BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kemah, Pukat dan Hati yang Dibentuk Tuhan
Kamis, 31 Juli 2025. Peringatan Wajib St. Ignatius dari Loyola, Imam
Kitab Keluaran 40:16-21.34-38; Matius 13:47-53.
Oleh. RD.Fidelis Dua
MENDIANG Paus Fransiskus pernah menulis: “Kekudusan bukanlah pelarian dari dunia, tetapi kesediaan untuk melihat Allah dalam segala hal dan melayani-Nya dalam segala hal.” Ini selaras dengan semangat St. Ignatius dari Loyola yang hidupnya menjadi teladan tentang bagaimana menemukan Allah dalam segala sesuatu, dalam doa, pekerjaan, perjuangan, bahkan dalam pilihan-pilihan sulit.
Dalam Kitab Keluaran hari ini, kita membaca bahwa awan menutupi Kemah Pertemuan, dan kemuliaan Tuhan memenuhi Kemah Suci. Awan itu bukan sekadar simbol kehadiran Tuhan yang agung, tetapi juga penuntun bagi umat dalam perjalanan padang gurun. Selama awan itu tinggal, umat pun tinggal. Dan, jika awan itu bergerak, umat pun berjalan.
Ini adalah gambaran indah tentang bagaimana hidup orang beriman seharusnya: berjalan dalam terang dan ritme kemuliaan Tuhan, bukan berdasarkan keinginan sendiri.
Namun, Injil hari ini mengingatkan kita bahwa tidak semua yang ada dalam jaring akan diselamatkan. Yesus menggambarkan Kerajaan Surga seperti pukat yang menampung segala jenis ikan, tapi pada akhirnya ada pemisahan: ikan yang baik dikumpulkan, yang buruk dibuang.
Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Wajah Musa dan Mutiara yang Mengubah Segalanya
Ini adalah sabda yang serius: dalam kemah Tuhan, dalam jaring Kerajaan Allah, tidak cukup hanya berada di dalamnya. Artinya menjadi bagian dari Gereja atau komunitas iman belum tentu menjamin keselamatan, yang terpenting adalah bagaimana kita hidup, bertumbuh, dan menghasilkan buah sebagai murid Kristus.
Karena iman bukan sekadar identitas, tetapi komitmen untuk hidup benar setiap hari di hadapan Allah. Maka, kita tidak hanya “masuk” dalam jaring Kerajaan Allah, tetapi juga menjadi “ikan yang baik” sebagai pribadi yang setia, jujur, dan layak di hadapan Allah dan sesama.
Pesan ini sejalan dengan hidup St. Ignatius: ia tidak puas hanya menjadi bagian dari jaring Gereja, tetapi memilih untuk terus dimurnikan, dipimpin Roh Kudus, dan mengabdikan segalanya demi kemuliaan Tuhan. Baginya, discernment (membedakan kehendak Allah) adalah jantung kehidupan rohani.
Saudari-saudara terkasih, marilah kita belajar dari semangat Ignasian: melihat Allah dalam segala hal dan bertanya dalam doa: apakah aku tinggal dalam kemuliaan Tuhan, atau berjalan menurut awan kesombongan diri? Jangan hanya menjadi ikan yang tertangkap pukat, tetapi hiduplah sebagai orang pilihan yang dibentuk dalam kasih dan kebenaran. Dan jika kemuliaan Tuhan telah memenuhi hidup kita, biarlah hidup kita pun menjadi kemah suci tempat Allah tinggal.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Kasih: Rumah Kita Bersama untuk Hidup dalam Kristus
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Iman bukan soal masuk dalam jaring, tetapi tentang menjadi ikan yang layak dipilih dalam kasih dan kebenaran.”
”Kemuliaan Tuhan tak selalu bersinar terang; kadang Ia hadir dalam awan, agar kita belajar berjalan bukan dengan mata, melainkan dengan hati.”
Tuhan memberkati kita.
Penulis: Eginius Moa
Editor: Eginius Moa





