Longsor Wolon Watu Niran Sisahkan Trauma di Warga Detunlikong
MAUMERE,dewadet.com-Dua pekan telah lewat pascagempa Flores, Sabtu tanggal 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA.
Rasa takut, khawatir bercampur aduk masih dirasakan ratusan jiwa warga Dusun Detunlikong di Desa Karababu,Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dusun dihuni sekitar 60-an kepala keluarga berada di lembah diapit dua bukit di sisi timur dan barat. Pada sisi timur terdapat tebing Wolon Watu Niran. Sekitar 50-an meter jarak dari dasar tebing terdapat Gedung SDK Detunglikong, juga satu unit bak air yang relatif lebih dekat dengan dinding tebing tersebut.
Tebing Wolon Watu Niran tampak tegak lurus sekitar 100-an meter dari dasar tebing sampai ke titik teratas, di baliknya ada hamparan kebun milik warga. Panjang tebing sekitar 200-an meter ke utara. Terjal tebing tak tampak lagi, karena segala jenis pohonan tumbuh menempel ke dinding tebing.
Baca juga:Korban Gempa ‘Lupa’ Dirawat, Ditemukan Bupati Sikka, “Evakuasi dan Rawat”
Gempa bumi bermagnitudo 7,7 pertengahan bulan Agustus 2026 turut meruntuhkan tebing Wolon Watu Niran. Batu, tanah, pohon runtuh ke dasar tebing menimpa bak air yang saban tahun menyediakan ar bersih bagi dusun tersebut.
Longsor tebing akibat gempa 7,7 membangkitkan lagi ingatan Yohanes Petu (61) pada Gempa dan Tsunami Maumere, 12 Desember 1992. Saat itu, longsor Wolon Watu Niran runtuh seluruhnya sekitar 200 meter panjanganya.
“Runtuh dari ujung ke ujung tebing mirip kebun yang selesai dipacul. Sekarang sudah hijau kembali tumbuh banyak kayu-kayuan,” kenang Petrus.
Beberapa waktu setelah gempa 1992, kisah Petrus lagi, air muncul dari dinding tebing kemudian kering.
Baca juga:Pemerintah Pusat Bangun 500 Unit Rumah Korban Gempa Flores
Saksi mata lainya, Oktaviani Walfia Du’a Mia, menuturkan bersamaan gempa tersebut terjadi longsor besar dari tebing menciptakan dentuman sangat besar mengejutkan warga yang sudah bangun tidur pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026.
“Pas gempa kami keluar (rumah). Bunyinya besar sekali, longsor batu dan tanah jatuh dari atas,” kisah Oktaviani, Rabu 2 September 2026 di halaman SDK Detunlikong.
Blasius Bengkoro, pensiunan guru warga Dusun Detunlikong, juga menuturkan longsor tebing mungkin telah menimbun mata air dan bak air yang terletak dekat dasar tebing.
“Mungkin bak air dan mata air tertimbun longsor. Tapi, sampai sekarang belum ada satu pun warga mendekat melihat kondisi bak air minum untuk warga Detunlikong,” kata Blasius.
Air dari bak penampungan tersebut tak lagi bisa memenuhi kebutuhan warga setempat. Saat ini, kata Blasius, warga mengandalkan satu sumber mata air lainya yang debitnya lebih kecil.
Baca juga:Warga Iligai Berteduh di Tenda dan Butuh Air Bersih Pasca Gempa
Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago mengunjungi warga Dusun Detunlikong, Rabu sore menerima keluhan kesulitan air minum pascagempa 7,7 yang mungkin menimbun mata air dan bak air.
Bersama tim dari teknis Dinas PUPR Sikka, Juventus juga menyaksikan secara langsung kondisi ruang belajar SDK Detunglikong dan bangunan kapela. Muncul beberapa bagian retakan panjang pada dinding ruangan kelas, namun para murid enggan belajar di dalamnya.
Orangtua murid bersama para guru telah mendirikan tenda darurat di halaman sekolah. Bupati Juventus menyatakan bahwa pemerintah siapkan terpal untuk atap tenda darurat.*





