Sabtu, 15 November 2025. Hari Biasa Pekan XXXII.  Kitab Kebijaksanaan 18:14-16;19:6-9; Lukas 18:1-8

Oleh: Rd. Fidelis Dua

Saudari dan saudara yang terkasih, kadang kita menjumpai seseorang yang tekun merawat tanaman kecil di halaman rumahnya. Setiap pagi ia menyiram, menyiangi rumput liar, dan menunggu meski perubahan yang terjadi hampir tak terlihat.

Namun, ketika tunas pertama muncul, kita menyadari bahwa ketekunan bukan sekadar tindakan berulang, tetapi ungkapan keyakinan bahwa ada kehidupan yang sedang bertumbuh meski mata manusia belum mampu menangkapnya.

Ilustrasi sederhana ini mengingatkan kita bahwa sesuatu yang tampaknya hening bukan berarti tanpa gerak; yang tak terlihat bukan berarti tak bekerja.

Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan menggambarkan sebuah saat yang sunyi “ketika segalanya tenggelam dalam hening,” namun justru pada saat itulah Sabda Allah melompat turun, membawa kuasa yang mengubah sejarah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kepekaan Rohani: Jalan Menuju Hadirat Allah

Hening bukanlah ketiadaan; hening justru panggung di mana Allah bertindak dengan cara yang tak terduga. Saat Bangsa Israel berada dalam tekanan dan ketidakberdayaan, Allah membuka jalan di laut, menjadikan air yang dahsyat sebagai pagar, dan angin yang seringkali menakutkan sebagai penyokong langkah.

Di sini kita melihat pola bahwa Allah sering bekerja dalam cara yang tidak spektakuler dari luar, tetapi sangat menentukan dari dalam. Sebagaimana dikatakan filsuf kontemporer Charles Taylor, “Yang ilahi sering bekerja di ruang-ruang tersembunyi yang tak kita perhatikan.” Dan Paus Fransiskus pernah mengingatkan: “Allah berjalan di samping kita, tetapi hanya hati yang terjaga dapat melihat-Nya.”

Dalam Injil Lukas, Yesus mengisahkan seorang janda yang tidak lelah memohon keadilan. Janda ini tidak kuat, tidak berpengaruh, tidak punya apa-apa, tetapi ia memiliki satu hal: keteguhan hati untuk tidak menyerah. Ia tidak berhenti mengetuk. Tidak berhenti berharap. Tidak berhenti memohon meski jawaban belum datang.

Dan Yesus menegaskan, jika hakim yang tidak adil saja akhirnya luluh, apalagi Allah yang mengasihi? Namun pertanyaannya menohok kita: “Jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi ini?”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kerajaan Allah Ada Di Antaramu

Ini bukan sekadar pertanyaan retoris; ini pertanyaan yang mengungkap kualitas iman yang sejati. Iman bukan sekadar percaya dalam pikiran, melainkan daya untuk terus bertahan ketika segalanya terasa sunyi. Iman adalah kesetiaan untuk tetap menyalakan pengharapan ketika hidup membawa kita ke “tengah laut” antara ketidakpastian di depan dan luka-luka di belakang.

Saudari dan saudara yang terkasih. Dalam konteks hidup saat ini ketika banyak orang lelah secara batin, mudah kecewa, mudah menyerah, mudah merasa sendiri bacaan hari ini mengajak kita menyalakan kembali kepekaan rohani. Kepekaan untuk melihat bahwa dalam hening, Allah bekerja. Dalam permohonan yang panjang, Allah mendidik hati kita. Dalam perjuangan yang tampak sia-sia, Allah sedang membentuk keteguhan yang akan menopang perjalanan kita.

Kitab Kebijaksanaan menyingkapkan bahwa Allah mampu mengubah apa pun: laut menjadi jalan, angin menjadi pelindung, langit menjadi perisai.

Injil Lukas menunjukkan bagaimana manusia yang tampaknya paling rapuh justru dapat menggerakkan kuasa Allah melalui keteguhan hati. Maka, pesan hari ini jelas bahwa ketika kita setia dalam permohonan dan teguh dalam kepekaan hati, kita menyiapkan ruang agar Allah bertindak dengan cara-Nya yang melampaui perhitungan kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kesetiaan yang Menyatukan

Akhirnya, marilah kita belajar percaya bahwa doa yang sungguh-sungguh tidak pernah hilang; ia menjadi kekuatan yang memecah hening, menembus batas, dan membuka jalan-jalan yang tidak kita sangka. Sebab Allah yang setia kepada Israel pada malam yang sunyi, adalah Allah yang sama yang setia menyertai kita setiap hari.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Kadang Allah tidak menjawab dengan suara, tetapi dengan perubahan perlahan dalam hati kita; dan justru dalam keheningan itulah mukjizat-Nya tumbuh tanpa kita sadari.”

“Iman sejati bukan tentang melihat jalan yang terbentang, tetapi berani melangkah ketika hanya hening yang menemani sebab di sanalah Allah sedang bekerja paling kuat.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan