BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tabor Bukan Tujuan Akhir
Kamis, 06 Agustus 2026. Pesta Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. Nubuat Daniel 7:9-10.13-14; Surat Kedua Rasul Petrus 1:16-19; Matius 17:1-9.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih, “Orang yang melihat hidup hanya dengan mata akan mudah dikuasai ketakutan, tetapi orang yang memandang dengan iman akan selalu menemukan harapan.”
Hati kita menjadi semakin letih apabila pandangan lebih tertuju pada beratnya persoalan daripada pada kehadiran Allah yang senantiasa menyertai.
Bacaan Kitab Suci mengingatkan bahwa kehidupan tidak ditentukan oleh besarnya tantangan, melainkan oleh siapa yang menjadi pusat kehidupan kita.
Nabi Daniel memandang Anak Manusia yang menerima kuasa, kemuliaan, dan kerajaan yang kekal. Rasul Petrus memberi kesaksian bahwa ia tidak mengikuti dongeng buatan manusia, melainkan menyaksikan sendiri kemuliaan Kristus.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kasih yang Tidak Pernah Menyerah
Injil kemudian menampilkan Yesus yang wajah-Nya bercahaya seperti matahari. Semuanya menegaskan bahwa Kristus adalah Tuhan yang mulia, yang tetap memegang kendali atas kehidupan kita, sekalipun keadaan sering tampak tidak menentu.
Keyakinan akan kemuliaan Kristus tidak berhenti pada kekaguman seperti yang dialami Petrus, Yakobus, dan Yohanes ketika berkata, “Betapa bahagianya kami berada di tempat ini.”
Kemuliaan yang dinyatakan Yesus di Gunung Tabor bukanlah tujuan akhir, melainkan penguatan untuk memasuki jalan salib. Dengan kata lain, Tabor mempersiapkan para murid untuk memahami Golgota, dan Golgota membuka jalan menuju kemuliaan kebangkitan.
Itulah sebabnya Yesus berpesan, “Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Saat Allah Menjernihkan Hati
Pengalaman akan kemuliaan Kristus tidak dimaksudkan agar para murid menetap di atas gunung, melainkan agar mereka memiliki kekuatan untuk turun kembali menghadapi kenyataan hidup dengan iman yang lebih teguh. Sebab di atas gunung itu Bapa sendiri menunjukkan arah hidup para murid melalui satu perintah yang sederhana, tetapi menentukan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi… dengarkanlah Dia.”
Kemuliaan Kristus tidak akan mengubah hidup hanya karena dikagumi, melainkan karena Sabda-Nya didengarkan, dipercaya, dan dilaksanakan dalam setiap keputusan hidup. Betapa sering kita berharap Allah segera mengubah keadaan yang berat, padahal yang pertama-tama diubah-Nya ialah hati kita agar mampu memikul salib dengan pengharapan.
Sebab dalam iman Kristiani, Tabor memberi kekuatan untuk menghadapi Golgota, dan Golgota selalu membuka jalan menuju kemuliaan kebangkitan.
Dari permenungan ini, marilah kita terus mengarahkan pandangan kepada Kristus yang dimuliakan. Jangan membiarkan hati lebih dikuasai oleh ketakutan daripada oleh iman, atau lebih terpikat oleh persoalan daripada oleh kehadiran Tuhan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Biarkan Keraguan Menenggelamkan Iman
Sebaliknya, peliharalah doa yang tekun, kesetiaan dalam tanggung jawab, dan pengharapan yang tidak mudah padam. Setiap kali beban hidup terasa berat, dengarkan kembali suara Yesus yang berkata, “Berdirilah, jangan takut!”
Sebab orang yang tetap memandang kepada Kristus akan menemukan terang di tengah kegelapan, kekuatan di tengah kelemahan, dan pengharapan di tengah segala ketidakpastian.
Pada akhirnya, kemuliaan yang disaksikan para murid di atas gunung bukanlah untuk dikagumi dari kejauhan, melainkan untuk menjadi terang yang menuntun setiap langkah kita sampai semakin serupa dengan Kristus yang memanggil, menyertai, dan menyelamatkan.
Petikan BUSA-H #06/08/2026
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kecukupan Ada dalam Hati yang Percaya
”Kemuliaan Kristus tidak diberikan agar kita berhenti mengagumi-Nya, melainkan agar kita memiliki kekuatan untuk memikul salib dengan iman dan pengharapan.”
”Orang yang terus memandang kepada Kristus akan selalu menemukan terang yang lebih kuat daripada kegelapan, pengharapan yang lebih besar daripada ketakutan, dan damai yang tidak dapat dirampas oleh keadaan.”
”Tabor mengajarkan kita untuk mendengarkan Kristus, Golgota mengajarkan kita untuk tetap setia kepada-Nya, dan kebangkitan meneguhkan bahwa pengharapan kepada-Nya tidak pernah sia-sia.”
”Allah tidak selalu segera mengubah keadaan yang kita hadapi, tetapi Ia selalu lebih dahulu mengubah hati yang mau mendengarkan Sabda-Nya agar mampu berjalan dengan setia sampai kepada kemuliaan bersama Kristus.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





