Thomas Boleh Turun Taktha dan Masuk Penjara Tapi Yapenthom Tetap Hidup
MAUMERE, dewadet.com-Benarlah ungkapan umum “tak ada nabi yang menjadi besar dan dihormati di negerinya sendiri.”
Pada tahun awal berdiri Yapenthom bertiup badai. Tantangan, kecaman dan kritikan silih berganti dialamatkan kepada Raja Sikka, Don Thomas. Masalahnya karena tatalaksana dan mekanisme pengelolaan kebijakan umum dan keuangan Yapenthom.
Salah satu kecaman yang mematikan ialah perintah penghentian pungutan “retribusi” kopra untuk dana Yapenthom oleh Pemerintah Daerah Flores dan KPS Maumere.
Perintah itu membuat keuangan Yapenthom menipis. Rencana pembangunan lembaga pendidikan terlantar. Lebih lanjut, di balik berbagai intrik politik tertentu, gejolak pergolakan masyarakat di kawasan ini pada tahun lima puluhan, juga merembes masuk ke dalam tubuh Yapenthom.
Baca juga:Raja Don Thomas: Legacy Satu Sen dari Sekilogram Kopra Berharga Mencerdaskan Warga Sikka
Demonstrasi anti Yapenthom pada sekitar Januari dan Pebruari 1953 oleh kelompok masyarakat yang menamakan diri “Gerakan KANILIMA”.
Demonstrasi itu ternyata ditantang para pelajar SMP Yapenthom dengan aksi demonstrasi balasan yang didukung oleh semangat “people power” yang pro Raja Sikka Don Thomas.
Kemelut itu sangat menentukan hidup mati Yapenthom itu, Tampil pemuda Ben Mang Reng Say menantu Don Thomas membela keabsahan dan kelangsungan hidup Yapenthom dengan SMP.
Don Thomas dengan tabah, optimis dan jiwa besar tetap menjalankan konsepnya di bidang pendidikan ini: Dalam Rapat Besar Yapenthom antara tanggal 23-28 Oktober 1953 di Maumere, Raja Don Thomas melalui Ben Mang Reng Say menjelaskan duduk perkara Yapenthom kepada semua pihak.
Baca juga:Yapenthom Rayakan HUT ke-79, Sekolah Pertama di Sikka Didirikan Raja Sikka
Ia juga bersedia memenuhi tuntutan reorganisasi dan restrukturisasi kepengurusan serta pembenahan administrasi dan keuangan Yapenthom.
Dalam suatu pertemuan terbatas ketika berlangsung kemelut itu, Don Thomas menegaskan kepada Badan Pengurus Yapenthom, para guru serta wakil para pelajar SMP.
Suara tegas penuh wibawa, ia berkata “Thomas boleh berhenti dari Raja, boleh turun dari takhta kerajaan, bahkan boleh masuk penjara, tapi Yapenthom dan SMP-nya adalah milik rakyat Sikka, maka harus berjalan terus”, demikian ucap sang Raja Sikka, sebagaimana dikutip oleh D. Djuang da Costa BA, siswa SMP Yapenthom Angkatan I (1949-1953), mantan Ketua DPRD-GR Kabupaten Daerah Tingkat II Sikka (19671971), kini pensiun PNS.
Penegasan serupa disampaikan di depan satu Tim Pemerintah Propinsi Sunda Kecil. Tim ini ditugaskan melacak dan menyelesaikan kasus “retribusi kopra untuk Yapenthom” itu,
Baca juga:SMPK Santo Yohanes Nele Bebaskan Uang Sekolah, Beasiswa, Ortu Asuh dan Asuransi Kecelakaan
Don Thomas dengan nada keras menegaskan: “Sebagai Raja, saya bertanggung jawab untuk memajukan pendidikan dan kecerdasan rakyat. Maka pungutan retribusi atas kopra untuk dana pendidikan Yapenthom ini, adalah wajar dan dapat dipertanggungjawabkan. Asal, Raja tidak makan uang itu.”
Pernyataan ini sangat mengejutkan petugas dari Singaraja itu.Demi membela Yapenthom dan SMP-nya, Stanislaus Bao, guru Bahasa Inggris sebagai seorang komponis beken, ypeduli terhadap kemelut yang berkembang, menulis lagu dengan lirik berikut ini:
Hip hip hip hip, trala lala la… Kami pemuda pelajar SMP Yayasan Thomas Yapenthom tetap bersemboyan “dari rakyat untuk rakyat”
Kamilah putra-putrinya turut membangun sertanya
Bergiatlah, bekerjalah seluruh lapisan rakyat rurut bantu dengan rela dari hasil keringatnya
Inilah harapan rakyat sekalian Kiranya lanjut umur usia Yapenthom Kami pemuda pelajar, dst
Lagu ini dinyanyikan oleh para pelajar SMP Yapenthom pada setiap kesempatan supaya menyadarkan rakyat akan pentingnya kehadiran lembaga pendidikan ini. *



