Telphon Terakhir Alfonsius dengan Ibunda, Pulang Bulan 12 Tinggal Kenangan
MAUMERE,dewadet.com-Kabar penembakan menewaskan drh. Alfonsius Albinus Mehan (36) oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Rabu siang, 9 September 2026 sangat mengejutkan keluarganya di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Alfonsius pergi selamanya. Kabar duka itu memutar ulang memori sang ibu, Maria Sukarti Yam. Nasehat Maria sembilan tahun lalu menenantangnya merantau ke Papua, dan ngobrol ibu dan anak di setiap kali telphon mengiang-ngiang kembali di telinga Maria.
Di rumahnya di Kelurahan Wailiti, Jumat (11/9/2026), Maria menunggu kepulangan Alfonsius. Menurut rencana, Sabtu, 12 September 2026, almahrum akan tiba di Maumere dengan pesawat Cassa dari Labuan Bajo setelah penerbangan dari Wamena-Makassar-Labuan Bajo.
Maria terpukul.Air matanya sudah kering.Ia ingat lagi telphon terakhir keduanya. “Dia bilang: ‘Mama, saya mau pulang. Tidak usah kirim mama uang. Mama di sini juga tidak susah. Biar ubi, pisang saya juga bisa makan,'” kenang Maria.
Baca juga:Dokter Hewan Ditembak KKB Papua akan Diterbangkan ke Maumere
Maria minta Alfonsius tidak memikirkan dirinya, tapi mengurus keluarga kecilnya di Papua.
“Dia kirim. Habis omong begitu baru dia bilang: ‘Ya sudah Mama, saya kerja kumpul uang bulan 12 saya pulang.’ Iya,” ujar Maria.
Di mata sang ibu, Alfonsius yang sudah sembilan tahun mencari penghidupan di tanah rantau sebagai pribadi yang baik dan suka membantu sesama.
“Mungkin ada kesinggungan/perselisihan sedikit, tidak jelaskan tidaknya. Padahal saya punya anak itu baik sekali. Dengan warga di situ, baik pokoknya dia itu. Orang sudah tahu sudah hampir 9 tahun, hampir 9 tahun di sana,” kata Maria.
Baca juga:Bupati Sikka Kutuk KKB Bunuh Dokter Hewan asal Sikka, Minta Negara Tanggungjawab
“Bangun pagi dia tuh pokoknya dari sana kalau orang-orang minta bantuan tuh cepat kali,” tutur Maria.
Alfonsius, kata Maria, rutin mengirim uang kepadanya, meski Maria selalu meminta agar uang tersebut digunakan untuk kebutuhan bersama istri dan anaknya.
“Terus-terus dia kirim. Rp 1.500.000, pokoknya saya ini, dia jangan dengar sakit, dia kirim. Malahan saya ini bilang: ‘Sudah tidak usah kirim Mama.’ Mama masih sehat, bisa jalan,” ujar Maria.
Uang kiriman, telepon dan janji kepulangan itu tinggal kenangan. Maria bersama sanak keluarga besar menanti Alfonsius kembali dalam wujud jasad.
Baca juga:Warga Maumere Tewas Ditembak KKB di Distrik Muliama
Maria pun teringat lagi nasehatnya pada 2018 ketika Alfonsius berangkat ke Papua. Maria menentang keras. Ia khawatir keselamatan anaknya karena tahu wilayah Papua merupakan daerah rawan. Namun, Alfonsius memilih pergi merantau.
“Eh mama tidak usah cari tahu, saya nekat ke sana. Pokoknya mama itu doa saja,” Maria menirukan pesan kala itu.
Kini, kekhawatiran sang mama jadi kenyataan, Alfonsius menjadi korban penembakan bersama dua orang rekannya dari Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Aprida Rapi dan Willi Mbuik.
Alfonsius, anak ketujuh dari delapan bersaudara, putra dari Paulus Robertus dan Maria, menikah istrinya pada 2021 punya seorang anak berusia lima tahun.*




