwa hidup kita hanya menemukan makna yang sejati jika berakar pada Kristus yang adalah pusat dan kepala, sumber damai, dan kepenuhan kasih Allah. Di dalam Dia, setiap relasi, pekerjaan, dan perutusan memperoleh arah dan tujuannya.
Sementara itu, Injil hari ini berbicara tentang puasa, tentang kehadiran Sang Mempelai, dan tentang hidup yang selalu diperbarui. Yesus mengingatkan bahwa kehidupan iman tidak bisa terus bertahan dengan pola lama; anggur baru membutuhkan kantong yang baru.
Kehadiran-Nya membawa pembaruan radikal: hati yang siap dibentuk, cara hidup yang terus disegarkan, dan semangat yang berani meninggalkan kebiasaan lama yang tidak lagi memberi hidup.
Dengan demikian, saudari dan saudara yang terkasih, Kristus harus selalu menjadi pusat hidup kita, dan dari Dia kita belajar memperbarui diri setiap hari.
Dalam masyarakat yang penuh gejolak, perpecahan, dan godaan hidup dangkal, kita dipanggil untuk tidak berhenti pada iman yang suam-suam kuku, tetapi berani masuk ke jalan kekudusan dengan tekad penuh. Artinya, kita tidak bisa hanya puas dengan rutinitas doa atau ritual, tetapi mesti membiarkan Kristus memimpin hidup kita, mengubah hati yang keras menjadi lembut, relasi yang retak menjadi damai, dan komunitas yang terpecah menjadi satu tubuh yang hidup dalam kasih
Saudari dan saudara yang terkasih, Sabda Allah hari ini menyapa kehidupan kita yang sering tergoda untuk “hidup biasa-biasa saja” dalam iman. Ada banyak dari kita yang masih menjalankan iman hanya sebatas kewajiban, tanpa gairah dan tanpa kebaruan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Iman yang Bertindak, Doa yang Menjadi Nafas Aksi
Namun, Kristus, Sang Kepala, meneguhkan kita bahwa iman sejati harus memberi dampak: membawa damai dalam keluarga, keadilan di tengah masyarakat, dan sukacita dalam pelayanan. Maka, mari kita menjadikan Kristus sebagai pusat segala sesuatu dalam hidup kita. Saat kita bekerja, belajar, berkeluarga, melayani, bahkan saat kita mengalami penderitaan, biarlah Kristuslah yang memimpin.
Dan marilah kita memperbarui diri setiap hari, membuang kantong lama kebiasaan yang hanya melemahkan iman, dan membuka hati untuk anggur baru kasih karunia Tuhan. Jangan puas dengan iman yang datar. Jangan biarkan kita menjadi umat yang hanya menjalankan rutinitas tanpa pembaruan hati. Kristus yang telah mendamaikan segalanya lewat salib-Nya mengajak kita untuk hidup dalam semangat baru, penuh kasih, dan menjadi saksi damai bagi dunia yang haus akan harapan.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Iman yang sejati bukanlah iman yang nyaman, melainkan iman yang berani dibentuk, diperbarui, dan dipimpin sepenuhnya oleh Kristus.”
“Kristus memanggil kita meninggalkan iman yang datar, agar kita hidup dalam semangat baru, menjadi saksi damai dan harapan bagi dunia yang sedang haus akan kasih.”
Tuhan memberkati kita.
Editor: Eugenius Moa
