BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Di Sumur Kehidupan Tuhan Menjumpai Hati yang Haus
Minggu 8 Maret 2026. Hari Minggu Prapaskah III. Keluaran 17:3-7; Roma 5:1-2.5-8; Yohanes 4:5-42
Oleh:Rd.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih, ada ungkapan yang mengatakan bahwa lebih mudah menahan lapar daripada menahan haus. Karena itu ketika kehausan, orang pasti segera mencari air. Namun manusia bukan hanya haus akan air yang memuaskan dahaga tubuh, melainkan juga haus akan air yang menyegarkan hati dan jiwa. Air apakah itu? Atau di manakah sumber airnya?
Di sinilah manusia mulai mencari Tuhan, sumber air hidup ketika hati terasa gersang, gundah, dan kehilangan makna. Sering kali manusia baru mencari Tuhan ketika hidup terasa kering dan penuh kegelisahan.
Di balik keberhasilan dan kesibukan hidup, sering tersembunyi hati yang haus akan makna hidup, haus akan pengharapan, dan haus akan kasih yang sejati.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita kembali melihat sumber air kehidupan yang sejati, yakni Tuhan sendiri yang mampu memuaskan dahaga terdalam hati manusia.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Rumah yang Selalu Menanti Kepulangan
Lantas, manakah kehausan yang paling kita rasakan saat ini? Hari ini kita akan melihat bagaimana Tuhan sendiri menjumpai manusia yang haus itu dan menuntunnya kepada sumber air kehidupan.
Dalam bacaan pertama kita mendengar keluhan bangsa Israel di padang gurun. Mereka berkata, “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir untuk membunuh kami, anak-anak dan ternak kami dengan kehausan.”
Kehausan adalah rasa yang paling mencekam. Orang masih dapat bertahan beberapa waktu tanpa makanan, tetapi kehausan segera membuat tubuh menjadi lemah dan hati menjadi putus asa.
Karena itulah bangsa Israel berseru-seru dan bahkan hendak melempari Musa dengan batu. Dalam ketakutan dan keputusasaan mereka mulai meragukan Tuhan dan berkata dalam hati, “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iri Hati yang Membunuh Persaudaraan
Memang ketika manusia tidak memperoleh apa yang diinginkannya, sering kali orang lain yang disalahkan dan dijadikan kambing hitam, bahkan Tuhan pun ikut dipersalahkan. Namun Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya. Ia berkata kepada Musa bahwa Ia akan berdiri di atas gunung batu di Horeb. Musa diminta memukul batu itu dan dari dalamnya keluar air sehingga bangsa itu dapat minum.Dari batu yang keras Tuhan menghadirkan air kehidupan.
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa Tuhan mampu menghadirkan harapan bahkan dari tempat yang paling tidak kita duga. Ketika hati manusia mulai putus asa dan mempertanyakan kehadiran Tuhan, justru di saat itulah Tuhan mampu mengetuk batu kekerasan dalam diri manusia dan mengubahnya menjadi sumber kehidupan yang baru.
Saudari dan saudara terkasih, keyakinan akan kehadiran Tuhan ini ditegaskan kembali oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma. Ia mengatakan bahwa kita yang dibenarkan karena iman hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita Yesus Kristus.
Melalui Dia, kita memperoleh jalan masuk ke dalam kasih karunia Allah dan berdiri dalam pengharapan akan kemuliaan-Nya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Di Mana Hatimu Bersandar, Di Situlah Keabadianmu Bertunas
Paulus menegaskan bahwa pengharapan tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus. Bukti terbesar dari kasih itu adalah Kristus yang rela mati bagi kita ketika kita masih berdosa. Karena itu pengharapan orang beriman tidak pernah sia-sia. Bahkan ketika kita masih berdosa, Kristus sudah lebih dahulu mengasihi dan menyerahkan hidup-Nya bagi kita.
Jika demikian, mengapa kita masih ragu bahwa kasih Allah selalu menyertai hidup kita. Kasih Allah tidak menunggu kita menjadi baik terlebih dahulu untuk menyertai kita. Kasih itu sudah lebih dahulu hadir, setia, dan tidak pernah meninggalkan kita.
Saudari dan saudara terkasih, kasih Allah yang tidak pernah meninggalkan manusia, kini kita lihat dalam Injil hari ini, ketika Yesus sendiri datang mencari seorang perempuan Samaria yang hatinya haus dan menawarkan kepadanya air hidup yang memuaskan dahaga terdalam hati manusia.
Injil hari ini memperlihatkan dengan sangat indah bagaimana Yesus menjumpai manusia yang haus akan kasih dan kebenaran. Di tepi sumur Yakub, Yesus berkata kepada perempuan Samaria itu, “Berilah Aku minum.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Besar Karena Melayani Bukan Dilayani
Permintaan yang sederhana ini membuka percakapan yang perlahan mengubah hidup perempuan itu. Ia heran karena seorang Yahudi berbicara dengan seorang Samaria. Namun Yesus menyingkapkan sesuatu yang jauh lebih dalam ketika Ia berkata, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu ‘Berilah Aku minum’, niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia akan memberikan kepadamu air hidup.”
Perempuan Samaria itu pada awalnya hanya memikirkan air biasa yang dapat menghilangkan dahaga tubuh. Namun Yesus sedang berbicara tentang air yang jauh lebih dalam, yaitu air hidup yang memuaskan dahaga jiwa manusia. Air hidup itu adalah kasih Allah yang menghidupkan kembali hati yang kering, mengampuni dosa, dan memberikan harapan baru.
Di sini kita melihat bahwa Yesus mengenal betul luka dan kehausan terdalam dalam hidup manusia. Ia tahu bahwa perempuan itu telah mencari kebahagiaan ke mana-mana, tetapi tidak pernah menemukan kepenuhan. Karena itu Yesus menuntunnya perlahan untuk mengenal sumber air kehidupan yang sejati.
Pertemuan itu akhirnya mengubah hidup perempuan itu. Ia meninggalkan tempayannya dan berlari ke kota untuk bersaksi tentang Yesus. Hati yang telah menemukan air hidup tidak dapat lagi menyimpannya hanya untuk diri sendiri.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berhentilah Berbuat Jahat dan Belajarlah Berbuat Baik
Saudari dan saudara terkasih, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur tentang kehausan dalam hidup kita. Banyak orang tampak kuat di luar tetapi hatinya kering di dalam. Kita mencari kepuasan dalam harta, kedudukan, atau pujian manusia tetapi semua itu tidak pernah benar-benar memuaskan. Hanya Tuhan yang mampu memberi air hidup yang menyegarkan jiwa dan memberi damai yang sejati.
Masa Prapaskah adalah saat yang indah untuk kembali ke sumber air kehidupan itu. Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang terbuka. Biarkan Ia menyentuh hati kita yang lelah dan haus. Sebab siapa pun yang datang kepada Kristus tidak akan dibiarkan haus.
Dari hati yang dipenuhi kasih Tuhan akan mengalir air kehidupan yang menyegarkan diri kita dan juga orang-orang di sekitar kita. Sebab hanya hati yang minum dari sumber kasih Tuhan yang mampu menjadi mata air pengharapan bagi dunia dan sesama.
Petikan BUSA-H hari ini:
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bercermin pada Belas Kasih Allah
“Manusia boleh sibuk mencari banyak hal untuk memuaskan hidupnya, tetapi hanya Tuhan yang mampu memuaskan dahaga terdalam hatinya.”
“Ketika manusia meragukan Tuhan di padang gurun hidupnya saat kehausan, Tuhan justru memancarkan air dari batu yang keras.”
“Kasih Allah tidak menunggu kita menjadi baik untuk datang kepada-Nya, sebab ketika kita masih berdosa Kristus sudah lebih dahulu mencari dan mengasihi kita.”
”Manusia mencari banyak sumur di dunia, tetapi hanya Yesus di sumur kehidupan yang menjumpai hati yang haus dan memberi air hidup yang memuaskan jiwa.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Puncak Terang Menuju Lembah Salib
“Hati yang menemukan air hidup dari Kristus tidak hanya dipuaskan, tetapi berubah menjadi mata air pengharapan bagi sesama.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





