MBG di Sikka Jangkau 26,7 Ribu Penerima, Ada Balita, Ibu Hamil dan Ibu Menyusui
MAUMERE, dewadet.com-Program Makan Bergizi (MBG) di Kabupaten Sikka dimulai bulan Februari 2025 sampai awal Oktober 2025 baru bisa menjangkau 26.764 penerima manfaat dari peserta didik TKK-SMA/SMK,balita, ibu hamil (Bumil) dan ibu menyusui.
Penerima manfaat ini terinci untuk peserta didik 24.501, Balita 1.732 orang, ibu hamil 122 orang dan ibu menyusui 409 orang dilayani delapan dapur MBG.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan MBG Kabupaten Sikka, Ambrosius Peter, menjelaskan total peserta didik penerima manfaat MBG dari tingkat PAUD-SMA/SMK sebanyak 78.885 orang berdasarkan data tahun 2024. Kemungkinan data tersebut telah mengalami perubahan.
Pelayanan MBG pertama kali dilakukan dapur berlokasi Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, beroperasi 17 Februari 2025, disusul dapur lainya di Kecamatan Alok Barat, Kecamatan Alok Timur, Kangae, dan Kecamatan Lela.
Baca juga:Dua Hari Murid SDK Bhaktyarasa Tak Dilayani Makan Siang Bergizi
Ambrosius menjelaskan ketentuan pelayanan dapur MBG. Kategori dapur utama untuk 3.000 penerima keatas, disusul dapur mini melayani 3.000 ke bawah dan dapur satelit menjangkau 1.000 penerima manfaat.
Ketentuan lain, kata Ambrosius, jangkauan pelayanan 6 Km dan waktu tempuh distribusi 30 menit dari titik pengiriman MBG. Delapan dapur MBG yang telah beroperasi saat ini masih berada di dalam ketentuan ini.
Ia menambahkan, ada 12 dapur yang telah mendaftar ke Badan Gizi Nasional (BGN), selain tiga dapur yang akan dibangun oleh BGN memanfaatkan lahan-lahan milik Pemkab Sikka di Kecamatan Magepanda, Paga, dan Kecamatan Talibura.
“Rencana 23 dapur MBG dan 40-an dapur satelit. Geografis kita (Sikka) dapur satelit harus banyak.Tidak semua wilayah mudah diakses,” kata Ambrosius menjabat Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sikka.
Baca juga:Ulat Hidup di Nasi MBG SMKS Yohanes XXIII Maumere
Ambrosius mengakui MBG memberi manfaat yang besar kepada peserta didik. Dia mengaku miris mengetahui banyak anak yang ke sekolah tidak sarapan.
“Saya masuk ke kelas, saya minta yang tidak sarapan tunjukan tangan. Lebih banyak yang tidak sarapan. MBG dibagikan dimakan habis. Menurut saya, rugi sekali kalau anak-anak tidak terima MBG,” kata Ambrosius.*




