Raja Don Thomas: Legacy Satu Sen dari Sekilogram Kopra Berharga Mencerdaskan Warga Sikka
MAUMERE,dewadet.com-Kunjungan ke Pulau Jawa dan tukar pikiran dengan tokoh-tokoh pejuang nasional kala itu, selepas Perang Dunia II, Raja Sikka, Yosephus Don Thomas Ximenes da Silva, punya keinginan besar memajukan rakyat Sikka melalui karya pendidikan.
Mewujudkan gagasan ini, Raja Thomas berembuk dengan para pemimpin dan pemuka masyarakat. Ia bicara dengan para guru di Lela, Frederik Jati, Pieter Pedor, Frans Dodik Parera, Sebastianus Parera, Mauritsius Mandalangi Pareira, dan lain-lain. Mereka tergolong para elite masa itu.
Raja Don Thomas juga konsultasi dengan Missie Katolik, P. C. Molenaar SVD dari Seminari Tinggi Ledalero dan P.P. Hooiveld SVD, Deken Maumere.
Dengan dukungan para kapitan, Don Thomas memprakarsai berdirinya Yayasan Pendidikan Thomas, disingkat Yapenthom, pada tanggal 1 Mei 1947. Terungkap dalam kata pendahuluan Anggaran Dasarnya, tujuannya antara lain: “Melihat suasana kemasyarakatan Indonesia di masa ini, teristimewa memperhatikan tingkat kemajuan penduduk di wilayah Swapraja Sikka, perlu diadakan usaha-usaha untuk mempertinggi kemajuan ilmu-ilmu pengetahuan yang sangat dibutuhkan untuk pembangunan Nusa dan Bangsa…………….. ”
Baca juga:Yapenthom Rayakan HUT ke-79, Sekolah Pertama di Sikka Didirikan Raja Sikka
Anggaran Dasar ini disusun pada tanggal 18 Agustus 1951 oleh pemuda Ben Mang Reng Say (ketika itu sebagai seorang pelajar di Makasar, berusia 23 tahun) dan ditandatangani oleh para Pendirinya.
Para Pendiri Yapenthom itu juga menjadi Anggota Badan Pengurus untuk pertama kalinya (1 Mei 1947 sampai dengan 28 Oktober 1953), yaitu: Mereka adalah Ketua/Promotor : Don Josephus Thomas Ximenes da Silva, Wakil Ketua : Don Paulus Centis Ximenes da Silva. Panitera I : Don Josephus Daniel Ximenes da Silva, Panitera II : Ignatius Paulus Pau. Bendahara I : Edmundus da Silva. Bendahara II : Joseph Lambertus Nong Selong Pareira. Pembantu Umum: Paulus Pius Pora. Seksi Penerangan: Sebastianus Parera. Seksi Keuangan : Philipus Meak da Silva.
Sumber keuangan Yayasan diperoleh dari rakyat melalui pungutan satu sen atas setiap kilogram kopra yang dijualnya. Pungutan semacam retribusi ini dilaksanakan melalui Kantor Bea & Cukai Maumere.
Terbentuknya yayasan dan pengadaan dana itu, mulai digiatkan pemikiran untuk membangun sekolah-sekolah. Sekembali dari Konferensi Malino (1946), Don Thomas mengundang sejumlah orang untuk bertemu di ruang VVS Lela, pada hari Pantekosta tahun 1947.
Baca juga:SMPK Santo Yohanes Nele Bebaskan Uang Sekolah, Beasiswa, Ortu Asuh dan Asuransi Kecelakaan
Pertemuan dihadiri para Kapitan, Deken Maumere, P.P. Hooiveld SVD, dosen Seminari Tinggi Ledalero, P.C. Molenaar SVD, dan (Gouvernement-schooleprisner, Kepala Penilik Sekolah Flores, David Wetig. Pertemuan kini menyepakati mendirikan Sekolah Rendah Istimewa (disingkat SRI), dengan nama dalam bahasa Belanda: “Algemene de Lagerschool” (ALS).
Inilah sekolah pertama di Maumere atas prakarsa para awam Katolik setempat, di mana Don Thomas tercatat sebagai promotornya. Sekolah ini kemudian hari berubah menjadi SD Katolik Maumere I. *



