Oleh: Very Awales
Alumnus IFTK Ledalero Maumere/ Umat Paroki Roh Kudus Nelle

MINGGU, 7 Juni 2026, ribuan anak di Keuskupan Maumere menerima Komuni Suci Pertama bertepatan dengan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus.

Bagi sebagian orang, hari itu mungkin hanya terlihat sebagai sebuah perayaan Gereja yang rutin berlangsung setiap tahun. Namun bagi seorang anak Katolik, hari itu adalah salah satu peristiwa paling penting dalam hidup imannya.

Untuk pertama kalinya ia menyambut Tubuh dan Darah Kristus. Untuk pertama kalinya ia menerima Yesus sendiri dalam Sakramen Ekaristi. Untuk pertama kalinya ia mengalami persatuan yang lebih intim dengan Kristus yang menjadi sumber kehidupan dan keselamatan.

Karena itu, tradisi “Sambut Baru” yang hidup di tengah umat kita sesungguhnya memiliki makna yang sangat mendalam. Sambut Baru bukan sekadar pesta keluarga, bukan ajang pamer kemewahan, pamer sound system,pamer dekorasi dan bukan pula soal besar kecilnya biaya yang dikeluarkan. Sambut Baru pada hakikatnya adalah ungkapan syukur.

Syukur karena seorang anak telah mencapai tahap penting dalam perjalanan imannya. Syukur karena Tuhan berkenan memberikan diri-Nya kepada anak tersebut dalam Sakramen Ekaristi. Syukur karena keluarga telah mengantar dan mendampingi anak hingga layak menerima Komuni Suci Pertama.

Dalam tradisi Gereja Katolik, Ekaristi adalah sakramen yang paling luhur. Tidak ada hadiah yang lebih besar daripada Kristus sendiri yang datang dan tinggal dalam diri manusia. Ketika seorang anak menerima hosti suci, yang diterimanya bukanlah sekadar roti, melainkan Kristus yang hidup. Ia menerima Tubuh dan Darah Kristus, Jiwa dan Keallahan-Nya. Sebuah rahmat yang tak ternilai harganya.

Oleh sebab itu, jika keluarga mengadakan Sambut Baru sebagai bentuk syukur, hal itu adalah sesuatu yang baik dan patut dipertahankan. Namun makna syukur itu hendaknya jangan sampai tenggelam dalam kemeriahan pesta. Jangan sampai perhatian lebih tertuju pada menu makanan, dekorasi, sound system, pakaian, atau jumlah tamu, sementara makna rohani dari Komuni Pertama justru terlupakan. Kalau fokus kita adalah ajang pamer-pameran maka itu salah besar.

Pesta yang paling indah bukanlah pesta yang paling mahal, melainkan pesta yang lahir dari hati yang bersyukur. Sebab inti dari Sambut Baru bukanlah apa yang disajikan di meja, tetapi apa yang telah diterima di altar suci.

Bahkan dalam kesederhanaan sekalipun, sebuah keluarga dapat merayakan Sambut Baru dengan penuh sukacita karena yang dirayakan bukan kekayaan keluarga, melainkan kasih Allah. Yang dirayakan bukan keberhasilan manusia, melainkan rahmat Tuhan.

Mungkin inilah yang perlu terus diingat oleh kita semua. Ketika anak-anak mengenakan pakaian putih dan maju menerima Komuni Pertama, sesungguhnya mereka sedang menyatakan kerinduan untuk hidup bersama Kristus. Ketika keluarga mengadakan Sambut Baru, mereka sedang menyatakan rasa syukur karena Kristus telah berkenan masuk dan tinggal dalam diri anak mereka.

Karena itu, setelah pesta berakhir, ada tugas yang jauh lebih besar. Orang tua harus terus membimbing anak untuk mencintai Ekaristi, setia mengikuti misa, rajin berdoa, dan hidup menurut ajaran Kristus. Sebab Komuni Pertama bukanlah akhir dari perjalanan iman, melainkan awal dari persahabatan yang semakin mendalam dengan Yesus.

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengajarkan kepada kita bahwa Allah tidak hanya mengunjungi manusia, tetapi memberikan diri-Nya sepenuhnya kepada manusia. Maka ketika seorang anak untuk pertama kalinya menyambut Tubuh dan Darah Kristus, seluruh keluarga memang pantas bersukacita dan bersyukur.

Sambut Baru pada akhirnya bukan sekadar perayaan karena seorang anak menerima Komuni Pertama. Sambut Baru adalah perayaan syukur karena Kristus sendiri telah datang, hadir, dan menyatu dengan hidup anak itu. Dan tidak ada sukacita yang lebih besar bagi seorang Katolik selain menerima Kristus dan membiarkan Kristus hidup dalam dirinya.

Selamat merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Selamat pesta sambut Baru bagi 5.300 anak di Keuskupan Maumere, semoga Ekaristi yang kita sambut menjadikan kita semakin serupa dengan Kristus yang kita terima. *

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan