BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Datanglah: Ketika Kita Lelah dan Allah Tidak Letih Menopang
Rabu, 10 Desember 2025. Hari Biasa Pekan II Adven. Kitab Yesaya 40:25-31; Matius 11:28-30.
Oleh: Rd.Fidelis Dua.
SAUDARA-saudari terkasih, kedua bacaan hari ini berbicara tentang Allah yang tidak pernah letih menopang kita yang rapuh, serta Kristus yang mengundang siapa saja yang berbeban berat untuk datang dan menemukan kelegaan.
Yesaya menegaskan kuasa dan kesetiaan Allah yang kekal, sementara Injil Matius menghadirkan Yesus sebagai wajah kelembutan Allah yang memulihkan.
Yesaya berseru kepada umat yang patah harapan dalam pembuangan: “Tuhan tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu… Ia memberi kekuatan kepada yang lelah.”
Seruan ini menggemakan sebuah kebenaran mendalam, yakni kita memang rapuh, tetapi Allah tidak. Kita memang terbatas, tetapi Dia tidak pernah berhenti mencari, menuntun, dan mengangkat kita.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Allah yang Menggendong dan Mencari Hingga Menemukan
Dalam dunia sekarang, kita juga hidup di tengah “pembuangan” versi modern, seperti bencana dan penderitaan, kecemasan akan hidup bersama yang lebih baik, tuntutan pekerjaan, keretakan keluarga, beban emosional yang tidak selalu terlihat.
Kita mungkin tersenyum di luar, tetapi di dalam kita lelah. Namun kepada kitalah seruan Yesaya disampaikan: “Mereka yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru.”
Yesus dalam Injil Matius melanjutkan nada penghiburan itu: “Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu.” Yesus tidak berkata, “Bereskan dulu hidupmu, baru datang.” Tidak. Ia berkata, “Datang saja.” Ia mengundang yang hancur, yang capek berjuang sendirian, yang merasa buntu dan kehilangan arah.
Lalu Ia menawarkan “kuk” yang baru: bukan beban yang menindas, melainkan cara hidup yang dipenuhi kelembutan, kerendahan hati, dan penyerahan diri kepada Bapa. Kuk Kristus adalah kebebasan dari tekanan untuk menjadi kuat.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Rahmat yang Mendahului Segalanya
Paus Fransiskus dalam banyak kesempatan mengingatkan, “Allah tidak pernah bosan mengampuni dan mengangkat kita; justru kitalah yang sering bosan meminta belas kasih.”
Ucapan ini menyentuh inti hati kita di masa Adven ini bahwa masa penantian, masa membiarkan Allah kembali menjemput kita. Kita menantikan Tuhan yang datang tidak dengan kekuatan duniawi, tetapi dengan hati yang lembut dan rendah, yakni hati yang berani membuka diri pada kerapuhan sendiri dan tetap memilih untuk mengasihi, sekalipun disakiti; tetap bersabar kendati kita disakiti, tetap mencintai walaupun kita dicemooh.
Untuk itu di masa Adven ini kita mesti berhenti sejenak, menaruh beban kita di kaki Kristus, dan belajar memikul kuk-Nya: kuk kelembutan, kuk kerendahan hati, kuk ketenangan batin dengan bersandar pada Dia yang tidak pernah letih menopang.
Inilah kuk Yesus yang “enak” karena hanya cinta yang rendah hati dapat membuat hidup yang berat menjadi ringan kembali.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Datanglah, Tuhan, Pulihkanlah Kami!
Maka hari ini, marilah kita datang. Datang sebagaimana adanya. Datang tanpa topeng. Datang dengan seluruh lelah batin kita. Sebab Dia yang kekal, Dia yang tidak pernah letih, sedang menunggu untuk memberikan kekuatan baru agar kita terbang, bukan dengan kekuatan kita, tetapi seperti rajawali yang terangkat oleh Tuhan.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Sering kali kita mencoba menjadi kuat dengan cara kita sendiri, padahal kekuatan sejati justru lahir ketika kita berani datang sebagai manusia yang rapuh.”
“Ketika kita berhenti memikul hidup seorang diri dan mulai memikul kuk Kristus, kita menemukan bahwa beban tidak selalu hilang, tetapi hati menjadi lebih ringan.”
Tuhan memberkati kita.





