Rabu, 27 Mei 2026. Hari Biasa Pekan VIII. Surat Pertama Rasul Petrus 1:18-25; Markus 10:32-45
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara yang terkasih. Dalam Ensiklik Magnifica Humanitas, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa bahaya besar zaman ini bukan terutama kecerdasan buatan atau kemajuan teknologi itu sendiri, melainkan ketika manusia perlahan kehilangan pusat hidupnya.
Paus menegaskan bahwa manusia tidak boleh direduksi menjadi angka, data, atau alat bagi kepentingan tertentu; manusia harus tetap dipandang sebagai pribadi yang bermartabat dan dicintai Allah.
Ia mengingatkan bahwa dunia modern dapat membuat manusia semakin terhubung, tetapi sekaligus semakin asing terhadap dirinya sendiri.
Pertanyaan mendasarnya bukanlah “Apa yang sedang kita bangun?” melainkan “Sedang menjadi manusia seperti apakah kita?”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berhenti Menghitung Mulailah Menjadi
Banyak orang bukan kehilangan Tuhan, melainkan perlahan melupakan siapa dirinya di hadapan Tuhan. Kesibukan, ambisi, pencapaian, dan tuntutan hidup sering membuat manusia lupa bahwa dirinya lebih dahulu dicintai dan diselamatkan oleh Allah.
Surat Rasul Petrus mengingatkan kita agar tidak melupakan harga keselamatan yang telah dibayar bagi kita. Rasul Petrus berkata bahwa kita ditebus bukan dengan emas atau perak, melainkan dengan darah Kristus yang mahal.
Artinya, hidup kita memiliki nilai yang sangat besar di hadapan Allah. Dunia sering menilai manusia berdasarkan jabatan, prestasi, pengikut, popularitas, atau apa yang dimilikinya. Namun Tuhan melihat lebih dalam.
Nilai hidup kita bukan terletak pada apa yang kita punya, melainkan pada kasih Allah yang telah lebih dahulu menebus kita. Segala sesuatu dapat berlalu, rumput layu dan bunga gugur, tetapi Firman Tuhan tetap tinggal selama-lamanya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Dari Persembunyian Eden Menuju Pelukan Bunda
Karena itu, orang yang mengingat kasih Allah tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri, tetapi hidup sebagai jawaban atas kasih yang telah menyelamatkannya.
Injil hari ini memperlihatkan sesuatu yang sangat manusiawi. Ketika Yesus sedang berjalan menuju Yerusalem dan menuju penderitaan-Nya, para murid justru sibuk memikirkan siapa yang terbesar di antara mereka. Mereka mulai lupa siapa diri mereka dan untuk apa mereka dipanggil.
Di tengah perjalanan menuju salib, mereka masih memikirkan kedudukan. Namun Yesus membalik cara berpikir itu dengan berkata bahwa kebesaran sejati bukanlah soal kehormatan, melainkan pelayanan.
Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya bagi banyak orang.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Pentakosta: Membakar Dosa, Menyalakan Rahmat
Sering kali kita pun terjebak pada hal yang sama. Kita ingin diakui, dihargai, dan dianggap penting. Padahal semakin seseorang dekat dengan Kristus, semakin ia belajar menjadi kecil agar kasih Tuhan semakin besar.
Saudari dan saudara yang terkasih, Sabda Tuhan mengajak kita untuk tidak kehilangan ingatan rohani. Jangan lupa siapa diri kita di hadapan Tuhan. Sebab ketika manusia lupa dirinya sebagai anak-anak Allah, ia mulai mengejar hal-hal yang sementara; tetapi ketika manusia mengingat dirinya sebagai pribadi yang ditebus dan dicintai Allah, ia menemukan kembali arah hidupnya.
Marilah kita berhenti bertanya, “Seberapa besar saya di mata orang lain?” dan mulai bertanya, “Seberapa besar kasih Tuhan telah hidup melalui diri saya?”
Sebab pada akhirnya, hidup tidak diukur dari seberapa tinggi kita berdiri, melainkan dari seberapa dalam kita mampu merendahkan diri untuk mengasihi dan melayani.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Apa Urusanmu? Ikutilah Aku
Petikan BUSA-H untuk kita #27/05/26:
”Darah Kristus telah memberi nilai pada hidup kita; jangan biarkan dunia menentukan harga diri kita.”
”Kita mungkin dikenal oleh banyak orang, tetapi yang lebih penting adalah jangan sampai kita menjadi asing terhadap diri sendiri di hadapan Tuhan.”
”Pada akhirnya hidup tidak diukur dari seberapa tinggi kita berdiri, tetapi dari seberapa dalam kita merendahkan diri untuk mengasihi dan melayani.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





