Pelajar Tertangkap Asusila, Transformasi Adat Tidak Dipedulikan, Waktunya Koreksi Bersama
MAUMERE,dewadet.com-Tertangkapnya tiga orang pelajar SMA dibawah umur berbuat asusila di kamar kos di Kecamatan Alok Timur, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) harus menjadi kesempatan koreksi bersama untuk perbaikan.
Kejadian ini menandakan bahwa transformasi niai-nila adat kepada anak perempuan maupun anak laki-laki menjaga tubuhnya sebagai bagian yang sakral tidak dipedulikan. Tumbuhkembang anak juga tidak dipedulikan, sehingga mereka mencarinya saluranya sendiri-sendiri.
“Menurut saya ini kesalahan sosial bersama. Kita tidak peduli dengan tumbuh kembang anak-anak kita. Kasus ini tidak perlu dibesar-besarkan, tapi mari kita cari solusinya,” kata pegiat hukum adat, Viktor Nekur, S,H, menghubungi wartawan, Jumat malam merespon tertangkapnya tiga pelajar oleh Satuan Polisi Pamong Praja dan Damkar Kabupaten Sikka.
Diberitakan sebelumnya, tiga pelajar SMA berusia 16 tahun di Kota Maumere melakukan mesum diciduk personil Satpol PP dari kamar kos di Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Selasa 30 September 2025 sekitar pukul 23.30 Wita.
Baca juga: Tiga Pelajar SMA di Maumere Diciduk Mesum di Kos, Mengaku Hamil, Dites Darah dan Urine
Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Kabupaten Sikka, Adeodatus Buang da Cunha,Jumat petang 3 Oktober 2025 membenarkan penangkapan para pelajar yang dilakukan personil.
“Memang ada penangkapan,” kata Buang da Cunha.
Sementara Kepala Seksi Pembinaan, Pengawasan dan Penyuluhan Bidang Penegakan Perundangan Daerah Satpol PP dan Damkar Sikka, Yosef Nong, S.H, M.H, mengatakan telah melakukan pengambilan keterangan kepada para pelajar pada Rabu 1 Oktober 2025.
“Ketiga pelajar tersebut pernah melakukan hubungan badan suami istri, tanpa menggunakan alat pelindung. Keterangan yang disampaikan salah satu pelajaran dalam keadaan hamil,” kata Nong.
Berdasarkan keterangan tersebut, personil Pol PP berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan AIDS Kabupaten Sikka dan Kepala Puskesmas Beru supaya dilakukan tes darah dan urine untuk memastikan kehamilan dan terpaparnya virus HIV AIDS.
Kasus ini, menurut Viktor Nekur menandakan kontrol sosial kepada anak dan remaja tidak berlangsung. Tidak ada lagi media untuk bertegur sapa kepada anak-anak, tidak ada lagi yang mempedulikan tumbuh kembang mereka.
Kemudian, anak-anak menganggap tidak ada ada norma yang mengatur pergaulanya. Nasehat-nasehat kepada anak-anak dan remaja tidak dilakukan. Mereka tumbuh dan berkembang bukan dari orangtua dan lingkungan sosial, namun dari google dan media sosial.
“Ketika ada kejadian lalu dianggap lumrah. Maka perlu ada koreksi bersama apa yang perlu disepakati untuk dilaksanakan,” saran Viktor Nekur.
Baca juga:Operator SD Mauloo ‘Rangkap Operator’ Ibu Guru Honor, Istri Mengadu ke Polisi
Dia pun mendesak kepada para pemilik kos-kosan untuk tidak hanya sekedar menyediakan tempat hunian, tetapi juga harus berperan sebagai orangtua asuh bagi para penguhuni.
Demikian juga diperlukan regulasi yang mengikat. Bilamana peran ini tidak dilaksanakan maka kos-kosan akan menjadi sarang perbuatan asusila.
“Ketika terjadi perbuatan asusila kita anggap lumrah, padahal mencoreng nilai dan moralitas adat kita,” tegas Viktor. *




