Hitung-Hitungan Sambut Baru:Kesadaran yang Terlambat

Fransisco Soares Pati,S.H. (dok dewadet.com)

Oleh: Fransisco Soarez Pati

DATA  calon Komuni Pertama Keuskupan Maumere (KUM) 2026 menunjukkan angka yang tidak kecil. Sebanyak 5.359 anak dari 42 paroki akan menerima Komuni Suci Pertama tahun ini. Di balik angka tersebut ada ribuan keluarga yang sedang mempersiapkan salah satu peristiwa penting dalam kehidupan iman anak-anak mereka.

Dalam beberapa waktu terakhir, Sambut Baru kembali menjadi bahan perbincangan publik. Berbagai pihak mulai menghitung biaya yang dikeluarkan keluarga, potensi perputaran uang yang terjadi, hingga dampaknya terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Ada yang mempertanyakan kemegahan pesta. Ada yang mengkritik tenda besar, dekorasi, lampu-lampu yang menghiasi halaman rumah, hiburan, dan berbagai bentuk perayaan yang dianggap berlebihan.

Refleksi semacam itu tentu penting. Tidak ada tradisi yang kebal terhadap evaluasi. Tidak ada budaya yang tidak boleh dikritisi. Namun yang menarik adalah bahwa kesadaran untuk menghitung Sambut Baru justru muncul setelah tradisi itu berlangsung selama puluhan bahkan ratusan tahun dalam kehidupan masyarakat Flores.

Yang lebih menarik lagi, sebagian suara yang hari ini paling lantang menghitung biaya Sambut Baru justru berasal dari generasi yang pada masanya juga turut merayakan Sambut Baru dengan berbagai bentuk seremonial, pesta keluarga, jamuan makan, dan tradisi sosial yang tidak jauh berbeda. Mereka pernah berada dalam lingkaran budaya yang sama, menikmati suasana yang sama, bahkan menjadi bagian dari perayaan-perayaan yang kini mereka kritik.

Tentu tidak ada yang salah dengan perubahan pandangan. Setiap zaman memiliki tantangan dan kesadarannya sendiri. Namun akan menjadi tidak adil apabila tradisi yang dahulu diterima sebagai bagian dari kehidupan sosial tiba-tiba diposisikan sebagai sumber persoalan tanpa melihat konteks yang lebih luas.

Sambut Baru bukanlah pesta yang muncul karena tren media sosial atau budaya konsumtif zaman modern. Jauh sebelum Flores menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, tradisi ini telah hidup dalam masyarakat Katolik Flores sebagai bentuk ungkapan syukur atas penerimaan Sakramen Ekaristi pertama. Dalam perjalanannya, tradisi tersebut kemudian berjumpa dengan budaya lokal yang sangat menekankan nilai kekeluargaan, kebersamaan, dan solidaritas sosial.

Karena itu, bagi banyak keluarga Flores, Sambut Baru tidak pernah dipahami semata-mata sebagai acara gerejawi. Ia juga merupakan peristiwa keluarga dan komunitas. Kerabat yang tinggal jauh pulang kampung. Saudara yang merantau datang berkumpul. Hubungan kekeluargaan diperkuat. Persaudaraan dipelihara. Dalam konteks budaya Flores, dimensi sosial seperti ini memiliki nilai yang tidak kalah penting.

Persoalannya bukan terletak pada Sambut Baru itu sendiri. Persoalannya muncul ketika makna syukur mulai bergeser menjadi persaingan sosial. Ketika kemampuan ekonomi keluarga tidak lagi menjadi ukuran utama. Ketika gengsi mulai mengambil tempat yang seharusnya diisi oleh kesederhanaan.

Namun kesalahan semacam itu tidak dapat dibebankan kepada seluruh tradisi. Sama seperti kita tidak dapat menyalahkan sebuah jalan karena ada pengendara yang melanggar aturan, kita juga tidak dapat menyalahkan Sambut Baru hanya karena ada sebagian orang yang merayakannya secara berlebihan.

Sayangnya, dalam berbagai diskusi publik, yang sering muncul justru generalisasi. Satu atau dua kasus dijadikan gambaran seluruh masyarakat. Beberapa keluarga yang berutang dianggap mewakili semua keluarga. Beberapa pesta yang berlebihan dijadikan ukuran bagi seluruh tradisi Sambut Baru.

