Warga Iligai Berteduh di Tenda dan Butuh Air Bersih Pasca Gempa
MAUMERE,dewadet.com-Gempa Flores bermagnitudo, 7.7 pada Sabtu 15 Agustus 2026 pukul 05.58 Wita menyisahkan penderitaan bagi banyak warga Kabupaten Sikka di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di Desa Iligai, Kecamatan Lela, 39 unit rumah warga teridentifikasi rusak berat dan tidak bisa ditempati. Mereka tinggal di tenda-tenda dan mendirikan bangunan dariurat agar bisa berteduh dari panas dan dinginnya malam hari. Mereka juga kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih berharap bantuan dari pemerintah daerah.
Penjabat Kepala Desa Iligai, Herlin Ladopowo, Selasa siang 1 September 2026 menemui petugas Posko Satgas Penanganan Gempa Kabupaten Sikka di Kantor BPBD Sikka.
Pendataan sementara yang dilaksanakan pemerintah desa menemukan 106 unit rumah warga mengalami kerusakan terdiri dari 39 rumah rusak berat, 23 rumah rusak sedang dan 44 rumah rusak ringan.
Baca juga:Puluhan Titik Pipa Transmisi Perumda Wairpuan Geser dan Putus Terdampak Gempa Flores
“Rumah rusak berat itu tidak bisa dihuni lagi. Struktur bangunannya rusak,” kata Herlin.
Laporan kerusakan rumah juga disertai foto bangunan sudah diserahkan kepada BPBD Sikka. Warga masih menunggu kedatangan tim teknis dari BPBD Sikka ke Desa Iligai menilai kerusakan bangunan.
“Mereka lebih ahli untuk menentukan, ini jenis kerusakannya apa, kerusakannya berat, ringan atau sedang,” ujarnya.
Ia mengatakan, dua pekan pasca gempa, warga yang rumahnya rusak berat belum kembali menempati rumahnya. Mereka tinggal di tenda yang didirikan di halaman rumah.
Baca juga:Puluhan Titik Pipa Transmisi Perumda Wairpuan Geser dan Putus Terdampak Gempa Flores
Di daalam satu tenda, kata dia, bisa ditempati dua hingga tiga kepala keluarga (KK).
Sebagian warga lainnya memilih membuat tempat tinggal sementara secara sederhana mendirikan pondok darurat yang ditempati hingga tiga sampai empat KK.*





