BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berlutut dalam Rahmat, Berdiri dalam Kerendahan Hati dan Kebenaran
Kamis, 03 September 2026. PW St. Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja
1 Korintus 3:18-23; Lukas 5:1-11.
Oleh: RD.Fidelis Dua.
SAUDARI dan saudara terkasih, sepanjang malam Simon dan teman-temannya bekerja keras tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Ketika mereka menaati perkataan Yesus, jala mereka justru dipenuhi ikan hingga hampir koyak.
Menariknya, keberhasilan besar itu tidak membuat Simon membanggakan diri. Ia malah tersungkur dan berkata, “Tuhan, tinggalkanlah aku, karena aku ini orang berdosa.”
Di hadapan karya Allah yang begitu besar, Simon justru semakin menyadari siapa dirinya. Kita sering mengalami yang sebaliknya. Sedikit keberhasilan membuat kita merasa hebat, sedikit pengetahuan membuat kita merasa paling benar, dan sedikit kuasa membuat kita sulit mendengarkan orang lain.
Simon mengajarkan bahwa semakin seseorang mengalami kebesaran Tuhan, semakin ia mempunyai alasan untuk menjadi rendah hati.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Terimalah Rahmat,Bagikan Kebaikan
Di sinilah Rasul Paulus mengingatkan kita akan bahaya menipu diri dengan menganggap diri berhikmat menurut ukuran dunia. Kecerdasan, pendidikan, jabatan, pengalaman, kekayaan, dan keberhasilan memang berharga, tetapi semuanya dapat menipu ketika membuat kita merasa tidak membutuhkan Tuhan dan sesama.
Paulus mengembalikan kita kepada identitas yang paling mendasar, “Kalian milik Kristus.” Kita boleh mempunyai banyak hal, tetapi jangan sampai apa yang kita miliki justru memiliki kita.
Seperti Simon yang memberi isyarat kepada perahu lain untuk datang membantu, rahmat dan keberhasilan pun tidak diberikan untuk membesarkan diri, melainkan untuk dibagikan dan dikerjakan bersama.
Kebijaksanaan sejati lahir ketika kita tahu bahwa tanpa Tuhan kita terbatas, bersama sesama kita saling membutuhkan, dan di dalam Kristus kita menemukan siapa diri kita sebenarnya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian ) Ketika Sabda Membaca Hati Kita
Semangat inilah yang juga dapat kita timbah dari Santo Gregorius Agung. Ia memahami tanggung jawabnya sebagai pelayanan kepada kebenaran dan umat Allah, bukan sebagai kesempatan untuk membesarkan diri.
Salah satu ungkapannya yang terkenal, “Lebih baik skandal muncul daripada kebenaran dibungkam,” mengingatkan kita bahwa kerendahan hati bukan berarti berdiam diri di hadapan yang salah.
Hari ini, beranilah mengakui satu kelemahan yang selama ini kita tutupi dengan kesombongan, dan beranilah mengatakan atau melakukan yang benar ketika kita tergoda memilih aman hanya demi menyenangkan orang lain.
Simon tersungkur ketika jalanya penuh, Paulus mengingatkan bahwa kita milik Kristus, dan Gregorius mengajarkan keberanian melayani kebenaran.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kabar Baik Harus Menjadi Nyata
Jangan biarkan keberhasilan membuat kita berdiri semakin tinggi di hadapan sesama, tetapi biarkan rahmat membuat kita semakin berani berlutut di hadapan Tuhan dan berdiri teguh bagi kebenaran.
Petikan BUSA-H #03/09/2026
”Semakin kita mengalami kebesaran Tuhan, semakin sedikit alasan untuk membesarkan diri dan semakin banyak alasan untuk merendahkan hati.”
”Jangan sampai apa yang kita miliki akhirnya memiliki kita, sebab kita boleh memiliki banyak hal, tetapi hidup kita tetap milik Kristus.”
”Keberhasilan sejati bukanlah ketika kita berdiri lebih tinggi daripada orang lain, melainkan ketika keberhasilan membuat kita semakin rendah hati di hadapan Tuhan.”
”Belajarlah berlutut di hadapan Tuhan tanpa takut berdiri bagi kebenaran, sebab kerendahan hati tidak pernah berarti membiarkan kebenaran dibungkam.”
Tuhan memberkati kita#rd.fd@





