Sabtu, 05 September 2026. Hari Biasa Pekan XXII. 1 Korintus 4:6b-15; Lukas 6:1-5.

Oleh: RD. Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara yang terkasih, ada orang yang begitu sibuk menjaga bingkai sampai lupa melihat wajah yang ada di dalamnya.

Gambaran seperti inilah yang kita jumpai dalam Injil hari ini. Orang-orang Farisi melihat murid-murid memetik bulir gandum pada hari Sabat dan segera mempersoalkan aturan.

Yesus membawa mereka kembali kepada makna terdalam Sabat. Ia menegaskan, “ Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Sabat diberikan untuk membawa manusia semakin dekat kepada Allah, dan kedekatan dengan Allah semestinya membuat hati semakin peka terhadap sesama. Sabat kehilangan maknanya ketika aturan dijaga dengan ketat, tetapi hati kehilangan belas kasih.

Karena itu, ketaatan kepada Tuhan tidak cukup diukur dari seberapa tertib kita menjalankan kewajiban agama, melainkan dari seberapa dalam ketaatan itu membawa hati kita kepada kasih.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bukan Sekadar Ditambal, Tetapi Diperbarui

Tuhan atas hari Sabat mengingatkan kita bahwa tujuan ketaatan adalah membiarkan hati dibentuk oleh kasih Allah.

Hati yang dibentuk oleh kasih Allah akan tampak dalam cara kita memperlakukan sesama. Paulus memperlihatkannya dengan sangat konkret. Ia lapar, haus, dihina, dianiaya, bahkan diperlakukan seperti sampah dunia.

Namun ia berkata, “Kalau kami dimaki-maki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah.” Paulus tidak membiarkan perlakuan buruk orang lain menentukan keadaan hatinya.

Dunia mengajarkan bahwa yang menyindir harus disindir kembali, yang mempermalukan harus dipermalukan, dan yang menyakiti harus merasakan sakit yang sama. Paulus memilih jalan lain karena Kristus telah mengubah hatinya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berlutut dalam Rahmat, Berdiri dalam Kerendahan Hati dan Kebenaran

Ketaatan yang sejati tidak membuat hati semakin keras terhadap sesama, tetapi semakin peka terhadap apa yang dikehendaki Tuhan.

Kita dapat memulainya hari ini dengan sederhana. Tahan satu kata kasar yang ingin kita balas, dan bawalah dalam doa satu orang yang telah melukai kita. Kemuridan kita diuji ketika kita mempunyai alasan untuk membalas, tetapi memilih tetap mengasihi.

Hati yang taat dan tetap mengasihi itulah yang pada Sabtu Pertama ini kita lihat dalam diri Bunda Maria. Maria menyimpan segala perkara di dalam hatinya dan merenungkannya di hadapan Allah.

Ia tidak memahami seluruh jalan yang harus dilaluinya, tetapi ia tetap percaya, tetap setia, dan tetap dekat dengan Puteranya sampai di bawah salib. Ketaatannya tidak mengeraskan hati. Justru karena taat kepada Allah, hatinya semakin luas untuk menerima, menyimpan, dan mengasihi.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Terimalah Rahmat,Bagikan Kebaikan

Bersama Maria, hari ini kita membawa para imam ke dalam doa-doa kita. Kita mohon agar di tengah kelelahan, kritik, kesalahpahaman, kesepian, dan beratnya pelayanan, mereka tidak kehilangan kelembutan hati seorang gembala.

Semoga seperti Maria, mereka memba wa banyak perkara ke dalam doa, tetap setia ketika tidak semuanya dapat dipahami, dan tetap mengasihi ketika kesetiaan menuntut pengorbanan.

Bunda Maria, jagalah hati kami dan hati para imam agar tetap dekat dengan Hati Kudus Puteramu. Sebab ketaatan yang membawa kita kepada Tuhan seharusnya tidak membuat hati semakin keras, melainkan semakin mampu mengasihi.

Petikan BUSA-H #05/09/2026

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian ) Ketika Sabda Membaca Hati Kita

”Ketaatan kepada Tuhan tidak diukur dari seberapa ketat kita menjaga aturan, tetapi dari seberapa dalam aturan itu membawa hati kita kepada kasih.”

”Sabat kehilangan maknanya ketika aturan dijaga dengan ketat, tetapi hati kehilangan belas kasih.”

”Ketaatan yang sejati tidak membuat hati semakin keras terhadap sesama, tetapi semakin peka terhadap apa yang dikehendaki Tuhan.”

”Tuhan atas hari Sabat mengingatkan kita bahwa tujuan ketaatan bukan sekadar menjalankan aturan, melainkan membiarkan hati dibentuk oleh kasih Allah.”

Tuhan memberkati kita#rd.fd@

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan