Kamis, 30 Oktober 2025.  Hari Biasa Pekan XXX.  Roma 8:31b-39; Lukas 13:31-35.

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARA-saudari terkasih.Banyak dari kita menanggung hidup seperti duduk di ruang sidang: ada suara yang menghakimi diri, percakapan yang menggores batin, dan kecemasan yang tak kunjung selesai.

Kita ingin setia, tetapi hati terasa rapuh. Cinta bukan sekadar rasa hangat; ia adalah kehendak yang bertindak, pilihan yang diperbarui ketika perasaan naik turun. Cinta demikian adalah kemauan mempersembahkan diri demi pertumbuhan orang lain. Karena itu, kesetiaan bukan menunggu hati selalu nyaman, melainkan memilih kembali hal-hal yang membuat cinta tetap hidup: mengasihi apa adanya, berkata benar, dan mengampuni meski emosi serta situasi tidak mendukung.

Pilihan-pilihan inilah yang membungkam “jaksa batin,” menata langkah di atas komitmen, dan mengubah kasih dari suasana hati menjadi keputusan yang menyembuhkan bagi diri sendiri dan sesama. Begitu “jaksa batin” kita dibungkam oleh keputusan-keputusan kasih, Sabda mengambil alih ruang sidang itu.

Rasul Paulus, dalam suratnya kepada Jemaat di Roma, menghadirkan lima pertanyaan tajam— siapa lawan kita, siapa mendakwa, siapa menghukum, siapa memisahkan? —seakan menutup mulut si “jaksa” satu per satu.

BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kelemahan yang Jadi  Doa, Doa yang Jadi Jalan Melewati Pintu Sempit

Di sini, Rasul Paulus tidak menyodorkan teknik penguatan diri, melainkan logika salib—bila Bapa tidak menyayangkan Putra-Nya, maka setiap dakwaan kehilangan landasan, dan ketakutan kehilangan pegangan.

Kasih Allah bukan suasana hati, melainkan putusan Allah yang sudah berlaku atas kita; sebab itu kita berhak “mengajukan banding” terhadap rasa bersalah yang tidak perlu dan berdiri lagi sebagai orang yang dikasihi untuk kembali mengasihi.

Misalnya, ketika orang tua menyesal karena meledak pada anak, hentikan mengadili diri, minta maaf malam itu juga, lalu perbaiki dengan satu waktu khusus besok; atau saat karyawan dituding tak kompeten, jangan tenggelam dalam cemas, tetapi jujur mengevaluasi, minta umpan balik, dan tutup hari dengan doa, “Bapa, Engkau di pihakku; tuntun langkahku esok”; bila anak muda jatuh lagi dalam dosa lama, datanglah ke Sakramen Tobat dan ganti pola—hapus aplikasi pemicu, cari pendamping rohani—sebab pengampunan membuka keputusan baru; atau untuk relasi yang renggang di rumah atau komunitas, kirim pesan damai lebih dulu, tawarkan pertemuan singkat, dan pilih satu kata yang menyembuhkan alih-alih satu argumen yang menang.

Untuk itu semua, jangan biarkan “jaksa batin” memimpin hidup kita; berdirilah sebagai orang yang dikasihi, dan pilihlah mengasihi hari ini—satu tindakan kecil yang melindungi, satu kata yang menyejukkan, satu langkah kembali ke arah Tuhan; tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, kecuali jika kita menyerah dan hari ini kita tidak menyerah.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Indentitas Mendahului Tugas

Saudara-saudari terkasih, situasi seperti ini juga tampak dalam Injil hari ini sebagai kontras yang tajam: penguasa licik (Herodes) berhadapan dengan induk ayam yang merangkum anak-anak di bawah sayapnya.

Yesus tidak menanggapi kelicikan dengan taring kekuasaan, melainkan dengan kelembutan yang berani— “hari ini dan esok Aku tetap berjalan.” Inilah puncak kasih: kerentanan yang dipilih, bukan kelemahan yang pasrah. Ratapan atas Yerusalem bukan ledakan amarah, melainkan undangan untuk berlindung dari penolakan. Maka kasih Allah bertakhta bukan di menara kuasa, melainkan pada sayap yang terbuka bagi siapa pun yang sudi mendekat.

Lantas, apa langkah kita hari ini? Auditlah batin dengan lima pertanyaan Paulus: sebut “jaksa” yang menekan—rasa bersalah berlebihan, suara sinis, ketakutan—lalu jawab dengan satu kalimat iman: “Jika Allah di pihak kita, siapa yang akan melawan kita?”

Sesudah itu, bernaunglah di bawah sayap seperti dalam Injil: pilih satu tindakan perlindungan yang konkret—menutup mulut dari balasan pedas, membela yang lemah di tengah ketidakadilan, atau menghubungi satu orang yang terluka agar pulih.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ketaatan yang Membelenggu Menuju Kasih yang Membebaskan

Dalam semuanya, ukirlah hari dengan kasih: ukuran kita bukan seberapa banyak yang selesai, melainkan siapa yang merasa lebih aman karena kesetiaan kehadiran kita. Jangan ikuti “jaksa batin” yang berbisik; tetaplah berpegang pada kasih Kristus yang lebih kuat. Pilihlah berlindung di bawah sayap-Nya dan berjalan lagi hari ini—tanpa takut, tanpa balas dendam, tanpa melepaskan kasih-Nya.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Kasih Allah bukan suasana hati, melainkan putusan yang sudah berlaku; tugas kita sederhana namun tegas: berhenti tunduk pada jaksa batin, dan mulai bertindak sebagai orang yang dikasihi.”

“Kekuatan kita bukan pada taring kekuasaan, melainkan pada kelembutan yang berani: berlindung di bawah sayap Kristus, lalu melangkah lagi tanpa takut, tanpa balas dendam, tanpa melepaskan kasih.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan