BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kasih yang Rela ‘Terkutuk’ Demi Sesama
Jumat, 31 Oktober 2025. Hari Biasa Pekan XXX. Roma 9:1-5; Lukas 14:1-6.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARA-saudari terkasih. Kta hidup dalam suatu kehidupan yang kian menuntut efisiensi, hasil, dan semakin menuntut kepastian. Banyak dari kita tergoda untuk menimbang kasih dengan ukuran manfaat, menakar perhatian dengan logika untung-rugi. Kita menolong selama nyaman, kita mengasihi selama sesuai aturan.
Padahal, di balik segala keteraturan hidup yang kita banggakan, ada bahaya yang diam-diam menggerogoti hati kita: hati yang membeku. Hati yang takut berbelas kasih karena khawatir dianggap melanggar “aturan.” Kita lebih sibuk membela sistem daripada menyentuh sesama.
Mendiang Paus Fransiskus pernah mengingatkan, “Gereja bukanlah kantor pajak rahmat, tetapi rumah terbuka bagi setiap orang yang terluka.” Kalimat ini menggugat dan mengguncang kesadaran kita: apakah kasih kita masih punya keberanian untuk menembus batas kenyamanan dan formalitas, seperti yang dilakukan Kristus?
Hari ini, Rasul Paulus menelanjangi kedalaman kasih sejatinya. Ia berseru,: “Aku rela terkutuk dan terpisah dari Kristus, demi saudara-saudaraku.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Membungkam Jaksa Batin, Bernaung di Bawah Sayap-Nya
Ini bukan kalimat puitis! Sebuah pernyataan yang nyaris tak masuk akal. Sebuah ledakan kasih yang gila, bagaimana mungkin seseorang rela kehilangan keselamatannya demi orang lain? Namun di situlah letak keberanian: kasih sejati, kata Paulus, bukan sekadar rasa hangat, tetapi keberanian untuk berkorban tanpa syarat.
Ia mengajarkan bahwa iman tidak berhenti pada keselamatan pribadi, melainkan memuncak dalam solidaritas yang total. Kasih yang rela kehilangan dirinya demi yang lain menjadi puncak dari iman yang sejati.
Injil hari ini pun memperlihatkan Yesus yang menantang kekakuan hati orang Farisi. Ia bertanya dengan nada yang mengguncang: “Siapakah di antara kalian yang anaknya atau lembunya jatuh ke dalam sumur tidak segera menariknya ke luar, meski pada hari Sabat?”
Sebuah pertanyaan yang mematahkan keangkuhan hukum Sabat dengan memprioritaskan hati. Hati yang memiliki asih yang sejati tidak menunda berbuat baik, bahkan ketika aturan tampak melarangnya. Hati yang berbelas kasih tidak menunggu waktu dan tidak mengenal hari libur! Selalu bertindak setiap waktu, karena kasih adalah kepenuhan waktu untuk menghidupkan makna aturan secara benar!
Saudari-saudara terkasih, dua bacaan hari ini berpadu menjadi satu gema yang menyingkapkan satu pesan yang sama bahwa kasih selalu mendahului aturan, karena kasih adalah inti dari hukum itu sendiri.
Seperti kata filsuf Emmanuel Levinas, “Tanggung jawab terhadap sesama mendahului setiap peraturan dan logika.” Artinya, sebelum kita berbicara tentang aturan, kita harus berbicara tentang hati yang mau peduli. Itulah yang Yesus tunjukkan bahwa hidup beriman bukan hanya menaati aturan, tetapi membiarkan hati kita digerakkan oleh belas kasih.
Saudari-saudara terkasih. Di tengah kehidupan kita yang mudah menilai, menghakimi, dan menutup diri, sabda hari ini mengajak kita membuka kembali ruang hati: Apakah saya masih berani mengasihi ketika itu mengganggu kenyamanan saya? Apakah saya rela rugi, rela susah, bahkan rela ‘terkutuk’, demi kebaikan sesama?
Mari kita belajar dari Paulus dan Yesus: kasih sejati tidak mencari alasan untuk berhenti, tetapi selalu menemukan jalan untuk bertindak dan melangkah dengan pasti. Kasih sejati tidak menunggu kondisi ideal, ia bertindak di saat yang sulit.
Karena di hadapan Allah, yang paling suci bukanlah aturan yang kaku, tetapi hati yang berbelas kasih. Sebab hanya kasih yang berani menembus batas, yang membuat hidup ini sungguh-sungguh kudus.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Indentitas Mendahului Tugas
Petikan Butiran Sabda Alla hari in:
“Kasih sejati tidak menimbang dengan akal, tetapi menimbang dengan hati; sebab di hadapan Allah, ukuran kasih bukan seberapa patuh kita pada aturan, melainkan seberapa jauh kita rela terluka demi sesama.”
“Hidup yang kudus bukanlah hidup tanpa cela, melainkan hidup yang berani mengasihi ketika kasih menjadi risiko.”
Tuhan memberkati kita.





