Kamis, 20 November 2025. Hari Biasa Pekan XXXIII. Kitab Pertama Makabe 2:15-29; Lukas 19:41-44.

Oleh: Rd.Fidelis Dua

SAUDARA-saudari terkasih. Ada seorang tukang kayu tua yang selalu membawa sebilah pahat kecil ke mana pun ia pergi. Ketika ditanya mengapa ia tidak membawa alat yang lebih besar dan lebih kuat, ia tersenyum dan berkata, “Justru pahat kecil inilah yang menentukan apakah sebuah ukiran berhasil atau gagal. Yang kecil itulah yang menyelamatkan bentuknya.”

Sering kali dalam kehidupan, yang menolong kita bukanlah sesuatu yang besar, melainkan kepekaan kecil untuk menangkap tanda-tanda yang mengarahkan kita pada kebaikan. Sayangnya, tidak sedikit orang kehilangan arah justru karena menolak tanda itu saat ia datang dengan wajah yang tidak kita harapkan.

Bacaan pertama hari ini memperkenalkan kepada kita sosok Matatias. Ketika tekanan dan ancaman mengintimidasi bangsanya, ia melihat bahwa inilah saatnya menentukan sikap. Ia menolak perintah yang bertentangan dengan imannya, bukan karena ia merasa kuat, tetapi karena ia sadar bahwa kadang hanya ada satu kesempatan untuk tetap setia.

Tindakan Matatias bukan sekadar penolakan; itu adalah kemampuan untuk membaca tanda Allah dalam situasi yang mengancam. Ia mengerti bahwa kompromi kecil dapat menjadi awal dari keruntuhan yang besar. Dan ketika ia berteriak memanggil umat yang setia, ia ingin berkata kepada kita: “Kesempatan untuk setia mungkin tidak datang dua kali.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kepercayaan dan Kesetiaan: Dua Pilar Karakter

Yesus dalam Injil pun mengalami kesedihan yang serupa. Ia berdiri menghadap Yerusalem dan menangis. Air mata itu bukan air mata manusia yang terluka, tetapi air mata ilahi yang melihat sebuah kesempatan ilahi terlewatkan.

Ia berkata, “Sekiranya pada hari ini engkau mengerti juga apa yang diperlukan untuk damai sejahteramu.” Yerusalem tidak mengenali saat Allah mendekat. Mereka menolak jalan damai karena jalan itu tampak terlalu menantang, terlalu sempit, terlalu asing bagi keinginan mereka.

Paus Fransiskus pernah mengingatkan, “Rahmat Allah sering mengetuk dengan pelan. Yang keras bukan Allah, tetapi hati kita.” Dan ketika hati mengeras, kesempatan berubah menjadi penyesalan.

Saudara-saudari terkasih, kedua bacaan ini menampar kesadaran kita. Matatias mengingatkan kita bahwa kesetiaan membutuhkan keberanian. Yesus mengingatkan kita bahwa kedamaian membutuhkan kepekaan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kehilangan Menjadi Jalan Pulang kepada Tuhan

Dalam hidup ini, tanda-tanda Allah tidak selalu hadir dalam bentuk yang lembut atau menyenangkan. Kadang ia datang melalui panggilan untuk bertobat, ajakan untuk melepaskan ego, atau dorongan untuk berdamai dengan seseorang yang selama ini kita abaikan.

Kesempatan ilahi tidak selalu dibungkus keindahan; sering ia hadir melalui sesuatu yang menuntut pengorbanan. Namun ketika kita berani mengikuti jalan itu, berkat yang diberikan Allah tidak berujung pada air mata duka, tetapi air mata sukacita.

Maka hari ini, marilah kita bertanya: Tanda apa yang sedang Allah berikan kepada saya? Kesempatan apa yang selama ini saya abaikan?

Semoga air mata Yesus atas Yerusalem tidak jatuh sia-sia, tetapi menjadi ajakan bagi kita untuk membaca tanda-tanda Allah dengan hati yang lembut dan setia. Karena ketika kesempatan ilahi direspon dengan keberanian, hidup kita tidak berakhir dalam penyesalan, tetapi dalam damai yang hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Iman yang Tidak Mau Dibungkam

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Hati yang peka mampu menangkap rahmat yang datang dalam keheningan; hati yang keras hanya akan mendengar gema penyesalan.”

“Kesempatan ilahi selalu menuntut keberanian, tetapi setiap keberanian yang kita ambil bagi Allah akan selalu berbuah damai yang tidak dapat diberikan oleh siapa pun selain Dia.”

Tuhan memberkati kita.

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan