Sabtu, 25 Oktober 2025. Hari Biasa Pekan XXIX. Roma 8:1-11; Lukas 13:1-9.
Oleh: Rd.Fidelis Dua
SAUDARA-saudari terkasih dalam Kristus. Kehidupan kita saat ini sering diwarnai oleh kelelahan batin yang tersembunyi. Banyak orang tampak sibuk, aktif, bahkan sukses, namun di kedalaman hati terasa hampa.
Kita berlari dari satu aktivitas ke aktivitas lain, tetapi kehilangan arah dan makna. Mengapa? Karena kita terbiasa hidup tanpa refleksi, bekerja tanpa roh, berdoa tanpa jiwa, melayani tanpa kasih.
Filsuf Socrates pernah berkata, “Hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dijalani.”
Mendiang Paus Fransiskus pun mengingatkan, “Bahaya terbesar manusia modern adalah hidup tanpa kesadaran akan Roh.” Artinya, seseorang bisa tampak hidup, tetapi sesungguhnya mati, seperti pohon ara dalam Injil hari ini: rindang, namun tak berbuah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian):Mengenali Zaman, Mengenali Diri
Rasul Paulus dalam bacaan pertama menegaskan dua cara hidup yang berbeda tajam: hidup menurut daging dan hidup menurut Roh. Ia menulis, “Mereka yang hidup menurut daging memikirkan hal-hal daging, tetapi mereka yang hidup menurut Roh memikirkan hal-hal Roh.” (Rm 8:5).
Hidup menurut daging bukan soal tubuh atau hal jasmani, melainkan cara hidup yang dikuasai ego, ambisi, iri hati, gengsi, rasa takut, dan keinginan untuk diakui.
Sebaliknya, hidup menurut Roh berarti membiarkan Allah menjadi pusat segala pikiran, keputusan, dan tindakan. Hidup dalam Roh berarti membuka diri bagi kasih Allah yang membebaskan dan menumbuhkan.
Roh memberi hidup karena di dalam-Nya ada kebebasan sejati, kebebasan untuk mengasihi tanpa pamrih, bekerja tanpa kehilangan makna, dan melayani tanpa mencari pujian. Roh Kudus bukan sekadar penghibur, tetapi tenaga ilahi yang memerdekakan hati dari kebiasaan yang mematikan: dengki, dendam, dan kerasnya hati untuk mengampuni.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Menyala dalam Api Kebenaran, Bukan Abu Kemunafikan
Inilah undangan bagi kita: berhenti hidup hanya dari tenaga sendiri, dan mulai hidup dengan napas Roh Kudus yang memberi arah dan daya baru bagi setiap langkah.
Yesus dalam Injil hari ini melanjutkan pesan itu dengan nada yang tegas: “Jika kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa.” (Luk 13:3). Ia berbicara tentang pohon ara yang tidak berbuah, pohon yang tampak subur dari luar, namun hampa dari dalam.
Ia menggambarkan hidup yang indah secara lahiriah, tetapi kehilangan makna batiniah. Bukankah kadang hidup kita juga seperti itu? Kita masih berdoa, masih pergi ke gereja, tetapi tidak lagi berbuah dalam kasih, pengampunan, dan pelayanan.
Namun kabar gembiranya: Allah tidak langsung menebang pohon itu. Ia bersabar, memberi waktu dan kesempatan baru. “Biarlah aku mencangkulnya dan memberi pupuk,” kata sang penggarap. (Luk 13:8).
Inilah wajah Allah yang sejati bukan murka yang cepat menghukum, tetapi kasih yang sabar dan memberi ruang bagi pertobatan. Namun kesempatan itu harus disambut dengan kesediaan untuk dicangkul oleh Sabda, dipupuk oleh doa, dan disirami oleh semangat baru.
Pertobatan sejati bukan sekadar berhenti dari dosa, tetapi keberanian untuk berubah arah dari hidup yang steril menjadi hidup yang berbuah.
Pohon ara yang tidak berbuah bukan hanya simbol kegagalan moral, tetapi juga lambang hidup yang kehilangan makna karena tidak menghasilkan kebaikan.
Saudara-saudari terkasih, Allah sedang mencangkul kehidupan kita hari ini. Ia sedang mengaduk tanah hati yang mengeras oleh rutinitas, keletihan, dan kekecewaan, agar akar iman kita dapat bernapas kembali.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Menyalakan Pelita Iman di Tengah Gelapnya Zaman
Pertanyaannya, apakah kita rela dicangkul oleh sabda? Apakah kita mau dipupuk oleh Roh? Jika ya, maka hidup kita meski sederhana akan menjadi pohon harapan bagi sesama. Sebab hidup yang dihidupi oleh Roh tidak akan kering, melainkan berbuah kasih, sukacita, dan damai yang sejati.
Dan buah hidup itu tidak diukur dari keberhasilan lahiriah, tetapi dari kedalaman kasih yang bertahan dalam kesabaran, kesetiaan, dan kebaikan yang tulus sampai akhir.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
“Hidup yang tampak subur dari luar belum tentu berbuah di dalam; hanya hati yang dicangkul oleh sabda dan dipupuk oleh Roh yang akan sungguh hidup.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Menabung di Lumbung Kasih Allah
“Pertobatan bukan sekadar berhenti dari dosa, tetapi keberanian untuk berubah arah dari hidup yang steril menjadi hidup yang berbuah kasih.”
Tuhan memberkati kita.