Cara pandang seperti itu tidak berpijak pada realitas sosial masyarakat Flores yang sesungguhnya. Faktanya, sebagian besar keluarga tetap merayakan Sambut Baru sesuai kemampuan mereka. Ada yang sederhana. Ada yang mengadakan syukuran kecil bersama keluarga. Ada yang hanya menyediakan hidangan secukupnya. Namun kisah-kisah seperti itu jarang menjadi bahan pembicaraan karena tidak dianggap menarik.

Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah sikap menghakimi, melainkan sikap reflektif. Jika dahulu masyarakat dapat merayakan Sambut Baru dengan cara tertentu, sementara hari ini muncul kesadaran baru tentang kesederhanaan dan kemampuan ekonomi keluarga, maka yang perlu dibangun adalah dialog antargenerasi, bukan saling menyalahkan.

Sebab pada hakikatnya, persoalan utama bukan terletak pada Sambut Baru itu sendiri. Sambut Baru hanyalah wadah. Yang menentukan adalah bagaimana masyarakat menghayati dan merayakannya. Tradisi yang sama dapat menjadi ungkapan syukur yang indah, tetapi juga dapat berubah menjadi beban apabila kehilangan keseimbangan dan makna dasarnya.

Padahal jika melihat angka 5.359 calon Komuni Pertama tahun 2026, yang seharusnya pertama-tama dilihat bukanlah potensi biaya yang akan dikeluarkan. Yang seharusnya dilihat adalah ribuan anak yang sedang dipersiapkan untuk menerima Sakramen Mahakudus. Ada ribuan keluarga yang masih menempatkan iman sebagai bagian penting dari kehidupan mereka. Ada ribuan orang tua yang masih mendampingi anak-anak mereka bertumbuh dalam kehidupan menggereja.

Perspektif inilah yang sering hilang ketika perdebatan hanya berpusat pada angka dan pengeluaran.

Tentu masyarakat perlu terus didorong untuk merayakan Sambut Baru secara bijaksana dan sesuai kemampuan. Gereja pun memiliki peran penting untuk mengingatkan umat agar tidak terjebak dalam kemewahan yang berlebihan. Namun upaya itu sebaiknya dilakukan dengan membangun kesadaran, bukan dengan menyalahkan tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat selama berabad-abad.

Ironisnya, kesadaran untuk menyederhanakan perayaan sering muncul setelah seseorang tidak lagi berada pada fase itu. Ketika anak-anak mereka telah menerima Komuni Pertama, ketika pesta keluarga telah selesai dilaksanakan, atau ketika mereka sendiri pernah menikmati kemeriahan yang sama. Di situlah muncul pertanyaan: mengapa kesadaran itu tidak lahir lebih awal, ketika mereka sendiri masih menjadi bagian dari tradisi tersebut?

Di situlah letak paradoksnya. Kita mulai menghitung ketika semuanya sudah terjadi. Kita mulai mengingatkan ketika giliran kita telah lewat. Kita mulai berbicara tentang kesederhanaan setelah pernah menikmati kemeriahan yang sama.

Mungkin karena itulah berbagai perdebatan mengenai Sambut Baru hari ini terasa seperti sebuah kesadaran yang datang terlambat.

Padahal yang dibutuhkan masyarakat bukanlah sekadar hitung-hitungan biaya, melainkan kesadaran sejak awal bahwa iman tidak diukur dari besarnya tenda, mahalnya dekorasi, atau banyaknya tamu yang hadir. Iman diukur dari makna yang dihayati.

Sambut Baru akan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Flores. Yang perlu dijaga bukan sekadar tradisinya, tetapi juga keseimbangan antara sakramen dan budaya, antara syukur dan kesederhanaan, antara perayaan dan kemampuan.

Sebab pada akhirnya, Sambut Baru bukan hanya tentang pesta. Ia adalah perjumpaan antara iman, keluarga, dan budaya yang telah hidup lama dalam perjalanan masyarakat Flores. Dan seperti semua warisan budaya yang hidup, ia membutuhkan kebijaksanaan untuk merawatnya, bukan sekadar angka untuk menghitungnya.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan