Sabtu, 21 Maret 2026. Hari Biasa Pekan IV Prapaskah. Kitab Yeremia 11:18-20; Yohanes 7:40-53

Oleh: Rd Fidelis Dua

SAUDARI dan saudara yang terkasih, ada sesuatu yang berbeda dari cara Yesus berbicara. Bukan hanya karena kata-kata-Nya indah atau penuh kuasa, tetapi karena kata-kata itu terasa menyentuh sekaligus menyengat.

Ia tidak sekadar berbicara kepada orang banyak, Ia seolah berbicara langsung ke dalam hati setiap orang. Dan justru di situlah kegelisahan muncul. Orang-orang mulai bertanya, berdebat tentang Dia, bahkan menolak. Bukan karena mereka tidak mengerti, tetapi mungkin karena mereka merasa sudah mengerti.

Namun sayang, yang mereka pahami sering kali hanya sebatas kata-kata, bukan kebenaran yang menyentuh dan mengubah hidup. Maka tampaklah dua sikap hati, ada yang menutup diri hingga tidak melihat karya keselamatan, tetapi ada juga yang perlahan membuka diri dan mulai mendengar kehadiran rahmat itu.

Di sinilah kita belajar bahwa kepandaian tanpa iman dapat membawa pada kebingungan, tetapi hati yang rendah dan terbuka akan lebih mudah mengenali karya Allah. Nikodemus menjadi contoh yang indah. Ia datang dalam keheningan, mencari, dan berani berdiri di pihak kebenaran dan keadilan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Saat Kebenaran Mengusik; Berani Berkaca, Berani Berubah

Saudari dan saudara yang terkasih, Sabda Yesus tidak selalu nyaman. Ia menyentuh bagian terdalam hati dan kadang membongkar apa yang tidak beres dalam diri kita. Itulah sebabnya orang bereaksi berbeda, ada yang terbuka, ada yang menolak.

Hal ini sejalan dengan pengalaman Nabi Yeremia yang mengalami penolakan dan rencana jahat dari mereka yang tidak mau menerima kebenaran. Artinya, ketika kebenaran Allah bekerja, tidak semua orang siap menerimanya. Maka, ketika Sabda Tuhan terasa tidak nyaman, jangan buru-buru menolak.

Bisa jadi justru di situlah Tuhan sedang mengubah hati kita. Hati yang merasa paling benar memang sulit disentuh oleh rahmat-Nya. Karena itu, belajarlah untuk tetap rendah hati, bahkan saat kita merasa sudah paham. Jangan hanya mengandalkan logika atau pengetahuan, tetapi latihlah hati untuk peka, jujur, dan terbuka pada Tuhan. Sikap inilah yang menjadi tanda iman yang sejati, iman yang berani tetap setia dan bersaksi di tengah pertentangan.

Saudari dan saudara yang terkasih, kita hidup di zaman di mana kata-kata begitu murah. Semua orang bisa berbicara, berkomentar, dan menilai. Tetapi jarang ada kata yang benar-benar tinggal, yang menembus, yang membuat kita berhenti sejenak dan berkata, ini memang lain. Kita lebih sering mendengar apa yang ingin kita dengar, bukan apa yang perlu kita dengar.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Diam yang Taat, Hati yang Percaya

Maka dalam Masa Prapaskah ini kita diajak belajar mengenali suara yang berbeda itu. Suara yang tidak selalu nyaman, tetapi jujur. Suara yang tidak memanjakan, tetapi memanggil. Suara yang tidak sekadar lewat di telinga, tetapi menetap di hati. Itulah suara yang mungkin terasa asing, namun justru di sanalah Tuhan bekerja membaharui hidup kita dari dalam.

Dalam semangat pembaruan itu, kita juga bersukacita bersama saudara dan saudari kita umat Muslim yang merayakan Idul Fitri. Setelah menjalani bulan Ramadan dengan puasa, doa, dan pengendalian diri, mereka diajak kembali kepada hati yang bersih dan jujur di hadapan Tuhan dan sesama.

Semangat ini sejalan dengan panggilan kita dalam Masa Prapaskah, yaitu kembali kepada Tuhan dengan hati yang diperbarui. Sama-sama kita belajar bahwa pembaruan hidup selalu dimulai dari hati yang mau mendengar dan mau berubah.

Di tengah kebisingan zaman ini, marilah kita tidak kehilangan kepekaan untuk mendengarkan Dia yang berbicara dalam keheningan, yang menyapa hati kita dengan cara yang sederhana, namun sanggup mengubah hidup kita menjadi baru.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Allah Terus Bekerja, Maka Kita Pun Tak  Boleh Lelah

Petikan BUSA-H untuk kita:

”Kebenaran Tuhan tidak selalu datang untuk menenangkan, kadang ia datang untuk meruntuhkan agar kita dibangun kembali dengan hati yang baru.”

”Bukan karena kita tidak mendengar, tetapi karena kita takut berubah, maka kita menolak suara yang sebenarnya menyelamatkan.”

”Saat Sabda terasa mengganggu dan tidak nyaman, mungkin itu tanda bahwa Tuhan sedang menyentuh bagian terdalam yang selama ini kita sembunyikan.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan