BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Keteguhan Hati di Tengah Tekanan dan Kegelisahan
Sabtu, 29 November 2025. Hari Biasa Pekan XXXIV. Nubuat Daniel 7:15-27; Lukas 21:34-36.
Oleh: Rd Fidelis Dua
SAUDARI-saudara terkasih. Kita semua tentu pernah mengalami tekanan batin yang berkepanjangan, kekhawatiran tentang masa depan yang sering membuat langkah ragu, serta relasi yang terasa rapuh karena tarik-menarik emosi yang ingin saling menguasai. Banyak orang bangun setiap pagi membawa beban yang tak pernah terucapkan, namun menghimpit nurani dengan kuat, seakan hidup berjalan tanpa arah yang pasti. Semua itu bermuara pada kegelisahan yang merembes jauh ke dalam hati.
Filsuf Gabriel Marcel pernah berkata, “Kegelisahan adalah rasa tersesatnya hati karena kehilangan tempat untuk bersandar.” Dan memang demikianlah kenyataannya: ketika hati kehilangan sandaran rohani, harapan pun perlahan surut.
Di sinilah kita mesti berhenti sejenak, kembali menata batin, dan mengarahkan pandangan kepada Tuhan sebab hanya dengan kembali pada sumber pengharapan sejati, hati yang letih dapat menemukan pegangan yang memulihkan keberanian untuk melangkah.
Bacaan pertama menampilkan pergulatan batin Daniel. Ia gemetar melihat kuasa-kuasa yang bergejolak, melambangkan struktur dan kekuatan yang sering menindas dan merusak martabat manusia. Daniel melihat bagaimana kekuatan itu seolah menguasai dan melukai kehidupan. Tetapi penglihatan itu tidak berhenti pada kegelapan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Yang Tak Berubah di Tengah Segala yang Berubah
Di balik semua ancaman, Allah menyingkapkan kenyataan yang lebih dalam: bahwa kuasa jahat tidak diberi kata akhir. “ Orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi akan menerima kerajaan itu dan memilikinya sampai selama-lamanya.” (Dan 7:18). Ayat ini menunjukkan dua hal: pertama, kejahatan bisa menggeliat keras dan merajalela, tetapi tidak berdaulat; kedua, kesetiaan kepada Allah bukan kesia-siaan, tetapi jalan yang berujung pada kemenangan yang dijanjikan.
Dalam Injil, Yesus memberikan peringatan yang sangat manusiawi: “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora, kemabukan, dan kepentingan-kepentingan duniawi.” (Luk 21:34). Tiga hal ini bukan hanya persoalan moral, tetapi simbol dari hati yang kehilangan kesadaran rohani.
Yesus menegaskan bahwa bahaya terbesar bukan hal-hal dari luar, tetapi saat hati menjadi tumpul dan tidak peka. “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa,” kata Yesus, sebab hati yang berjaga adalah hati yang tetap dapat melihat Allah di tengah segala pergolakan.
Saudari dan saudara terkasih, ada saat-saat ketika kita merasa dihimpit dari segala arah: tekanan hidup yang menekan dari luar, dan keletihan batin yang mengikis kekuatan dari dalam. Daniel melihat kekuatan gelap yang menyerbu dari luar; Yesus menyingkap bahaya yang mengeraskan hati dari dalam. Dua sisi ini adalah pengalaman manusia saat ini: tekanan yang datang dari sekitar kita dan kelesuan rohani yang merayap diam-diam dalam diri.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ketika Segalanya Menguncang, Peganglah yang Sejati
Mendiang Paus Fransiskus pernah berkata, “musuh iman bukan hanya penganiayaan, tetapi juga rasa nyaman yang membuat kita tidak lagi mencari Allah.” Kata-kata ini bukan hanya benar, tetapi luar biasa relevan. Banyak orang tidak tumbang karena badai besar, tetapi karena perlahan kehilangan kesadaran rohani, kehilangan kepekaan, kehilangan kewaspadaan dari dalam hati.
Karena itu, Sabda Allah hari ini mengajak kita membangun hidup yang baik, layak, dan spiritual melalui tiga sikap:
Pertama, keberanian untuk tetap memandang Allah sebagai Raja atas sejarah, bahkan ketika keadaan tampak tidak menentu. Ketika kita percaya bahwa Allah memegang akhir dari segala sesuatu, hati kita memperoleh kekuatan untuk tetap berdiri.
Kedua , kejernihan batin untuk menjaga hati agar tidak sarat oleh kepentingan duniawi. Hati yang jernih adalah hati yang mampu mendengar suara Allah, bahkan dalam hiruk-pikuk kehidupan. Ketiga , ketekunan dalam doa. Doa bukan pelarian, tetapi cara untuk menjaga kehadiran Allah tetap menyala dalam diri.
Jika kita memegang tiga sikap ini, maka kepentingan duniawi apapun yang menggoda kita, hati kita tidak akan ditelan oleh kegelisahan. Sebab orang yang berjaga, orang yang berdoa, dan orang yang memandang Allah: dialah yang akan tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Hidup yang Tidak Ditemukan Terlalu Ringan
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Hati yang kehilangan sandaran memang mudah goyah, tetapi hati yang kembali pada Allah tidak akan dibiarkan runtuh oleh kegelisahan.”
“Manusia tidak tumbang oleh goncangan besar, tetapi oleh hati yang perlahan berhenti mencari Allah.”
“Ketika doa menjadi nafas dan Sabda menjadi arah, tidak ada tekanan yang sanggup menelan keberanian kita untuk melangkah.”
Tuhan memberkati kita.
Editor: Eginius Moa





