Perilaku Hewan Memprediksi Fenomena Gempa Bumi

Terminal penumpang Pelabuhan Lorens Say di Kabupaten Sikka, Pulua Flores, Provinsi NTT, rusak diguncang gempa bumi bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. (dewadet.com/eginius moa)

JAKARTA,dewadet.com-Sejauh ini memang belum ada cara memprediksi waktu kejadian gempa bumi, namun beberapa fenomena disebut bisa menjadi penanda, termasuk perilaku aneh hewan.

Dikutip dari CNBC Indonesia, ada sejumllah cerita menunjukkan berbagai hewan melakukan aktivitas tak biasa tepat sebelum gempa bumi mengguncang wilayah tersebut.

Misalnya di Haicheng China pada 1975, sejumlah hewan ditemukan memiliki perilaku aneh. Mulai dari temuan ratusan ular mati, hewan ternak yang menolak masuk kandang, ayam-ayam yang berlarian, anjing-anjing menggonggong tanpa terkendali, hingga para kucing yang enggan masuk ke rumah.

Perilaku ini ditanggapi para pejabat dengan mengevakuasi seluruh kota. Tak lama kemudian, kota itu diguncang gempa berkekuatan M7,3 dan merusak 90 persen bangunan.

Baca juga:Gempa Flores Bikin Retakan 100 Meter di Danau Kelimutu

Tahun lalu, segerombolan gajah di San Diego Zoo Safari Park terlihat membuat lingkaran di sekitar dua anak gajah sebelum gempa bumi M5,2 terjadi di sana.

Ada banyak pandangan mengenai mengapa aktivitas tak biasa hewan nampak sesaat sebelum gempa terjadi.

Salah satunya adalah teori yang mengatakan batuan yang berada jauh di permukaan Bumi memilki tekanan ekstrem sebelum gempa. Hingga pada akhirnya melepaskan perubahan elektromagnetik ke permukaan yang bisa dirasakan oleh para hewan.

Selain itu, patahan karena tekanan juga melepaskan gemuruh dalam frekuensi rendah, dikutip dari IFL Science.

Baca juga:Paus Leo XIV Turut Berduka untuk Korban Gempa Flores

Kemungkinan lainnya adalah gempa bumi yang berkembang memicu pembentukan bahan kimia tertentu, seperti hidrogen dalam air atau ozon di daratan. Ini pernah tercatat beberapa hari sebelum gempa di Gujarat India pada 2021, di mana ditemukan lonjakan karbon monoksida. Zat kimia yang berkembang pesat inilah yang dideteksi oleh para hewan di lingkungannya.

Perbedaan kemampuan hewan juga bisa memicu reaksi pada lingkungan. Seperti gajah yang berkomunikasi dengan gelombang frekuensi sangat rendah dan kura-kura yang peka pada medan magnet.*

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan