BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Batu Karang yang Dibentuk, Bukan Dilahirkan
Senin, 29 Juni 2026. Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus, Rasul. Kisah Para Rasul 12:1-11; 2 Timotius 4:6-8.17-18; Matius 16:13-19.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih, banyak orang mengira bahwa Allah hanya memakai pribadi-pribadi yang kuat, sempurna, dan tanpa cela.
Namun Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus justru memperlihatkan hal yang sebaliknya. Gereja berdiri bukan di atas pribadi yang tidak pernah jatuh, melainkan di atas hati yang bersedia dibentuk, dipulihkan, dan tetap setia hingga akhir.
Simon Petrus menerima pertanyaan yang mengubah seluruh hidupnya, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?”
Pertanyaan itu bukan pertama-tama meminta jawaban dari akal budi, melainkan dari hati yang mengenal Kristus secara pribadi.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Secangkir Air yang Mengubah Hidup
Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Menarik bahwa Yesus segera berkata, “Berbahagialah engkau, Simon bin Yunus, sebab bukan darah dan daging yang menyatakan hal itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga.”
Artinya, iman bukan hasil kecerdasan semata, tetapi buah hati yang terbuka terhadap karya Allah. Lalu Yesus melanjutkan, “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan Gereja-Ku.”
Batu karang itu bukan karena Petrus sudah sempurna. Ia pernah tenggelam karena kurang percaya, pernah menyangkal Gurunya, bahkan sering gagal memahami jalan salib.
Namun justru pribadi yang mau terus dibentuk itulah yang dijadikan dasar Gereja. Allah tidak mencari pribadi yang tanpa kelemahan, melainkan pribadi yang rela dibentuk oleh kasih dan kebenaran-Nya.
Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah-Harian) Sentuhan yang Memulihkan
Pengakuan iman Petrus kemudian diuji dalam perjalanan yang tidak mudah. Ia dipenjarakan, dirantai, dan dijaga sangat ketat. Dari segala ukuran, tidak ada lagi jalan keluar. Namun justru di tengah keadaan yang paling gelap, malaikat Tuhan datang membebaskannya. Menarik bahwa pembebasan itu terjadi sementara seluruh jemaat tekun berdoa baginya.
Gereja pertama tidak melawan dengan kekerasan, melainkan dengan doa yang tidak putus-putus. Dari sini kita belajar bahwa Gereja tidak pertama-tama bertahan karena kekuatan organisasi, kekayaan, atau pengaruh, melainkan karena tetap hidup dalam persekutuan doa.
Banyak rantai dalam hidup kita tidak selalu terbuat dari besi. Ada rantai ketakutan, kepahitan, kecanduan, keputusasaan, kesombongan, dan dosa yang diam-diam membelenggu hati.
Rantai-rantai itu sering kali mulai terlepas bukan hanya karena usaha kita sendiri, melainkan juga karena doa Gereja yang terus menopang.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Antara Menyebut Nama Tuhan dan Dikenal Tuhan
Perjalanan itu mencapai puncaknya dalam kesaksian Santo Paulus. Menjelang akhir hidupnya ia berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
Paulus tidak membanggakan mukjizat yang pernah dibuatnya atau banyaknya jemaat yang didirikannya. Ia hanya bersyukur karena berhasil memelihara iman. Kalimat ini sangat dalam.
Keberhasilan terbesar seorang beriman bukanlah memiliki banyak prestasi, melainkan tetap setia kepada Kristus hingga akhir perjalanan. Paulus sadar bahwa kekuatannya bukan berasal dari dirinya sendiri. “Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku.”
Kesetiaan ternyata bukan hasil kemampuan pribadi, tetapi buah dari rahmat yang terus diterima dan dijaga setiap hari.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Nama yang Lahir dari Kehendak Allah
Ketiga peristiwa ini memperlihatkan satu benang merah yang indah. Petrus mengajarkan bahwa Gereja dibangun di atas iman kepada Kristus. Petrus yang dipenjara memperlihatkan bahwa Gereja dipelihara oleh doa yang tidak pernah padam.
Paulus mengingatkan bahwa Gereja mencapai kepenuhannya melalui kesetiaan yang dipertahankan hingga garis akhir. Inilah wajah Gereja yang sesungguhnya: beriman, saling menopang, dan tetap setia.
Saudari dan saudara terkasih, sering kali kita merasa tidak pantas dipakai Tuhan karena masa lalu, kelemahan, atau kegagalan yang masih membekas.
Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus memberikan harapan yang besar. Petrus pernah menyangkal Yesus. Paulus pernah menganiaya Gereja. Namun keduanya tidak dibiarkan tinggal dalam masa lalu.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mutiara yang Tidak Boleh Hilang
Kasih Kristus mengubah mereka menjadi saksi yang mengubah sejarah. Allah masih bekerja dengan cara yang sama hingga hari ini.
Ia tidak menunggu kita menjadi sempurna baru memanggil kita. Ia memanggil kita agar, melalui rahmat-Nya, kita semakin dibentuk menjadi pribadi yang setia.
Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri: di manakah batu karang hidup kita berdiri? Apakah di atas kekuatan diri sendiri yang mudah runtuh, atau di atas Kristus yang tidak pernah berubah?
Selama Kristus tetap menjadi dasar hidup, doa tetap menjadi napas iman, dan kesetiaan terus dipelihara setiap hari, tidak ada kuasa apa pun yang mampu merobohkan bangunan yang sedang Allah dirikan dalam diri kita.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Antara Balok dan Selumbar
Petikan BUSA-H untuk kita #29/06/26@:
“Allah tidak membangun Gereja di atas pribadi yang sempurna, melainkan di atas hati yang bersedia terus dibentuk oleh Kristus.”
“Iman menjadikan Petrus batu karang, doa membebaskannya dari rantai, dan kesetiaan menghantar Paulus mencapai garis akhir.”
“Keberhasilan terbesar seorang beriman bukanlah banyaknya karya yang ditinggalkan, melainkan iman yang tetap dipelihara hingga akhir.”
“Kristus tidak mencari pribadi yang tanpa luka, tetapi hati yang bersedia dilukai dan dibentuk menjadi saksi kasih-Nya.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jangan Kehilangan Dirimu Sendiri
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





