Senin, 2 Maret 2026. Hari Biasa Pekan II Prapaskah. Nubuat Daniel 9:4b-10; Lukas 6:36-38.

Oleh: Rd.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih, seperti peribahasa mengatakan ”air yang kotor tak mungkin memantulkan wajah dengan jernih.” Demikian pula hati yang penuh luka dan kepahitan pun sulit memantulkan wajah Allah yang penuh belas kasih.

Bacaan hari ini mengajak kita bercermin pada kasih Allah. Dalam nubuat Daniel kita mendengar pengakuan yang jujur dari Bangsa Israel: ”kami telah berbuat dosa dan salah; kami telah berlaku fasik dan memberontak; kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu.”

Namun di tengah pengakuan yang pahit ini, Allah tidak berhenti mengasihi. Dosa diakui tetapi belas kasih Allah jauh lebih besar. Allah tetap setia walau manusia tidak setia.

Di sinilah kita ditantang untuk dibentuk menjadi pribadi yang jujur rendah hati dan terbuka terhadap kasih Allah. Dari cermin Sabda ini, kita diajak melihat hidup kita sendiri.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Puncak Terang Menuju Lembah Salib

Saudari dan saudara terkasih, kejujuran Bangsa Israel mengajarkan kita untuk jujur pada diri sendiri. Kita tidak perlu takut mengakui dosa karena Allah lebih dahulu menawarkan pengampunan. Namun dalam kenyataan hidup, sering kali kita enggan bercermin pada hati sendiri.

Kesempatan merayakan Sakramen Tobat sering dilewati begitu saja, banyak orang tidak datang, seolah merasa baik-baik saja. Anehnya, saat perayaan Paskah tiba, gereja penuh sesak. Kita rindu sukacita Paskah, tetapi lupa bahwa jalan menuju Paskah selalu dimulai dari kejujuran dan keberanian untuk bertobat dan merima pengampunan. Kejujuran batin ini kemudian diperdalam oleh Sabda Yesus hari ini.

Saudari dan saudara terkasih, Yesus hari ini memberi arah yang sederhana sekaligus menantang: ”hendaklah kamu berbelas kasih seperti Bapamu adalah belas kasih.”

Sabda ini mengingatkan kita bahwa seperti Bapa yang penuh belas kasih yang memeluk orang berdosa, mengampuni yang jatuh, dan memberi kesempatan untuk bangkit lagi ketika terjebak dalam tobat sesaat lalu kembali mengulang dosa yang sama, kita pun diajak berhenti berputar di tempat yang sama dan mengizinkan belas kasih Allah mengubah arah langkah hidup kita untuk juga berbelas kasih kepada sesama.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Setia dengan Segenap Hati, Mengasihi Tanpa Pilih Kasih

Dalam lingkaran jatuh, menyesal, lalu jatuh lagi itu, kita tidak dipanggil untuk menghakimi dan menghukum sesama dengan ukuran tertentu. ”Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu.”

Di rumah, di tempat kerja, di jalan raya kita mudah menghakimi sebelum mendengar. Kita cepat menutup pintu pengertian sebelum membuka hati untuk memahami.

Ingat, ukuran yang kita pakai untuk orang lain akan kembali kepada kita. Karena itu belajarlah untuk berbelas kasih dengan murah hati sebagaimana Bapamu adalah murah hati. Arah hidup baru ini hanya mungkin bila kita berani pulang kepada belas kasih Allah.

Mari, pulang kepada kasih Allah. Bukan dengan menuding orang lain, tetapi dengan berani berkata di hadapan Tuhan: ”aku telah menyimpang dan berdosa.” Pengakuan ini bukan melemahkan, justru memerdekakan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Kefasikan Hati Menuju Damai Sejati

Saat kita berhenti membela diri, tidak menghakimi sesama, dan mulai bertobat, kita memberi Allah ruang untuk menata ulang arah hidup kita. Allah tidak menunggu kita sempurna untuk mengampuni dosa kita, tetapi mengampuni kita supaya kita berani berubah.

Petikan BUSA-H hari ini:

”Hati yang jujur dan rendah hati akan memantulkan wajah Allah lebih jernih daripada hati yang menutup diri dalam dosa.”

”Sakramen Tobat bukan tempat orang suci mempertahankan citra diri, melainkan pintu orang berdosa pulang untuk menerima pengampunan dan hidup yang baru.”

Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah-Harian) Meminta, Mencari, Mengetuk: Jalan Pulang di Masa Prapaskah

”Siapa yang belajar berbelas kasih akan berhenti menghakimi, dan siapa yang berhenti menghakimi sedang membuka hatinya untuk diubah oleh belas kasih Allah.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan