Minggu, 3 Agustus 2025. Hari Minggu Biasa XVIII. Kitab Pengkotbah 1:2;2:21-23; Kolose 3:1-5,9-11; Lukas 12:13-21.

Oleh: RD.Fidelis Dua

SAUDARA-saudari terkasih dalam Kristus. Mendiang, Paus Fransiskus pernah mengingatkan kita dalam salah satu tulisannya yang menyentuh: “Kita ini bukan pemilik dunia, melainkan peziarah. Apa yang kita miliki hanyalah pinjaman, dan yang kekal hanyalah kasih yang kita taburkan.”

Ungkapan ini menyoroti inti dari ketiga bacaan hari ini yang mengundang kita untuk meninjau ulang di mana kita menaruh hati, apa yang kita kejar, dan kepada siapa hidup kita ditujukan.

Bacaan pertama hari ini membawa kita masuk ke dalam permenungan yang jujur tentang makna hidup. Dalam dunia yang mengukur nilai seseorang dari pencapaian dan kepemilikan, Kitab Pengkotbah mengajak kita untuk bertanya ulang: apa sebenarnya yang kita cari, dan kepada siapa segala jerih payah ini kita arahkan?

Kitab Pengkotbah menggugah kita dengan pernyataan tajam: “Sia-sia, sungguh sia-sia, segala sesuatu adalah sia-sia.” Pengkotbah tidak sedang meratapi hidup tanpa arah, tetapi menyuarakan realitas bahwa hidup yang semata-mata berpusat pada usaha, kerja, harta, dan prestasi tanpa Tuhan akan berujung kekosongan. Apa gunanya semua jerih payah jika akhirnya hanya melahirkan kelelahan, kecemasan, dan kekhawatiran?

Baca Juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Berani Pulang, Berani Tegar: Jejak Yobel dan Yohanes

Pernyataan Pengkotbah hari ini sangat relevan bagi kita umat beriman zaman ini baik umat awam maupun pelayan Gereja. Kita hidup dalam dunia yang memuja kesibukan dan produktivitas, sering kali lupa bahwa hidup bukan tentang apa yang kita hasilkan, tetapi bagaimana kita menjalaninya bersama Tuhan.

Kita semua termasuk para imam, biarawan/karyawati harus berhati-hati agar pelayanan atau pekerjaan tidak menjadi proyek pribadi atau alat pencapaian diri. Apa pun yang tidak berakar pada kasih dan relasi dengan Allah akan berujung “sia-sia.”

Saudari dan saudara terkasih. Jika bacaan pertama menyadarkan kita akan kefanaan hal-hal duniawi, maka bacaan kedua mengarahkan hati kita kepada sumber hidup sejati, yaitu Kristus.

Rasul Paulus mengajak kita bukan untuk meninggalkan dunia, tetapi untuk menghidupi dunia dengan cara baru: dengan mengenakan manusia baru yang terarah pada kekekalan dan dipenuhi semangat Injil.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Berani Pulang, Berani Tegar: Jejak Yobel dan Yohanes

Rasul Paulus, dalam suratnya kepada Jemaat Kolose, mengajak kita untuk “mencari perkara yang di atas, tempat Kristus berada.” Ini bukan seruan untuk melarikan diri dari dunia, melainkan sebuah undangan untuk melihat dunia dan hidup kita dari sudut pandang kekekalan.

Paulus menegaskan bahwa manusia lama kita yang dikuasai oleh hawa nafsu, keserakahan, dan kepalsuan harus ditanggalkan, dan kita diajak untuk mengenakan manusia baru, yang diperbarui dalam pengenalan akan Allah dan hidup dalam kebenaran.

Bagi kita para murid Kristus, ini merupakan tantangan untuk tidak menilai hidup hanya dari apa yang tampak: sukses duniawi, pengakuan sosial, atau kenyamanan pribadi. Kita dipanggil untuk hidup sebagai pribadi baru yang mencerminkan kasih Kristus: jujur, sederhana, setia, dan penuh belas kasih. Semangat pembaruan ini juga menjadi jalan menuju kebebasan sejati, bebas dari kelekatan dunia dan bebas untuk mengasihi.

Saudari dan saudara yang terkasih, setelah menyadarkan kita akan kefanaan dunia dan mengarahkan hati kepada perkara yang di atas, kini Injil menantang kita untuk memeriksa di mana sesungguhnya kita menaruh harta dan harapan saat ini. Lewat perumpamaan yang tajam, keras namun penuh kasih, Yesus bersabda: ”Waspadalah terhadap segala ketamakan!”

Baca  juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kemah, Pukat dan Hati yang Dibentuk Tuhan

Ia menceritakan perumpamaan tentang seorang kaya yang menumpuk panen dan berencana hidup santai, namun malam itu juga nyawanya diambil. Pertanyaan Yesus sangat menggugah: “Bagi siapakah nanti harta yang telah kau sediakan itu?”

Pertanyaan ini bukan hanya kritik terhadap orang kaya, tetapi terhadap siapa saja yang menaruh kepercayaan pada hal-hal duniawi. Harta yang menumpuk tidak akan menjamin keselamatan.

Ketamakan bukan hanya soal uang, tetapi juga ego, ambisi, dan rasa aman yang palsu. Dalam dunia yang menilai keberhasilan dari apa yang dimiliki, Yesus mengajak kita untuk menilai hidup dari bagaimana kita memberi, bukan menimbun. Maka berhenti menimbun hanya untuk diri sendiri dan mulai memberi atau berbela rasa, agar hidup kita sungguh berarti, bukan hanya kaya di dunia, tetapi juga di hadapan Allah.

Bagi para imam, kaum terpanggil dan pelayan Gereja lainnya, Sabda Tuhan hari ini merupakan panggilan profetis. Kita bukan penimbun kehormatan atau pengakuan, tetapi penabur kasih dan pembawa pengampunan. “Pelayanan adalah pengurus, bukan penguasa,” kata Paus Leo XIV. Harta seorang pelayan adalah umat yang dilayani, bukan kemewahan pribadi.

Baca juga: BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kemah, Pukat dan Hati yang Dibentuk Tuhan

Saudara-saudari terkasih, ketiga bacaan hari ini membawa kita pada permenungan untuk memeriksa kembali orientasi hati kita. Hidup bukan soal seberapa banyak yang kita miliki, tetapi kepada siapa kita mempersembahkan hidup kita. Kita diundang untuk menanggalkan manusia lama, mencari perkara yang di atas, dan menjadi pribadi yang membangun harta bukan di bumi, tetapi di surga dalam kasih, pengampunan, dan pelayanan.

Mari kita hidup sebagai peziarah, bukan pemilik dengan terus taburkan kasih, bukan menimbun milik. Dan jika hari ini Kristus bertanya, “Di mana hartamu?” semoga kita dapat menjawab: “Di dalam Engkau, Tuhan, dan di wajah sesama yang Kau percayakan kepadaku.”

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Yang kekal bukanlah apa yang kita timbun, sebab kita bukan dikumpulkan untuk memiliki lebih, tetapi diutus untuk menaburkan kasih dengan tulus dan mencintai lebih dalam.”

“Ketika dunia memuji penimbun, Tuhan mencari penabur sebab harta yang sejati tak terletak di lumbung, melainkan di wajah sesama yang kita kasihi.”

Tuhan memberkati kita.

Editor: Eginius Moa

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan