Alumni Mesin Politeknik Cristo Re dan Pertanian STIPER Bajawa Wawancara Kerja di Jepang
MAUMERE,dewadet.com-Kinerja para perawat asal Provinsi NTT di Jepang yang mendapat apresiasi akhirnya merambah kepada rekrutmen tenaga kerja pertanian dan mesin.
Kali ini ini, alumni Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Flores Bajawa dan Politeknik Cristo Re Keuskupan Maumere, menjalani wawancara awal dan penilaian untuk memasuki pelatihan hingga penempatan di Jepang.
Diputy Recruitment, Finance dan Partnership Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Musubu, Yofani Francis Yuki, menjelaskan wawancara calon tenaga kerja pertanian dan mesin otomotif memenuhi permintaan tenaga kerja dari Jepang.
Politeknik Cristo Re Maumere punya spesifikasi pendidikan mesin dinilai kompetitif setelah menerima kunjungan Mr.Nakano dari LPK Musubu.
Baca juga:Sekolah Lapang Kakao, Kembalinya Primadona Petani Desa Bloro dari Tanaman Terserang Hama
“Mr. Nakano sudah saksikan sendiri dan terkesan ketika datang di Bengkel Cristo Re,” kata Vonny Francis, kepada dewadet.com, Rabu 30 Juli 2025.
Sedangkan di STIPER Bajawa, kata Vonny Francis, para mahasiswanya pernah belajar pertanian ke Israel.
Dikatakanya, ada 17 orang calon pekerja pertanian dari STIPER Bajawa dan delapan orang tenaga mesin dari Politeknik Cristo Re menjalani interview dengan LPK Musubu.
“Dari interview awal kita sudah bisa nilai dan tahu minat, dan motivasi mereka. Nanti akan disusul wawancara lanjutan. Tahapan berikut pelatihan Bahasa Jepang, ketrampilan yang disesuaikan dengan syarat yang diminta oleh Jepang. Kemudian juga ada syarat lain yang harus disiapkan sebelum keberangkatan” kata Vonny Francis.
Vonny Francis, telah lama berkecimpung dengan advokasi kepada masyarakat Sikka dan Pulau Flores menegaskan, para perawat yang telah bekerja di Jepang bisa membuktikan diri dengan kinerja yang bagus.
Kehadiran mereka di Jepang merupakan pertaruhan nama baik masyarakat Flores. Selama ini, orang-orang di Kementerian Tenaga Kerja RI menganggap tenaga kerja asal Flores dan NTT tidak mampu.
“Kita terima ini sebagai tantangan ini. Kita harus buktikan, anak-anak NTT khususnya Flores itu mampu. Dan, kita sudah buktikan lewat tenaga kesehatan. Kita bukan pekerja kelas dua,” tegas Vonny Francis.
Vonny mengatakan rekrutmen tenaga pertanian dan mesin atas permintaan dari Jepang dan juga memenuhi permintaan Uskup Agung Ende, Mgr.Paulus Budi Kleden.
Baca juga: Dinas Nakertrans Sikka Fasilitasi Petani Olah Singkong dan Kakao
Semula,dia juga deg-degkan juga dengan permintaan tenaga kerja mesin ke Jepang. Namun pola pembinaan yang dilaksanakan oleh Politeknik Cristo Re memberinya keyakinan.
“Garansinya nama baik LPK Musubu dan Bapak Uskup Maumere. Ini re-branding pertama terhadap tenaga kerja NTT,” imbuh Vonny Francis. *
Penulis: Eginius Moa
Editor: Eginius Moa





