Sabtu, 4 Oktober 2025.  Pesta St. Fransiskus dari Assisi. Kitab Barukh 4:5-12.27-29; Lukas 10:17-24
Oleh; Rd.Fidelis Dua.

SAUDARA-saudari terkasih. Dunia mengenal St. Fransiskus dari Assisi sebagai orang kudus yang dengan cara tak terduga mengubah wajah Gereja dan dunia. Ia tidak memimpin pasukan, tidak menulis buku teologi tebal, tidak membangun kerajaan, namun ia merevolusi dunia dengan kesederhanaan.Cara berpikirnya sangat sederhana: ikuti Injil, hiduplah sederhana, dan tunjukkan kegembiraan kepada dunia.

Justru dari yang sederhana itulah lahir daya ubah yang dahsyat. Ia menanggalkan segala miliknya, hidup bersama orang miskin, dan melihat seluruh ciptaan sebagai saudara dan saudari. Jalan kecilnya itu, ternyata adalah jalan yang sangat besar.

Kitab Barukh hari ini berbicara tentang Allah yang mengizinkan bencana menimpa umat-Nya, tetapi sekaligus berjanji akan menghadirkan sukacita: “ Allah yang telah mendatangkan malapetaka kepadamu, Dialah juga yang akan mendatangkan sukacita abadi kepadamu.”

Ada paradoks di sini: di balik penderitaan, ada janji sukacita. Inilah yang dialami St. Fransiskus. Ia pernah hidup dalam kesenangan dunia, mengejar kekayaan dan kehormatan, tetapi jiwanya kosong.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Celaka Bagi yang Mendengar Tanpa Mendengarkan

Ketika ia berani meninggalkan semuanya dan memilih kemiskinan demi Kristus, ia menemukan sukacita yang sejati. Barukh mengajarkan: jangan berhenti pada kesedihan, jangan terjebak pada luka. Di balik salib, selalu ada kebangkitan; di balik kehilangan, ada sukacita yang lebih murni.

Injil Lukas menambah kedalaman pesan ini. Murid-murid Yesus kembali dengan penuh semangat karena mereka berhasil mengusir setan dalam nama Yesus. Namun Yesus mengingatkan: “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.”

Sukacita sejati bukanlah hasil dari kuasa, keberhasilan, atau pengakuan, melainkan dari kepastian bahwa kita dikasihi Allah dan menjadi milik-Nya. Inilah spiritualitas Fransiskan: sukacita yang lahir bukan dari memiliki, tetapi dari memberi; bukan dari menguasai, tetapi dari melayani; bukan dari popularitas, tetapi dari kesatuan dengan Allah.

Saudara-saudari terkasih, dunia modern sering berkata: “Kamu bahagia kalau sukses, kalau kaya, kalau dihormati.” Tetapi St. Fransiskus, Kitab Barukh, dan Injil hari ini berkata: “Kamu bahagia karena Allah mengenalmu, karena namamu ditulis di surga, karena kamu hidup dalam kasih.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Hidup dalam Bayangan Sayap Malaikat

Bukankah ini pesan yang sangat aktual bagi zaman kita yang sibuk mengejar pencitraan, status, dan gengsi? Fransiskus justru berkata: lepaskan, sederhanakan, dan hiduplah dengan gembira. Maka pada pesta St. Fransiskus ini, kita diajak menemukan kembali sumber sukacita sejati.

Sukacita bukan soal apa yang kita miliki, tetapi soal siapa yang kita ikuti. Bila kita setia pada Injil, hidup sederhana, dan berbagi kasih pada sesama serta ciptaan, maka kita sedang menuliskan nama kita di surga.

Saudara-saudari. Marilah kita belajar dari St. Fransiskus: melihat penderitaan bukan sebagai akhir, tetapi sebagai jalan menuju sukacita abadi; menemukan kebahagiaan bukan dalam kuasa dan prestasi, melainkan dalam kepastian bahwa kita milik Allah; dan hidup sederhana dengan hati yang penuh syukur, sehingga dunia yang serakah ini kembali merasakan keindahan kasih Allah.

St. Fransiskus mengubah dunia bukan dengan kekuatan, tetapi dengan sukacita Injil. Semoga kita pun berani berjalan di jalan kecil itu: sederhana, penuh kasih, dan gembira, sebab di situlah kita menemukan sukacita sejati yang tidak akan pernah hilang.

Baca juga:Guru Pengelola Distribusi MBG Disediakan Insentif Rp 100 Ribu Per hari

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Sukacita sejati tidak lahir dari apa yang kita miliki, tetapi dari siapa yang kita ikuti: Kristus yang hidup dalam kesederhanaan dan kasih.”

“St. Fransiskus menunjukkan bahwa dunia dapat diubah bukan dengan kuasa atau harta, melainkan dengan hati yang sederhana dan sukacita Injil yang murni.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan