Keluarga Miskin Ekstrim di Sikka, Suami-Istri Punya Industri Pengolahan Minuman dan Tenun Ikat
MAUMERE,dewadet.com-Pendataan rumah tangga miskin di Kabupaten Sikka, Pulau Flores menyisahkan problem sangat serius. Ratusanmungkin juga ribuan keluarga yang seharusnya berhak menerima berbagai peyangga justru tidak bisa mendapatkan karena kesalahan mengisi pertanyaan ketika pendataan.
Di Desa Waihawa, Kecamatan Doreng, sepasang suami-istri, menggarap dan mendirikan rumah sederhana pada lahan milik orang lain.
Sang suami berprofesi petani musiman menggarap lahan ketika musim hujan. Bila musim kemarau, dia beraloh mengiris pohon lontar kelak diolah menjadi ‘moke’, minuman keras lokal. Bila ada proyek di desa atau wilayah sekitarnya, sang suami beralih menjadi buruh proyek.
“Tercatat sebagai petani, tetapi bekerja serabutan sesuai musim. Iris tuak dan buruh proyek,” kata Stef Say, anggota DPRD Sikka dalam pembahasan KUA-PPAS, Kamis 4 September 2025 di Gedung Kulababong, Jalan El Tari. Kota Maumere.
Baca juga: Orang Miskin Habiskan Uang Belanja Beras dan Rokok
Lain lagi profesi sang istri. Seperti umumnya perempuan yang tinggal di kampung-kampung, menenun menjadi pilihan pekerjaan.
“Suaminya petani dan iris tuak. Pohon lontar saya punya, namun perhitungan dalam kluster dia menjadi pengusaha industri pengolahan minuman. Istrinya pengusaha industri tentun ikat,” Stef membeberkan.
“Seharusnya mereka ada di desil satu, lompat menjadi desil enam. Orang miskin ekstrim tetapi tidak bisa mendapat penyangga sosial apapun,” kata Stef Say.
Ada lagi kepala keluarga disabilitas. Dia lumpuh kaki kiri dan kanan mengelola sebuah kios sangat kecil, menjual beras beberapa puluh kilogram. Pintu kios, dilukiskan Stef Say mirip lubang kecil.
Baca juga: Provinsi NTT Peringkat Lima, Jawa Timur Urutan Pertama Penduduk Miskin
“Kepala keluarga tercatat berprofesi usaha ritel pertokoan. Bayangan saya toko besar seperti ritel-ritel di kota. Sedangkan istrinya punya industri tekstil. Seharusnya desil satu miskin ekstrim tapi tercatat pada desil enam,” sesal Stef Say.
“Ini alasanya apa? Posisinya jauh sekali. Ternyata dari jawabanya atas pertanyaan dalam pendataan yang membuatmya ada di desil enam,” kata Stef.
Stef dihubungi Kamis malam mengatakan temuan yang dibeberkan banyak didapatkan dalam kunjungan ke desa-desa semisal di Desa Henga, Kecamatan Talibura.
Ketua DPC Partai Gerindra Sikka berharap pendataan ini tidak statis, dapat dievaluasi setiap tiga biulan. Meski menjadi soal kelak dalam musyawarah desa (Musdes), apakah masyarakat desa yang lain jujur menilai saudaranya apakah layak atau tidak.
Baca Juga: Iris Tuak, Penenun dan Papalele Ikan Mengira Terima Uang Tunai usai Buka Rekening Bank NTT
Stef menyarankan Dinas Kependudukan Sikka, Dinas Sosial Sikka untuk mengedukasi masyarakat mengisi pendataan.Karena basis data yang sama bisa dimanfaatkan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten untuk kepentingan masyarakat.
“Informasi masih ada tiga ribu yang lowong di BPS Sikka,” kata Stef Say.*
Penulis: Eugenius Moa
Editor: Eugenius Moa




