Sembilan Tahun Kopdit Obor Mas Sukses Salurkan KUR, Apa Resepnya?
MAUMERE,dewadet.com-Tahun yang kesembilan, Kopdit Obor Mas Maumere di Pulau Flores mendapatkan kepercayaan pemerintah pusat untuk menyakurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Pada 2025, Kopdit Obor Mas mendapat plafon Rp 200 milar, naik Rp 50 milar dari penyaluran tahun 2024 sebesar Rp 150 miliar.
Lima syarat selalu dipertahankan manajemen dipimpin General Manajer Kopdit Obor Mas, Leonardus Frediyanto Moat Lering. Salah satunya performance loan (NPL) berada di angka nol. Kopdit Obor Mas, satu-satunya Kopdit asal Provinsi NTT, salah satu dari tiga koperasi di Indonesia menyalurkan KUR.
Yanto, sapaan Leonardus Frediyanto membeberkan berbagai jurus menjaga kepercayaan menyalurkan KUR. Penyaluran KUR juga tidak merusak semangat swadaya dan solidaritas, justru sebaliknya semakin menguatkan.
Baca Juga: Kopdit Obor Mas Salurkan KUR Rp 200 Miliar, Naik Rp 50 Miliar dari Tahun 2024
“KUR tidak merusak swadaya dan solidaritas anggota, bahkan membuat semangat swadaya semakin bagus. KUR membantu anggota, karena dia pinjam uang koperasi dengan suku bunga bisnis, tetapi sebagian bunga ditanggung oleh negara. Negara mensubsidi bunga kepada anggota, bukan kepada koperasi,” kata Yanto, Sabtu malam 3 Mei 2025 kepada dewadet.com.
Dana KUR bersumber dari simpanan anggota. Negara tidak memberi modal,tetapi mensubsidi bunga, maka ketika audit untuk memberikan izin mengelola KUR, hal pertama yang diperiksa adalah ‘car ratio’ dan besarnya modal atau simpanan.
“Punya modal tidak, sebab negera tidak bantu modal untuk salurkan KUR,” kata Yanto.
Waktu lalu, kata Yanto, banyak orang salah persepsi, tidak mengikuti penjelasan KUR secara utuh, sehingga membuat kesimpulan yang salah lalu mempromosikan hal yang salah itu.
Baca Juga: Mulailah dari Pendidikan, Saran Romanus Woga untuk Koperasi Desa Merah Putih
“Ketika saya diberikan kesempatan menyampaikan testimoni KUR dalam RAT, baru mereka kaget. Ketika mereka ingin mau masuk kelola KUR sudah terlambat,” katanya.
Yanto membenarkan semua koperasi ditawarkan menyalurkan KUR, tapi ketika mengajukan permohonanakan disurvey oleh OJK, Kemenkop dan Kemenkeu. Kondisi saat sekarang, kelima syarat ini tidak mudah dipenuhi oleh semua koperasi.
“Buktinya sampai sekarang hanya ada tiga koperasi yang bisa salurkan KUR. Terakhir koperasi dari Bali. Belum ada yang pecahkan telur. Syaratnya tidak mudah apalagi kondisi saat ini, NPL tinggi makin susah,” imbuh Yanto.
Baca Juga: Buku Tulis dan Tas Sekolah Bantuan Wakil Presiden Tiba di Bandara Frans Seda Maumere
Bagaimana mempertahankan NPL tetap nol? Yanto mangakui bantuan yang diberikan kelompok sahabat (KS). Setiap liason officer (LO) punya anggota binaan, mereka rutin mengunjungi anggota, memberikan edukasi, konsultasi bisnis dan senantiasi mengikuti pergerakan usaha anggota.
“Staf telaten beri pembinaan, karena dibutuhkan pendampingan serius dari manajemen. Kalau setengah-setengah, kita datang hanya untuk jemput angsuran pinjaman tentu tdak bisa. Kita harus punya waktu untuk mereka, diskusi, menanyakan keadaan mereka, apa yang bisa kita berikan bantuan, soluasinya,” imbuh Yanto.
“Saya selalu ingatkan (staf), lebih baik kita tidak usah jadi penyalur KUR daripada nanti dicap sebagai koperasi penghancur program KUR yang bagus ini,” tegas Yanto.
Baca Juga: Romanus Woga Ibaratkan Koperasi Desa Merah Putih, Matahari Tenggelam Sebelum Terbit
Karena banyak lembaga yang menyakurkan KUR, NPL-nya nol. Setiap staf harus bisa kelola anggota meminjam KUR. Minimal sehari bisa kunjungi mereka.
Sebab menurut Yanto, ada kecendrungan masyarakat konsumtif tinggi, ketika usaha sedang berjalan bagus, maka perlu pendampingan terus menerus.
Kopdit Obor Mas mulai menyalurkan KUR pada 19 Desember 2017 diresmikan oleh Menkop UKM, AAN Puspayoga. *
Penulis: Eginius Moa
Editor: Eginius Moa




