BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Bijak Mengelola Anugerah Allah
Jumat, 7 November 2025. Hari Biasa Pekan XXXI. Roma 15:14-21; Lukas 16:1-8.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARA-saudari terkasih dalam Kristus. Banyak orang hari ini hidup dengan semangat tinggi untuk mengatur segalanya, seperti waktu, karier, relasi, bahkan pandai mengatur orang demi citra diri. Semua dirancang dengan cermat agar terlihat berhasil.
Namun ironisnya, semakin banyak yang pandai mengatur segalaya, semakin sedikit yang pandai mengatur hatinya. Kita sering bijak dalam hal-hal duniawi, tetapi ceroboh dalam perkara rohani; cerdas membuat rencana, tetapi lalai membaca kehendak Allah.
Inilah yang ingin disentuh oleh Sabda Tuhan hari ini. Dalam Injil Lukas (16:1–8), Yesus berbicara tentang seorang bendahara yang cerdik. Ia tahu dirinya akan dipecat, lalu menggunakan kecerdikannya untuk mendapatkan simpati dari orang-orang yang berhutang kepada tuannya.
Secara moral, tindakan itu tidak bisa dibenarkan namun Yesus memuji kecerdikannya, bukan kecurangannya. Mengapa? Karena bendahara itu tahu memanfaatkan kesempatan untuk masa depannya. Yesus lalu menegaskan: “Anak-anak zaman ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ditemukan untuk Hidup Bagi Kristus
Yesus tidak sedang mengajarkan kita untuk menipu, tetapi untuk belajar memiliki ketajaman rohani yang sama, yaitu kemampuan membaca tanda-tanda hidup dengan hikmat, bertindak dengan bijaksana, dan mempersiapkan hidup menuju kekekalan.
Kita sering terlalu sibuk mengelola hal-hal yang sementara, tetapi lupa mengelola hal yang abadi: hati, iman, dan kasih.
Rasul Paulus dalam bacaan pertama (Rm 15:14–21) memberi kita contoh nyata dari hidup yang diatur oleh rahmat, bukan ambisi. Ia berkata, “Aku tidak berani berkata tentang apa pun selain dari apa yang telah dikerjakan Kristus melalui aku.”
Itulah kerendahan hati seorang rasul sejati. Ia sadar bahwa setiap keberhasilan, setiap pelayanan, setiap buah karya bukan hasil usahanya sendiri, melainkan karya kasih karunia Allah. Paulus adalah seorang “bendahara rohani” yang mengelola anugerah Allah dengan setia dan bertanggung jawab. Ia tahu arah hidupnya: bukan untuk kemuliaan diri, tetapi untuk kemuliaan Kristus.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Salib: Kasih yang Tidak Pernah Lunas
Saudari-saudara terkasih, kita semua adalah bendahara kehidupan yang dipercaya oleh Allah untuk mengelola waktu, bakat, relasi, dan kasih yang Ia tanamkan dalam hati kita. Pertanyaannya: apakah kita menggunakannya dengan bijaksana? Ataukah kita menyia-nyiakannya demi hal-hal yang tidak membawa nilai kekal?
Paus Fransiskus pernah berkata, “Kita bukan pemilik hidup ini, kita hanyalah pengelola berbagai anugerah yang Allah berikan.” Maka ukuran keberhasilan bukanlah seberapa banyak yang kita atur, apalagi suka mengatur orang lain melainkan seberapa setia kita mengelola apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita, bahkan yang kecil sekalipun, demi kedamaian dan sukacita bersama.
Sebab belum tentu apa yang kita atur membawa damai; justru bisa menimbulkan kekacauan bila tanpa kebijaksanaan.
Filsuf Thomas Merton menulis, “ Kebijaksanaan sejati adalah mengetahui bahwa semua yang Tuhan anugerahkan menjadi sarana untuk mengasihi, bukan untuk mengatur.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Jangan Sibuk Sampai Lupa Datang ke Pesta Tuhan
Artinya, kebijaksanaan sejati berarti menggunakan segala anugerah Allah dengan hati yang mengasihi, bukan dengan ambisi menguasai, agar lahir damai dan sukacita sejati dalam hidup.
Inilah kunci Injil hari ini: Yesus memanggil kita untuk menjadi cerdik bukan demi menyelamatkan diri sendiri, tetapi demi kasih dan kedamaian. Cerdik dalam berbuat baik, cermat dalam menebar damai, dan bijak dalam memperjuangkan kebenaran.
Saudari-saudari, hidup ini bukan soal apa yang kita capai, melainkan bagaimana kita mengelola anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Mari kita belajar dari Paulus untuk rendah hati dan dari bendahara cerdik untuk bertindak bijak. Gunakanlah setiap kesempatan sebagai investasi kedamain sebab pada akhirnya, hanya damai itulah yang akan menjadi harta kekal di hadapan Allah selamanya.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kasih yang Berbuah di Surga
” Hidup yang bijak bukan diukur dari seberapa banyak yang kita atur, tetapi seberapa dalam kita mengizinkan Allah mengatur hidup kita.”
“Kesetiaan mengelola anugerah kecil adalah jalan menuju kebijaksanaan besar di hadapan Tuhan.”





