Rabu, 31 Desember 2025. Hari Ketujuh dalam Oktaf Natal. Surat Pertama Rasul Yohanes 2:18-21; Yohanes 1:1-18.

Oleh: Rd Fidelis Dua.

SAUDARI dan saudara terkasih, tahun 2025 telah mengalir dengan segala dinamika kehidupan kita. Ada harapan yang tumbuh, ada rencana yang terwujud, namun tidak sedikit pula keputusan yang membawa kita pada kebingungan, kelelahan, dan pertanyaan batin yang dalam.

Banyak orang melangkah cepat mengejar kepastian, tetapi justru menemukan betapa rapuhnya kendali manusia atas waktu dan masa depan. Di tengah perubahan yang tak selalu ramah, manusia belajar bahwa tidak semua yang tampak kuat sungguh memberi pegangan, dan tidak semua yang menjanjikan masa depan benar-benar membawa makna.

Menjelang akhir tahun ini, kita berhenti sejenak untuk menengok perjalanan yang telah dilalui. Apa yang terjadi telah menjadi sejarah dan tidak dapat diulang. Namun pengalaman itu tidak sia-sia. Dari setiap keputusan, dari setiap keberhasilan dan kegagalan, kita dibentuk menjadi pribadi yang lebih sadar akan keterbatasan diri.

Waktu akan menunjukkan apakah langkah-langkah yang diambil lahir dari kebijaksanaan atau sekadar dorongan sesaat. Refleksi ini bukan untuk menyesali masa lalu, melainkan untuk memurnikan arah hidup ke depan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Hanna dan Seni Menunggu Allah di Tengah Dunia yang Bergegas

Dalam bacaan pertama, Rasul Yohanes berbicara dengan nada yang tegas dan menggugah “Waktu ini adalah waktu yang terakhir.” Ungkapan ini bukanlah alarm ketakutan, melainkan undangan untuk memiliki kesadaran rohani yang jujur dan dewasa.

Rasul Yohanes tidak sedang menghitung sisa-sisa waktu sejarah, melainkan membuka mata iman agar kita menyadari bahwa setiap masa adalah saat penentuan. Waktu yang terakhir berarti waktu ketika segala topeng mulai tersingkap, ketika iman tidak lagi dapat bersembunyi di balik rutinitas, simbol, atau kebiasaan religius semata.

Pada saat seperti ini, yang tersisa bukanlah apa yang tampak di luar, melainkan apa yang sungguh berakar di hati. Apakah Kristus benar-benar menjadi pusat hidup, atau sekadar hiasan yang kita simpan di pinggir perjalanan hidup ini.

Menjelang penutupan tahun 2025, kata-kata Yohanes terdengar semakin nyata. Setahun telah berlalu dengan segala keputusan, pilihan, keberhasilan, dan kegagalan. Kita tidak dapat memutar kembali waktu, tetapi kita dapat membiarkan waktu menyingkapkan kebenaran tentang diri kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman yang Menjadi Terang dalam Kasih

Waktu yang terakhir mengajak kita bertanya dengan jujur apakah iman kita bertumbuh menjadi semakin teguh atau justru melemah karena terlalu banyak kompromi dengan arus zaman. Akhir tahun bukan sekadar pergantian angka, melainkan kesempatan rahmat untuk membedakan antara iman yang hidup dan iman yang hanya bertahan di permukaan.

Iman yang teguh adalah relasi yang teruji. Iman itu tampak ketika kita sungguh menjadi milik Kristus, mengenal Dia, dan setia berjalan bersama-Nya, bahkan saat arus dunia menawarkan jalan yang lebih mudah, lebih cepat, dan lebih menguntungkan.

Di sinilah akhir tahun menjadi momen penyingkapan batin yang mendalam. Kepada siapa kita sungguh menyerahkan hidup sepanjang tahun yang telah berlalu. Penyerahan diri kepada Kristus berarti tidak ada jarak antara kita dengan Dia yang disebabkan oleh ketidakjujuran, ketidakadilan, kenyamanan semu, dan kepalsuan hidup.

Di akhir tahun, kita mungkin tidak kehilangan apa pun secara lahiriah, tetapi kita bisa kehilangan hati, ketika kita gagal melakukan kebaikan dan belarasa yang menyingkapkan apakah iman kita sungguh berakar. Maka, “waktu ini adalah waktu yang terakhir” menjadi panggilan kasih bagi kita semua di penghujung tahun 2025. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memurnikan iman.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Dari Keluarga Nazaret ke Rumah Kita

Waktu ini mengajak kita meninggalkan iman yang dangkal dan melangkah menuju iman yang dewasa, sebab hanya iman yang berakar pada Kristus yang mampu bertahan, memberi arah, dan menuntun hidup kita dari akhir menuju awal yang baru bersama Dia.

Sementara itu, Injil Yohanes membawa kita kembali lebih jauh, bahkan ke permulaan. Pada awal mula adalah Firman. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada satu pun yang ada. Ketika kita sampai di penghujung tahun, Gereja justru mengajak kita kembali ke awal. Kembali ke sumber. Kembali kepada Firman yang darinya hidup berasal.

Tahun ini mungkin memperlihatkan banyak hal yang tidak kita pahami, tetapi Injil menegaskan bahwa hidup tidak pernah lepas dari tangan Sang Pencipta. Firman yang menciptakan juga Firman yang menyertai, yang masuk ke dalam sejarah manusia, dan tinggal di antara kita.

Mendiang Paus Benediktus XVI pernah mengatakan bahwa iman Kristiani bukan pertama-tama sebuah ide, melainkan perjumpaan dengan Pribadi yang memberi arah baru bagi hidup. Akhir tahun menjadi kesempatan untuk bertanya dengan jujur apakah sepanjang tahun ini kita sungguh hidup dari perjumpaan itu atau hanya menjalankan rutinitas iman tanpa kedalaman.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Natal: Iman yang Menjelma dari Kata Menjadi Kasih

Untuk itu kita perlu ingat bahwa waktu lebih penting daripada ruang. Hidup tidak dinilai dari seberapa banyak yang dikuasai, tetapi dari kesetiaan dalam proses berjalan bersama Allah di dalam waktu.

Saudari dan saudara terkasih, ketika kita menutup tahun 2025, kita tidak hanya menoleh ke belakang, tetapi juga kembali ke awal iman kita. Kita diingatkan akan saat ketika pertama kali mendengar Sabda dan percaya. Kita bersyukur karena Allah telah memberi kita iman untuk mengenal Yesus sebagai Firman yang menjadi daging dan tinggal di antara kita.

Dialah yang menyertai dari awal hingga akhir. Maka marilah kita menutup tahun ini dengan hati yang bersyukur, iman yang dimurnikan, dan kepercayaan yang diperbarui. Dalam Firman yang mencipta dan menyelamatkan itulah, kita menyerahkan masa lalu, masa kini, dan masa depan hidup kita.

Bersyukur di akhir tahun bukanlah rasa puas karena semuanya berjalan baik, melainkan sikap iman yang berani mengakui bahwa Allah tetap setia hadir bahkan ketika hidup tidak selalu sesuai rencana. Syukur seperti ini lahir dari hati yang jujur, yang melihat setiap peristiwa sebagai ruang pembentukan, bukan sekadar hitungan untung dan rugi.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Natal yang Berani: Dari Palungan Menuju Kesaksian

Syukur yang sejati adalah syukur yang memurnikan, yakni menerima masa lalu tanpa menyangkalnya, belajar darinya tanpa terikat padanya, dan menyerahkan masa depan dengan kepercayaan penuh kepada Allah yang memimpin dari awal hingga akhir.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Di saat waktu menutup satu perjalanan, iman diuji bukan oleh apa yang telah kita capai, melainkan oleh kepada siapa kita bersandar.”

”Akhir tahun bukanlah kehilangan, tetapi undangan untuk kembali kepada Firman, sebab hanya Dia yang setia menyertai hidup kita dari awal hingga akhir.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan