Selasa, 30 Juni 2026, Hari Biasa Pekan XIII.Nubuat Amos 3:1-8; 4:11-12; Matius 8:23-27

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara terkasih. Tidak semua badai diawali oleh angin yang kencang. Ada badai yang datang seperti semilir, tetapi perlahan mengguncangkan hati, keluarga, pelayanan, dan iman.

Badai semacam itu paling berbahaya karena sering tidak disadari, seperti kejahatan yang dianggap biasa, kelaliman yang dibiarkan, doa yang mulai ditinggalkan, dan hati yang perlahan kehilangan kepekaan terhadap Allah.

Namun, Allah tidak pernah membiarkan umat-Nya hanyut dalam badai seperti itu; Ia berseru melalui para nabi dan bertindak melalui Putra-Nya untuk membangkitkan harapan serta menyelamatkan mereka yang berserah kepada-Nya.

Amos tampil pada masa Israel menikmati kemakmuran, tetapi kemakmuran itu dibangun di atas kelaliman, penindasan, dan ketidakadilan. Orang miskin diinjak, yang lemah disingkirkan, dan hukum diperdagangkan demi keuntungan.

BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Batu Karang yang Dibentuk, Bukan Dilahirkan

Karena itu Amos berseru, “Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut? Tuhan Allah telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?”

Singa yang mengaum melambangkan suara Allah yang tidak dapat dibungkam. Nubuat Amos bukan lahir dari kemarahan pribadi, melainkan dari hati Allah yang terluka melihat umat-Nya merusak perjanjian kasih.

Allah menggugat bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menyadarkan. Ia lebih memilih menegur daripada membiarkan umat terus berjalan menuju kehancuran.

Seruan Amos itu mengantar kita menyadari bahwa badai dalam kehidupan sering kali tidak muncul begitu saja.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Secangkir Air yang Mengubah Hidup

Sebelum rumah runtuh, hati lebih dahulu kehilangan fondasinya. Sebelum relasi hancur, kejujuran mulai ditinggalkan. Sebelum iman melemah, doa perlahan menjadi asing.

Badai terbesar bukan selalu kesulitan yang datang dari luar, melainkan hati yang tidak lagi peka terhadap suara Allah yang terus mengingatkan dan mengundang untuk kembali.

Kesadaran itu menjadi semakin jelas di tengah danau yang bergelora. Perahu para murid dihantam ombak besar, sementara Yesus tertidur. Mereka panik lalu berseru, “Tuhan, tolonglah, kita binasa!”

Menarik bahwa Yesus lebih dahulu menegur ketakutan mereka daripada menghardik angin dan danau. “Mengapa kalian takut, hai orang yang kurang percaya?”

Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah-Harian) Sentuhan yang Memulihkan

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa persoalan utama para murid bukan besarnya badai, melainkan kecilnya kepercayaan. Bagi Yesus, badai di luar tidak pernah lebih besar daripada kuasa Allah. Yang perlu dipulihkan terlebih dahulu ialah hati yang goyah.

Sesudah itu Yesus bangun, menghardik angin dan danau, lalu semuanya menjadi teduh sekali. Keheningan yang lahir sesudah badai bukan sekadar perubahan cuaca. Itu adalah tanda bahwa kehadiran Kristus selalu mampu memulihkan kekacauan menjadi damai.

Sering kali kita memohon agar Tuhan segera menghilangkan persoalan, padahal Tuhan terlebih dahulu ingin membangun iman yang sanggup bertahan di tengah persoalan. Mukjizat terbesar bukan hanya badai berhenti, melainkan hati yang kembali percaya.

Saudari dan saudara terkasih, setiap keluarga, pekerjaan, pelayanan, bahkan perjalanan iman memiliki badai masing-masing. Ada badai sakit, kegagalan, kehilangan, fitnah, kecemasan, atau masa depan yang terasa tidak pasti.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Antara Menyebut Nama Tuhan dan Dikenal Tuhan

Namun ada satu pertanyaan yang terus bergema hingga hari ini, “Mengapa kalian takut?” Pertanyaan itu bukan menyalahkan, melainkan mengajak kita mengingat bahwa Kristus tetap berada dalam perahu kehidupan kita.

Ia mungkin tampak diam, tetapi tidak pernah meninggalkan. Ia mungkin belum bertindak menurut waktu yang kita inginkan, tetapi kasih-Nya tidak pernah terlambat.

Maka marilah kita belajar mendengarkan suara Allah sebelum badai menjadi semakin besar. Hati yang peka terhadap Sabda akan lebih mudah menemukan damai, bahkan di tengah ombak yang belum berhenti.

Selama Kristus tetap menjadi nahkoda kehidupan, tidak ada badai yang mampu merampas harapan. Dan sering kali, keteduhan pertama yang Tuhan berikan bukanlah perubahan keadaan, melainkan kedamaian yang memenuhi hati orang yang percaya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Nama yang Lahir dari Kehendak Allah

Petikan BUSA-H untuk kita #30/06/26@:

“Badai paling berbahaya bukan angin yang mengamuk di luar, melainkan hati yang berhenti mendengarkan suara Allah.”

“Allah mengaum melalui para nabi bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyelamatkan hati yang mulai kehilangan arah.”

“Yesus tidak pertama-tama menenangkan badai, tetapi meneguhkan iman yang sedang diguncang ketakutan.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mutiara yang Tidak Boleh Hilang 

“Selama Kristus tetap berada di dalam perahu kehidupan, ombak boleh bergelora, tetapi harapan tidak akan tenggelam.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan