BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Berjumpa dengan Kristus Dalam Sesama yang Paling Hina
Senin, 23 Februari 2026.Hari Biasa Pekan I Prapaskah.Kitab Imamat 19:1-2.11-18; Matius 25:31-46
Oleh; Rd.Fidelis Dua
SAUDARI dan saudara yang terkasih. Hidup beriman tidak berhenti pada bibir yang berdoa dan hati yang berpantang, tetapi melangkah dalam aksi tangan yang memilih mengasihi tanpa syarat.
Demikian pula kesucian bukan sekadar yang kita ucapkan kepada Tuhan, melainkan yang kita wujudkan dalam perbuatan kepada sesama. Inilah suara paling bergemah yang kita dengarkan dalam Sabda Tuhan hari ini.
Dalam Kitab Imamat ada tuntunan etis yang menegaskan bahwa kekudusan Allah harus tampak nyata dalam kejujuran, keadilan, dan hormat kepada martabat sesama. Larangan mencuri, berbohong, memeras, dan menahan upah pekerja menunjukkan bahwa iman bukan sekadar ibadah di altar, melainkan komitmen hidup yang jujur dan adil dalam relasi sehari-hari.
Perintah untuk tidak menaruh batu sandungan bagi yang lemah menegaskan pula bahwa takut dan taat kepada Allah mesti terwujud dalam perlindungan terhadap sesama yang rentan. Singkatnya, bacaan pertama membongkar kesalehan semu dan menuntut agar iman melahirkan etika sosial yang bersih.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Prapaskah: Peziarahan Hati, dari Godaan Menuju Rahmat
Dalam Masa Prapaskah, umat diajak bertobat sungguh-sungguh dari dosa-dosa relasional, seperti ketidakjujuran, ketidakadilan, dan kekerasan verbal serta membangun kembali integritas hidup sebagai buah pertobatan yang sejati.
Panggilan untuk mewujudkan iman dalam kasih yang nyata ini diperdalam oleh Injil, ketika Yesus menyingkapkan bahwa setiap tindakan kepada yang paling kecil sesungguhnya kita lakukan kepada-Nya sendiri.
Tindakan-tindakan kasih itu menjelma secara konkret kepada mereka yang lapar, haus, asing, telanjang, sakit, dan terpenjara; merekalah pribadi-pribadi yang paling hina. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan “yang paling hina” ini, sehingga setiap tindakan kasih bagi mereka menjadi perjumpaan langsung dengan Kristus.
Dalam Masa Prapaskah, ada banyak kesempatan untuk berjumpa dengan Kristus, maka hendaklah kita mengupayakan perjumpaan itu secara konkret melalui doa, puasa, dan sedekah termasuk dengan menggeser fokus dari diri sendiri kepada kebutuhan nyata sesama.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bangkit, Berbagi, dan Bersama Kristus
Berdoalah dengan setia, berpuasalah dengan disiplin, dan berbagilah dengan kerelaan hati. Jangan biarkan puasa kita hanya berhenti pada rasa lapar, dan jangan biarkan pantang kita hanya sekadar aturan. Jika kita menahan diri dari makanan, tahan juga diri dari dosa. Jika kita mengurangi pengeluaran, jadikan itu berkat bagi mereka yang berkekurangan supaya yang memiliki tidak merasa berkelebihan, yang tidak punya bisa merasa cukup.
Puasa sejati bukan hanya mengosongkan perut, tetapi membuka tangan untuk amal kasih. Karena kasih adalah bukti bahwa pertobatan kita sungguh nyata.
Kita mulai dari keluarga: ketika suami istri adil membagi tugas, peka terhadap kebutuhan satu sama lain, dan menyisihkan waktu untuk menemani anggota keluarga yang lelah atau sakit.
Di tempat kerja, ketika kita berani menolak manipulasi dan gosip, menghormati upah dan waktu orang lain, memperlakukan rekan secara adil tanpa pilih kasih, serta menjadikan profesionalisme sebagai wujud takut akan Allah.
Baca juga:BUSA-H ( Butiran Sabda Allah-Harian) Puasa dengan Hati, Menggerakan Tangan, Berbuah dalam Kasih
Di tengah masyarakat, kita berusaha melindungi yang rentan, seperti kaum difabel, para pendatang, dan kaum miskin serta tidak menaruh “batu sandungan” lewat ujaran yang melukai, aktif dalam gerakan solidaritas melalui donasi dan memberi tumpangan, serta berani berdiri di pihak kebenaran.
Inilah praktik-praktik Prapaskah yang perlu dihidupi secara jujur dan konsisten sebagai jalan pertobatan yang nyata, hidup, dan memerdekakan.
Petikan BUSA-H pada hari ini:
”Iman yang sejati tampak ketika hati berani menggeser pusat dari diri sendiri kepada kebutuhan nyata sesama.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Di Persimpangan Hati, Ada Jalan Salib Kehidupan
”Kesalehan yang benar bukan hanya sujud di altar, melainkan terang kejujuran, keadilan, dan perlindungan bagi yang rentan di lorong-lorong kehidupan sehari-hari.”
”Kita tidak menemukan Kristus di puncak kesalehan kita, melainkan di wajah-wajah paling hina yang kita datangi dengan doa yang bergerak, puasa yang berbelas kasih, dan sedekah yang lahir dari hati yang bertobat.”
Tuhan memberkati kita. #rd.fd@





