BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Maria Berduka Cita: Harapan yang Tidak Mengecewakan
Senin, 15 September 2025. Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita. Surat kepada Orang Ibrani 5:7-9; Lukas 2:33-35.
Oleh; Rd Fidelis Dua.
Saudari dan saudara terkasih.Dalam hidup beriman kita sering menjadikan Maria sebagai figur yang lembut, penuh kasih, dan senantiasa tersenyum. Namun pada hari ini, Gereja menghadirkan kepada kita wajah lain dari Maria: seorang ibu yang terluka, seorang perempuan yang hatinya ditembus pedang dukacita. Maria bukan hanya “Bunda penuh rahmat,” tetapi juga “Bunda yang berduka.” Dan justru dalam dukacitanya, kita melihat keteguhan imannya yang tak tergoyahkan.
Surat kepada Orang Ibrani hari ini menyingkapkan sisi terdalam dari Yesus: Anak Allah yang berdoa dengan ratap tangis dan keluhan, yang taat melalui penderitaan. Penderitaan bukan tanda kelemahan-Nya, tetapi jalan menuju kesempurnaan kasih dan sumber keselamatan abadi.Demikian juga Maria: ia belajar menaati kehendak Allah, meski harus melalui jalan air mata.
Lukas menegaskan nubuat Simeon: “Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” Pedang itu nyata saat Maria berdiri di kaki Salib, menyaksikan Putranya menderita. Namun di sanalah, dalam luka yang terdalam, Maria menemukan panggilannya yang tertinggi: menjadi Bunda Gereja.
Saudari dan saudara. Kita pun tidak jauh dari pengalaman Maria. Betapa banyak pedang yang menembus jiwa kita: kehilangan orang terkasih, kegagalan yang menyakitkan, pengkhianatan yang melukai, pergumulan hidup yang tak kunjung selesai.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Menatap Salib Menemukan Kehidupan
Kadang kita bertanya: di manakah Allah ketika kita menderita? Hari ini Maria menjawab dengan keheningan dan imannya: Allah ada di tengah air mata kita. Dukacita tidak menghapus iman, justru memurnikannya. Luka tidak mematikan harapan, justru mengarahkan kita pada keselamatan yang sejati.
Di kaki Salib, Maria tidak lari, tidak menyerah, tidak putus asa. Ia berdiri. Itulah teladan bagi kita: berdiri teguh di bawah salib kehidupan, memandang Kristus, dan mempercayakan seluruh dukacita kepada Allah. Sebab di kayu Salib, Kristus telah memulai penebusan dunia. Dan, bersama Maria, kita pun diajak untuk percaya bahwa setiap dukacita, bila dipersembahkan kepada Allah, dapat menjadi benih kehidupan baru.
Maka, marilah kita belajar dari Maria: jangan melarikan diri dari salib, tetapi berdiri di bawahnya. Jangan menyia-nyiakan air mata, tetapi jadikan doa. Jangan biarkan luka menjadi kepahitan, tetapi serahkan sebagai persembahan. Sebab di balik luka salib, ada wajah kasih Allah yang menyembuhkan; di balik dukacita, ada harapan yang tidak pernah mengecewakan.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Buah Kasih dari Hati yang Tulus
“Di balik air mata Maria yang jatuh di kaki Salib, kita belajar bahwa dari luka itu tumbuh harapan sejati yang abadi, yang tidak pernah mengecewakan karena berakar dalam Kristus.”
“Dalam diam dukacita Maria, Allah menyalakan cahaya kasih yang tak pernah padam.”
Tuhan memebrkati kita.





