Kamis, 11 Desember 2025. Hari Biasa Pekan II Adven.  Kitab Yesaya 41:13-20; Matius 11:11-15

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARI-saudara, para peziarah yang terkasih, dua bacaan hari ini membawa untuk kita satu pesan yang sama: Tuhan dekat kepada umat-Nya. Nabi Yesaya menegaskan, “Aku ini Tuhan, Allahmu… Aku memegang tangan kananmu. Janganlah takut.” Dan Injil Matius menghadirkan Yohanes Pembaptis sebagai pemandu Adven, yang berseru: “Kembalilah kepada Allah! Siapkan jalan bagi-Nya!”

Dan hari ini, di Lourdes, tempat Maria menampakkan diri kepada Bernadette, pesan kedua bacaan menjadi hidup kembali di depan mata kita, yakni Allah tetap hadir, menolong, dan menyembuhkan umat-Nya.

Saudari-saudara, para peziarah yang terkasih. Di tahun Yubelium ini, kita berziarah sebagai Peziarah Pengharapan. Artinya apa? Artinya kita datang bukan untuk mencari mujizat instan, tetapi untuk membiarkan Allah menyentuh hati kita; kita datang bukan untuk menghindari salib dan pergumulan hidup, tetapi untuk menemukan kekuatan baru; kita datang bukan sebagai turis rohani, tetapi sebagai anak-anak yang kembali kepada Bapa yang merangkul. Peziarah Pengharapan adalah orang-orang yang berjalan sambil percaya bahwa Allah selalu berada di depan, membuka jalan bagi kita.

Di Lourdes, tempat di mana jutaan peziarah datang membawa persoalan hidup, air mata, harapan, dan permohonan, kita merayakan Ekaristi sebagai tanda bahwa Allah tetap berjalan bersama umat-Nya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Datanglah: Ketika Kita Lelah dan Allah Tidak Letih Menopang 

Ziarah Yubelium ini menjadi kesempatan untuk memperbarui iman bahwa Allah yang berbicara kepada Yesaya adalah Allah yang sama yang membimbing Bunda Maria menampakkan diri kepada Bernadette: Allah yang merendah, menyentuh yang kecil, dan mendekat untuk mengangkat yang rapuh.

Yesaya berbicara kepada umat yang takut dan kehilangan pegangan, seperti banyak di antara kita yang cemas soal kesehatan, soal rumah tangga, masa depan anak-anak, dan hidup yang makin tidak pasti.

Tetapi firman Tuhan tegas: “Jangan takut… Akulah yang menolong engkau.” Dan di Lourdes hari ini, pesan ini tidak hanya didengar, tetapi dialami; ia bergema dalam setiap lilin yang dinyalakan, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap peziarah yang datang dengan air mata tetapi pulang dengan kedamaian, karena Allah memegang tangan kita bukan sekadar secara simbolis, melainkan secara nyata melalui kasih-Nya yang menyembuhkan. Di Lourdes ini, Allah memulihkan bukan hanya tubuh kita, tetapi terutama hati dan jiwa yang goyah.

Saudari-saudara, para peziarah yang terkasih. Injil Matius menempatkan Yohanes Pembaptis sebagai pemandu kita di masa Adven, utusan Allah yang “mengembalikan hati umat kepada Allah” dengan seruan sederhana namun radikal: “Bertobatlah! Persiapkan hatimu!”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Allah yang Menggendong dan Mencari Hingga Menemukan 

Di sini, pertobatan bukan pertama-tama soal tekad besar untuk berubah, melainkan langkah rendah hati dan keberanian sederhana untuk berkata, “Tuhan, aku kembali. Pimpinlah aku di jalan hidup ini.”

Yohanes tidak mencari kemuliaan dirinya; ia hanya menunjuk kepada Yesus dan karena kesetiaan itulah Yesus meninggikan dia sebagai yang terbesar di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan.

Demikian pula di Lourdes, Bunda Maria hadir bukan untuk dipuja, tetapi untuk membawa kita kembali kepada Putranya, mengulangi kata-kata di Kana: “Lakukanlah apa yang dikatakan-Nya kepadamu.”

Dengan demikian, Yohanes Pembaptis dan Bunda Maria berdiri sejalan sebagai dua suara yang memanggil kita pada hal yang sama: membuka jalan bagi Tuhan dalam hati kita, kembali memusatkan hidup pada-Nya, dan membiarkan Dia masuk untuk memperbarui seluruh hidup kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Rahmat yang Mendahului Segalanya

Saudari-saudara, para peziarah yang terkasih. Dalam Ekaristi bersama di Lourdes hari ini, kita membawa harapan—bukan harapan kosong—melainkan harapan yang lahir dari pengalaman bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Paus Fransiskus pernah berkata, “Harapan adalah keberanian untuk berjalan di tengah badai sambil percaya bahwa Tuhan tetap memegang tangan kita.” Inilah harapan seorang Peziarah Pengharapan di Tahun Yubelium ini: percaya bahwa Allah bekerja bahkan ketika kita tidak melihat, dan membiarkan hati kita diperbarui oleh kelembutan-Nya setiap hari.

Maka hari ini, di Gua Maria Lourdes, marilah kita datang dengan hati terbuka. Datang apa adanya. Datang dengan beban, kecemasan, dan kerinduan sambil berharap bahwa kekuatan Tuhan akan mengubah semuanya dengan kelembutan kasih-Nya. Sebab Allah yang sama yang berbicara kepada Yesaya, Allah yang memanggil Yohanes Pembaptis, Allah yang mengutus Bunda Maria ke Lourdes adalah Allah yang memegang tangan kita saat ini.

Dengan demikian, makna ziarah Yubelium di Lourdes adalah membiarkan diri disentuh dan diperbarui, menyerahkan seluruh hidup kepada Bunda Maria agar Ia menuntun kita kembali kepada Putranya, sumber pengharapan sejati.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Datanglah, Tuhan, Pulihkanlah Kami!

Akhirnya dengan penuh penyerahan diri, kita berseru kepada Bunda Maria di Lourdes: ”Bunda Maria dari Lourdes, dalam dosa dan kerapuhan kami, kami datang memohon agar engkau menuntun kami kembali kepada Yesus, sumber pemulihan dan damai. Peluklah kami dalam kasihmu agar dengan hati yang baru kami berani melangkah lagi di jalan pengharapan yang Tuhan buka bagi kami. Engkaulah Bunda kami selama-lamanya.”

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

“Ziarah adalah perjalanan hati yang pulang kembali kepada Tuhan yang selalu berjalan di samping kita.”

“Pengharapan tumbuh ketika kita membiarkan tangan Allah menyentuh luka dan dosa yang paling kita sembunyikan.”

Tuhan meberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan