Jumat, 03 Juli 2026. Pesta Santo Tomas, Rasul. Efesus 2:19-22; Yohanes 20:24-29

SAUDARI dan saudara terkasih, lawan terbesar iman adalah keragu-raguan, karena keragu-raguan membuat hati tidak sepenuhnya percaya pada kehadiran dan kuasa Tuhan. Keragu-raguan membuat seseorang lebih banyak menuntut bukti daripada menyerahkan diri, lebih sibuk mencari kepastian daripada bertumbuh dalam kepercayaan.

Pesta Santo Tomas mengajarkan bahwa iman sejati mencapai puncaknya saat hati berhenti ragu dan berseru dengan penuh penyerahan, “Ya Tuhanku dan Allahku.”

Pengakuan iman itu tidak lahir dalam ruang yang hampa, melainkan bertumbuh di dalam persekutuan umat yang dibangun di atas Kristus, Sang Batu Penjuru.

Paulus mengingatkan umat di Efesus bahwa kita bukan lagi orang asing atau pendatang, melainkan anggota keluarga Allah. Gereja dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hati yang Diampuni Tak Pernah Tetap Lumpuh

Menarik bahwa Paulus tidak melukiskan Gereja sebagai sekumpulan batu yang berdiri sendiri-sendiri. Ia menggambarkannya sebagai bangunan yang terus bertumbuh, di mana setiap orang memperoleh tempatnya karena dipersatukan oleh Kristus.

Artinya, iman tidak pernah dimaksudkan untuk dijalani sendirian. Iman bertumbuh dalam persekutuan, dikuatkan oleh kesaksian, dan dipelihara oleh persaudaraan. Batu yang terpisah akan kehilangan fungsinya, tetapi batu yang melekat pada batu penjuru akan menjadi bagian dari rumah Allah yang kokoh.

Persekutuan itulah yang menolong kita memahami pergulatan Tomas. Ia tidak hadir bersama para murid pada perjumpaan pertama dengan Yesus yang bangkit. Barangkali bukan kebetulan bahwa keraguannya muncul saat ia berada jauh dari komunitas.

Ada saat-saat iman menjadi rapuh bukan karena kurang pengetahuan, melainkan karena hati menjauh dari persekutuan, doa bersama, persaudaraan, dan kehidupan Gereja.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Diusik Demi Diselamatkan

Tomas mewakili banyak orang beriman masa kini yang mudah menjauh dari persekutuan, tetapi tetap menuntut Allah dan sesama mengikuti syarat-syaratnya. Beriman berarti membuka hati agar Allah berkarya menurut cara-Nya.

Dari pergulatan itulah lahir pengakuan iman yang paling indah, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Menarik bahwa Tomas tidak lagi meminta bukti. Ia tidak lagi berfokus pada luka, melainkan memandang Pribadi yang berdiri di hadapannya.

Lalu Yesus berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Berbahagia bukan berarti percaya tanpa berpikir, melainkan berani menyerahkan hidup kepada Kristus sekalipun tidak semua pertanyaan memperoleh jawaban.

Iman bukan hilangnya seluruh keraguan, melainkan keberanian tetap berjalan bersama Tuhan di tengah pertanyaan hidup yang belum selesai.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Badai yang Paling Berbahaya

Pergumulan panjang dalam hidup membutuhkan kepercayaan yang total, seperti yang Yesus katakan kepada Tomas, “Jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”

Yesus memperlihatkan bahwa luka itu tetap ada pada tangan dan lambung-Nya, tetapi luka itu tidak lagi menjadi lambang kekalahan. Luka itu telah menjadi tanda kemenangan kasih.

Dari sini kita belajar bahwa Kristus tidak selalu menghapus luka dalam hidup kita, tetapi sanggup mengubahnya menjadi jalan perjumpaan dengan rahmat. Ada luka yang justru membuat hati lebih bijaksana, lebih rendah hati, lebih peka terhadap penderitaan sesama, dan lebih dekat dengan Allah.

Saudari dan saudara terkasih, setiap orang memiliki “lambung yang terluka” dalam hidupnya: kegagalan yang belum dipahami, doa yang terasa belum dijawab, kehilangan yang masih menyisakan air mata, atau harapan yang belum terwujud.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Batu Karang yang Dibentuk, Bukan Dilahirkan

Jangan biarkan luka itu menjauhkan kita dari Kristus. Bawalah luka itu kepada-Nya seperti Tomas. Sering kali, justru pada tempat yang paling sakit itulah Tuhan menyentuh hati kita dan menumbuhkan iman yang lebih dewasa.

Gereja pun dipanggil menjadi komunitas yang tidak menghakimi orang yang sedang bergumul, melainkan merangkul mereka hingga mampu berkata bersama Tomas, “Ya Tuhanku dan Allahku.”

Maka marilah kita memohon rahmat agar memiliki iman yang rendah hati. Iman yang tidak dibangun di atas tuntutan agar Tuhan selalu memenuhi keinginan kita, tetapi di atas keyakinan bahwa Kristus yang bangkit tetap hadir, berjalan bersama kita, dan mengubah setiap luka menjadi jalan menuju kemuliaan.

Hati yang percaya akan menemukan damai, bahkan sebelum seluruh jawaban diberikan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Secangkir Air yang Mengubah Hidup

Petikan BUSA-H untuk kita #03/07/26@

” Keragu-raguan membuat hati menuntut bukti, tetapi iman membuat jiwa berani berserah kepada Kristus yang tetap hadir.”

“Luka yang disentuh oleh Kristus tidak lagi menjadi sumber keputusasaan, melainkan pintu masuk menuju rahmat.”

“Iman yang dewasa bukanlah iman yang memiliki semua jawaban, melainkan hati yang tetap setia berjalan bersama Tuhan.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Antara Menyebut Nama Tuhan dan Dikenal Tuhan

“Orang yang sungguh mengenal Kristus tidak lagi hanya mencari bukti, tetapi berani menyerahkan seluruh hidupnya kepada-Nya.”

Tuhan memberkati kita. #rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan