BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Iman Memberi Arah, Sabda Menuntun Langkah
Rabu, 30 September 2026. Peringatan Wajib St. Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja
Kitab Ayub 9:1-12.14-16; Lukas 9:57-62.
Oleh: RD.Fidelis Dua
SSAUDARI dan saudara terkasih. Hidup sering menjadi berat bukan karena kita tidak mempunyai jawaban, tetapi karena kita ingin segala sesuatu berjalan menurut perhitungan kita.
Ayub sedang berada di titik ketika perhitungannya tentang hidup runtuh. Ia berkata, “Masakan manusia benar di hadapan Allah?” Ini bukan ajakan untuk merasa tidak berharga di hadapan Tuhan, melainkan kesadaran bahwa manusia tidak dapat menempatkan Allah di kursi terdakwa dan memaksa-Nya menjelaskan seluruh misteri kehidupan menurut ukuran kita.
Ayub bahkan mengakui bahwa karya Allah melampaui apa yang mampu dilihat dan dipahaminya. Di hadapan kenyataan seperti itu, manusia akhirnya belajar bahwa tidak semua hal harus dimengerti terlebih dahulu agar tetap dapat percaya kepada Allah.
Ada saatnya iman tidak memberi kita semua jawaban, tetapi memberi kerendahan hati untuk mengakui bahwa hidup lebih besar daripada yang sanggup kita mengerti.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Mikael Melawan, Gabriel Mewartakan, Rafael Menyembuhkan
Namun tidak memahami semuanya bukan alasan untuk berhenti melangkah. Dalam Injil, beberapa orang ingin mengikuti Yesus, tetapi selalu ada sesuatu yang harus dibereskan lebih dahulu, sehingga Yesus berkata, “Biarlah orang mati mengubur orang mati, tetapi engkau, pergilah dan wartakanlah Kerajaan Allah,” dan “Setiap orang yang siap untuk membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Perkataan ini terdengar keras, tetapi Yesus bukan sedang merendahkan keluarga atau kewajiban menguburkan orang mati. Yesus mau menunjukkan mendesaknya Kerajaan Allah dan bahayanya kehidupan iman yang terus ditunda.
Kita pun mempunyai banyak kalimat penundaan. Nanti kalau pekerjaan sudah tenang saya akan lebih dekat dengan Tuhan, nanti kalau ekonomi sudah mapan saya akan melayani, nanti kalau sudah tidak sibuk saya akan membaca Kitab Suci.
Terlalu sering berkata “nanti” kepada Tuhan dapat membuat kita akhirnya tidak pernah berkata “ya”. Seperti orang yang membajak sambil terus menoleh ke belakang, kita tetap bergerak, tetapi kehilangan arah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Jika Semuanya dapat Hilang, Apa yang Masih Kita Perebutkan
Karena itu, kita membutuhkan Sabda yang dapat menentukan arah langkah kita. Di sinilah Santo Hieronimus menjadi teman perjalanan yang sangat tepat. Hieronimus adalah imam, rahib, sarjana Kitab Suci, penerjemah dan Pujangga Gereja yang mengabdikan hidupnya secara mendalam pada Kitab Suci dan menghasilkan karya penerjemahan serta penafsiran yang sangat berpengaruh dalam tradisi Vulgata.
Karya-karyanya juga memperlihatkan kuatnya pembacaan Kitab Suci yang berpusat pada Kristus. Peringatannya menantang kita agar Kitab Suci tidak berhenti menjadi buku yang disimpan, ayat yang dikutip, atau renungan yang didengar, tetapi menjadi Sabda yang mengubah keputusan dan menentukan ke mana kaki kita melangkah.
Kita tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk mulai mengikuti Tuhan. Jangan terus menoleh ke belakang menunggu keadaan menjadi sempurna. Peganglah Sabda-Nya, arahkan bajak ke depan, dan berjalanlah bersama Kristus hari ini.
Petikan BUSA-H #30/09/2026
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tidak, Ya dan Ya, Tidak: Menyesal Lalu Melangkah
”Iman menjadi dewasa ketika kita berhenti memaksa Tuhan mengikuti perhitungan kita dan mulai berani melangkah mengikuti arah-Nya.”
”Jangan habiskan hidup menunggu semua menjadi jelas, sebab jalan sering menjadi jelas justru setelah kita berani melangkah.”
”Orang yang terus menoleh ke belakang mungkin tetap berjalan, tetapi ia sedang membiarkan langkahnya tidak terarah ke depan.”
”Sabda yang paling mengubah hidup bukanlah yang paling sering kita kutip, melainkan yang dapat kita hidupi.”
Tuhan memberkati kita#rd.fd@





