BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kasih yang Diterima Harus Menjadi Kasih yang Dibagikan
Kamis, 09 Juli 2026. Hari Biasa Pekan XIV. Nubuat Hosea 11:1,3-4,8c-9; Matius 10:7-15
Oleh: RD.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara terkasih, hampir setiap orang senang menerima kasih, perhatian, pertolongan, dan pengampunan. Namun tidak semua orang dengan mudah membagikan apa yang telah diterimanya.
Sabda Tuhan hari ini justru memperlihatkan bahwa kasih yang sejati tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan selalu mengalir menjadi berkat bagi sesama.
Kasih yang mengalir itu terlebih dahulu dinyatakan melalui Nabi Hosea. Allah mengenang Israel bukan sebagai bangsa yang selalu setia, melainkan sebagai anak yang terus-menerus dikasihi meskipun sering menjauh.
Dengan penuh kelembutan Allah berkata, “Akulah yang mengajar Efraim berjalan; Aku mengangkat mereka ke dada-Ku; Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan dan ikatan kasih.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mukjizat yang Membuka Mata Batin
Gambaran ini sangat indah. Allah bukan Bapa yang memerintah dari kejauhan, tetapi Bapa yang membungkuk untuk mengangkat anak-Nya yang jatuh. Bahkan saat umat membalas kasih-Nya dengan ketidaksetiaan, Allah tetap berkata, “Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasih-Ku bangkit serentak.”
Di sinilah kita melihat bahwa kekuatan Allah yang terbesar bukan pertama-tama terletak pada kuasa untuk menghukum, melainkan pada kasih yang tidak pernah menyerah menyelamatkan.
Kasih Allah yang tanpa syarat itu kemudian menjadi dasar perutusan para murid. Yesus mengutus mereka sambil berkata, “Pergilah dan wartakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat… Kalian telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berilah pula dengan cuma-cuma.”
Perintah itu dimulai dengan kata “pergilah.” Artinya, kasih tidak boleh tinggal diam. Kasih harus melangkah, menjumpai, menyembuhkan, menghibur, mengampuni, dan membangkitkan harapan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tuhan Tidak Pernah Terlambat
Yesus tidak mengutus para murid untuk mencari keuntungan, melainkan menghadirkan wajah Allah yang murah hati. Mereka telah menerima rahmat tanpa membayar; karena itu mereka pun dipanggil memberi tanpa menghitung untung dan rugi.
Perutusan itu tetap berlangsung hingga hari ini. Tidak semua orang dipanggil menyembuhkan penyakit atau mengusir setan, tetapi setiap orang mampu menyembuhkan hati yang terluka dengan pengampunan, membangkitkan semangat yang hampir padam melalui kata-kata yang menguatkan, mentahirkan relasi yang retak dengan kerendahan hati, dan mengusir “setan-setan” kebencian, iri hati, fitnah, serta keputusasaan melalui kasih yang nyata.
Kerajaan Allah menjadi dekat bukan hanya melalui mukjizat yang luar biasa, tetapi juga melalui kebaikan-kebaikan sederhana yang menghidupkan sesama.
Saudari dan saudara terkasih, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kasih yang kita terima dari Allah berhenti pada diri kita, atau sudah mengalir menjadi berkat bagi orang lain?
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kelegaan: Saat Kristus Ikut Memikul Beban Kita
Semakin kita menyadari betapa besar belas kasih Tuhan kepada kita, semakin mudah pula kita mengampuni, berbagi, dan melayani tanpa pamrih.
Kasih yang diberikan dengan tulus tidak pernah berkurang; justru di tangan Allah, kasih itu akan terus berlipat ganda dan menghadirkan Kerajaan Surga di tengah kehidupan.
Petikan BUSA-H untuk kita #09/07/2026@
“Kasih Allah tidak pernah berhenti pada kita; kasih itu selalu mengutus kita menjadi berkat bagi sesama.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman Tidak Hanya Dipertahankan, Tetapi Harus Selalu Diperbarui
“Orang yang sungguh merasakan belas kasih Tuhan akan lebih mudah mengampuni daripada membalas.”
“Kerajaan Allah menjadi dekat setiap kali kasih lebih dipilih daripada kepentingan diri sendiri.”
“Rahmat yang diterima dengan syukur akan berubah menjadi rahmat yang dibagikan dengan sukacita.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





