Selasa, 23 September 2025. Peringatan Wajib St. Pius dari Pietrelcina (Padre Pio), Imam
Kitab Ezra 6:7-8.12b.14-20; Lukas 8:19-21.

SAUDARI-saudara terkasih dalam Kristus. Dalam hidup, kita sering melihat betapa kuatnya ikatan keluarga. Orang rela berkorban demi anak, orang tua, atau saudara kandung. Namun kita juga tahu, tidak jarang ikatan darah bisa retak oleh perselisihan, harta, atau ambisi.

Pertanyaannya: apakah dasar sejati hubungan antar manusia hanyalah darah dan kepentingan, atau ada sesuatu yang lebih dalam dan lebih kekal? Injil hari ini menegaskan kepada kita: dasar sejati setiap relasi adalah Firman Tuhan dan kehendak-Nya. Tanpa itu, relasi rapuh. Dengan itu, relasi menjadi sumber hidup.

Kitab Ezra hari ini mengisahkan pembangunan kembali Bait Allah di Yerusalem setelah masa pembuangan. Bangunan itu bukan sekadar gedung, melainkan tanda hadirnya Allah di tengah umat. Menariknya, Allah memakai raja-raja kafir, bahkan penguasa asing, untuk mendukung karya pemulihan umat-Nya.

Hal ini menunjukkan bahwa Allah bisa bekerja melalui siapa saja untuk membangun hidup umat-Nya, asalkan umat-Nya sendiri setia menaruh dasar hidup pada Firman-Nya. Seperti bangsa Israel yang berkumpul dan merayakan Paskah dengan hati penuh sukacita, kita pun dipanggil membangun keluarga, komunitas, bahkan bangsa, dengan dasar iman pada Allah, bukan pada kepentingan pribadi semata.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Antara Bisikan Dunia Suara Tuhan

Dalam Injil Lukas, kita mendengar kisah sederhana namun sangat mendalam. Ketika ibu dan saudara-saudara Yesus datang untuk menemuinya, orang banyak mengira hubungan darah memberi hak istimewa. Namun Yesus menjawab dengan tegas: “ Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

Jawaban ini bukan berarti Yesus menolak Maria dan keluarganya. Sebaliknya, Yesus justru menegaskan bahwa Maria menjadi Ibu sejati-Nya bukan karena hubungan darah, melainkan karena ia mendengarkan dan melakukan kehendak Allah. Artinya, dasar sejati relasi dalam Kristus bukanlah kedekatan biologis, melainkan kesetiaan pada Firman.

Saudari-saudara terkasih. Dalam dunia yang penuh kepentingan, banyak relasi dibangun hanya karena untung-rugi, kekuasaan, atau semata-mata karena hubungan darah. Tetapi Yesus menegaskan bahwa keluarga sejati adalah komunitas yang hidup dalam Firman. Keluarga yang setiap hari mendengarkan Sabda, mendoakan bersama, saling menopang dalam iman, itulah keluarga yang akan bertahan dalam badai hidup. Begitu juga persahabatan, komunitas kerja, bahkan hubungan dalam Gereja: semua hanya akan kokoh jika berakar pada kehendak Allah.

Hari ini kita merayakan Santo Pius dari Pietrelcina—Padre Pio, seorang imam yang hidupnya menjadi teladan konkret akan Firman yang dijalani. Ia dikenal bukan hanya karena stigmata yang ajaib, tetapi terutama karena kerendahan hati, doa yang tekun, pengakuan dosa yang panjang penuh kesabaran, dan kesetiaannya dalam pelayanan umat.Ia menjadi “saudara” sejati Kristus, bukan karena keistimewaan manusiawi, tetapi karena mendengarkan Firman dan melaksanakannya dengan setia.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Allah atau Mamon: Pilihan yang Tak Bisa Diduakan

Dengan demikian hendaklah relasi-relasi kita dalam keluarga, persahabatan, pekerjaan, atau komunitas mesti berakar dalam Firman Tuhan. Kita tidak membangun relasi hanya karena hubungan darah, perasaan, atau kepentingan, melainkan sungguh-sungguh dalam kasih dan kebenaran Allah.

Saudari-saudara terkasih. Sabda hari ini mengajak kita untuk menegaskan kembali dasar hidup: biarlah setiap relasi kita dibangun di atas Firman, agar kita menjadi keluarga sejati Allah. Seperti bangsa Israel yang kembali dari pembuangan membangun Bait Allah, dan seperti Yesus yang menunjukkan bahwa pelaku Firman adalah keluarga-Nya, demikian pula kita dipanggil menjadi keluarga Allah yang sejati—keluarga yang saling meneguhkan, saling menopang, dan bersama-sama berjalan dalam kasih Kristus.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Hubungan darah bisa pudar, kepentingan bisa memudar, tetapi relasi yang berakar dalam Firman Allah akan bertahan selamanya.”

”Keluarga sejati bukanlah yang hanya lahir dari rahim yang sama, tetapi yang hidup dalam Firman yang sama dan berjalan dalam kasih Kristus.”

Tuhan memberkati kita.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan