BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Indentitas Mendahului Tugas
Selasa, 28 Oktober 2025. Pesta Santo Simon dan Yudas, Rasul. Efesus 2:19-22; Lukas 6:12-19
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARI-saudara terkasih. Dalam arus kehidupan yang menekan dari segala sisi, seperti target kerja, relasi yang renggang, berita yang menyesakkan, kecemasan yang diam-diam menggerus, kita kerap merasa seperti orang terseret, bukan peziarah yang melangkah.Banyak yang merasa “asing” di tanah sendiri, di rumah yang sibuk, di komunitas yang letih, bahkan di tengah perayaan liturgi yang megah namun dingin di hati.
Kierkegaard pernah mengingatkan, “Hidup hanya dapat dipahami ke belakang; tetapi harus dijalani ke depan.” Maka hari ini, pada Pesta Santo Simon dan Yudas, Rasul, kita berhenti sejenak untuk menoleh ke Sabda Allah, supaya arah langkah ke depan kembali jernih.
Rasul Paulus dalam Surat kepada Jemaat di Efesus menghempas rasa terasing dengan kalimat yang mengguncang: “Kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan sewarga dengan orang kudus dan anggota keluarga Allah.”
Inilah identitas kita; daripadanya jelas urutan yang tepat dalam berkarya, yakni identitas mendahului tugas. Kita berkarya bukan agar diterima, melainkan karena telah diterima sebagai anggota keluarga Allah. Namun kerap kita terjebak melayani tanpa lebih dahulu mengalami diri sebagai anak Allah; akibatnya arah menjadi kabur. Arah yang benar ialah kita berkarya karena dicintai, bukan bekerja untuk dicintai.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Ketaatan yang Membelenggu Menuju Kasih yang Membebaskan
Dari kepastian ini, tampak jelas fondasi kita: dibangun di atas para rasul dan para nabi, dengan Kristus sebagai batu penjuru. Dasar ini bukan batu beku; ia berdenyut oleh ingatan Gereja dan tuntunan Roh. Seperti sering diingatkan Paus Fransiskus, waktu lebih besar daripada ruang—pertumbuhan, proses, dan kesetiaan jangka panjang lebih utama daripada obsesi menguasai posisi atau hasil instan.
Maka Gereja yang sehat bukan tumpukan program tanpa poros, melainkan “bangunan yang rapi tersusun” di sekeliling Kristus. Akhirnya, kita dipanggil menjadi Bait Allah yang merangkul: “Kamu turut dibangun… menjadi tempat kediaman Allah dalam Roh.”
Artinya, paroki, lingkungan, dan komunitas bukan sekadar “tempat berkumpul,” melainkan rumah pulang yang memperlakukan satu sama lain bukan sebagai tamu, melainkan saudara—terutama mereka yang kehilangan pegangan atau tersisih. Maka tak heran St. Yudas dikenang menolong mereka yang “putus asa”; sebab bait Allah hadir pertama-tama sebagai pelukan yang menguatkan, barulah pengutusan yang memberdayakan.
Penginjil Lukas menyingkap ritme hidup Yesus: semalam-malaman berdoa, lalu memilih, kemudian menyembuhkan. Di sini ada urutan rohani yang tidak boleh dibalik: doa menuntun pada pembedaan, pembedaan meneguhkan misi, dan lalu misi berbuah dalam daya penyembuhan.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Kerendahan Hati yang Menggetarkan Surga
Urutan ini menunjuk kepada kita bahwa pelayanan modern sering kehabisan napas bukan karena kurang strategi, tetapi karena meloncati doa. Pada hal doa merupakan sumber dari pelayanan. Dari situlah daya pemulihan mengalir, sehingga kehadiran kita, seperti Yesus menyembuhkan luka, bukan sekadar menambah kegiatan.
Dalam terang Injil itu, Gereja menempatkan dua rasulnya, yakni Santo Simon dan Santo Yudas. Simon adalah seorang Zelot yang berapi-api, tetapi dimurnikan dalam Kristus sehingga semangatnya tidak meletup menjadi kekerasan, melainkan menjadi tenaga moral untuk membangun kehidupan bersama.
Yudas kerap digambarkan membawa ikon Yesus di dada, sebuah katekese visual bahwa Wajah Kristus didekatkan ke hati. Dari sini kita belajar: bawalah Wajah Kristus ke ruang kerja, layar gawai, dan percakapan keluarga, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai standar untuk berkata benar, melayani, dan rela mengalah demi persatuan.
Santo Yudas juga dihormati sebagai pelindung perkara yang tampak buntu. Pada masa-masa sulit, seperti migrasi, krisis ekonomi, pergolakan sosial, dan sakit, banyak orang bersandar pada doanya dan menemukan pengharapan. Itu bukan pelarian, melainkan pengakuan bahwa pengharapan tertinggi lahir ketika beban diletakkan di dada Yesus, sebagaimana Yudas menaruh gambar-Nya dekat dadanya.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Hidup dalam Roh, Berbuah dalam Kasih
Saudari-saudara terkasih, marilah kita menegakkan hati pada identitas kita sebagai keluarga Allah, dibangun di atas para rasul dan nabi dengan Kristus sebagai batu penjuru supaya kita hidup bukan di atas tumpukan program, melainkan sebagai “bangunan yang rapi tersusun” —rumah pulang bagi siapa pun, terutama yang tersisih.
Untuk itu, ikutilah ritme Yesus—berdoa, membeda, kemudian bermisi sebab dari doa mengalir daya pemulihan yang membuat pelayanan tidak kehabisan napas. Kita belajar dari Simon yang dimurnikan semangatnya dan dari Yudas yang menaruh Wajah Kristus di dada. Bawalah Wajah Kristus ke mana-mana dan saat jalan buntu, mohonlah perantaraan St. Yudas agar harapan tumbuh dan kita diutus kembali membangun kehidupan bersama yang lebih baik.
Petikan Sabda Allah hari ini:
“Identitas sebagai anak Allah bukan hadiah setelah bekerja, melainkan sumber yang menggerakkan setiap karya; dari doa lahir pembedaan, dari pembedaan tumbuh misi, dan dari misi memancar penyembuhan.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian):Mengenali Zaman, Mengenali Diri
“Bawalah Wajah Kristus dekat di dada: biarlah Ia menata kata-kata kita, memurnikan semangat kita, dan menjadikan komunitas kita rumah pulang bagi mereka yang letih dan tersisih.”
Tuhan memberkati kita.





