BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Celaka Bagi yang Mendengar Tanpa Mendengarkan
Jumat, 3 Oktober 2025. Hari Biasa Pekan XXVI. Kitab Barukh 1:15-22; Lukas 10:13-16.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARA-saudari terkasih. Kita hidup di zaman yang penuh kegaduhan. Suara bising media sosial, debat politik, gosip, dan hiruk-pikuk dunia sering membuat hati kita sulit menemukan keheningan.
Kita terbiasa mendengar, tetapi tidak terbiasa mendengarkan. Padahal, hati yang hening adalah syarat mutlak untuk menangkap bisikan Allah. Suara Tuhan bukanlah teriakan di tengah keramaian, melainkan hembusan lembut yang membawa kedamaian. Dan hanya bila kita berhenti sejenak, memelihara keheningan, barulah kita bisa merasakan damai itu.
Kitab Barukh hari ini menyingkapkan sisi lain kehidupan iman: keberanian untuk mengakui dosa. “Kami telah berdosa terhadap Tuhan dan tidak taat.” Doa tobat bangsa Israel bukan sekadar keluhan, melainkan pengakuan jujur bahwa mereka gagal mendengarkan Tuhan dan lebih memilih jalan mereka sendiri.
Di sini kita belajar bahwa keheningan hati membawa kita pada kejujuran di hadapan Allah. Tanpa hening, kita mudah menutup telinga dan berdalih. Tetapi ketika berani hening, suara hati kita berkata apa adanya: kita adalah manusia rapuh yang membutuhkan belas kasih Allah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Hidup dalam Bayangan Sayap Malaikat
Injil Lukas melanjutkan dengan peringatan Yesus yang keras: “ Celakalah engkau, Khorazim! Celakalah engkau, Betsaida!” Kata-kata ini bukan sekadar ancaman, tetapi jeritan kasih Yesus yang kecewa. Mengapa? Karena mereka sudah menyaksikan mukjizat, mendengar Sabda, mengalami kasih Allah, tetapi hati mereka tetap tertutup.
Ironis sekali, yang melihat terang justru menolak, sementara yang dianggap jauh (Tirus dan Sidon) mungkin lebih cepat bertobat.
Di sini Yesus mengingatkan bahwa mendengar tidak selalu berarti mendengarkan. Mukjizat tanpa pertobatan hanyalah tontonan. Sabda tanpa ketaatan hanyalah gema kosong.
Saudara-saudari, Sabda hari ini membawa pesan yang menukik bagi kita. Kita bisa saja setiap hari mengikuti misa, mendengar bacaan Kitab Suci, bahkan mengalami banyak berkat Tuhan. Tetapi bila hati kita tidak pernah hening, bila kita hanya sibuk dengan kebisingan dunia, Sabda itu lewat begitu saja tanpa mengubah hidup kita. Bukankah itu seperti Khorazim dan Betsaida—melihat, mendengar, tetapi tidak bertobat?
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kasih yang Besar di Jalan yang Kecil
Namun di balik kata-kata tegas Yesus, ada harapan besar: setiap saat masih ada kesempatan untuk membuka telinga dan hati. Allah tidak lelah berbicara. Malaikat-Nya, firman-Nya, bahkan peristiwa hidup sehari-hari bisa menjadi suara Tuhan yang menuntun kita kembali. Pertanyaannya bukan apakah Tuhan masih berbicara, tetapi apakah kita masih mau mendengarkan.
Maka marilah kita menjadikan hidup ini lebih hening, bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin. Berhenti sejenak dari hiruk pikuk ambisi, dari kegaduhan dunia maya, dari pertengkaran yang sia-sia.
Saat hati hening, kita akan mendengar suara-Nya: suara yang menegur, tetapi juga menenangkan; suara yang menuntut pertobatan, tetapi juga menjanjikan pengampunan. Dan ketika kita mendengarkan suara itu, kita akan merasakan damai yang sejati.
Saudara-saudari, jalan menuju pertobatan bukanlah jalan bising, melainkan jalan hening. Dan dari keheningan lahirlah pengakuan jujur, kerendahan hati, dan keputusan untuk berjalan bersama Allah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kitab Suci: Lentera di Jalan yang Penuh Penolakan
Petikan Butiran Sabda Allah Hari Ini
“Hidup yang bising menutup telinga dari suara Tuhan, tetapi hati yang hening menemukan damai-Nya.”
“Mukjizat tanpa pertobatan hanyalah tontonan; Sabda tanpa ketaatan hanyalah gema kosong.”
Tuhan memberkati kita.





