Jumat, 24 Oktober 2025. Hari Biasa Pekan XXIX. Roma 7:18-25a; Lukas 12:54-59.

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARA-saudari terkasih dalam Kristus. Saat ini manusia mampu membaca cuaca lewat layar ponsel, memprediksi pasar, bahkan menebak perilaku manusia dengan algoritma.

Namun ironisnya, seperti kata Yesus dalam Injil hari ini, “Kalian tahu menilai gelagat bumi dan langit, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini?”

Kita mahir membaca tanda-tanda dunia, tetapi tumpul membaca tanda-tanda rohani. Kita peka terhadap perubahan teknologi, tetapi sering tuli terhadap bisikan hati dan panggilan pertobatan.

Mendiang Paus Fransiskus pernah berkata, “Zaman ini bukan kekurangan informasi, tetapi kekurangan kebijaksanaan.” Banyak tahu, tetapi sedikit yang sungguh mengerti arah hidupnya.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Menyala dalam Api Kebenaran, Bukan Abu Kemunafikan

Di sinilah teguran Yesus menjadi cermin bagi kita: sudahkah kita menilai zaman dengan mata iman, bukan hanya dengan logika dunia?

Rasul Paulus dalam bacaan pertama juga berbicara tentang pergulatan batin yang sangat manusiawi: “Apa yang kuingini, tidak aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku lakukan.” (Rm 7:19).

Ia menyadari jurang antara kehendak baik dan kelemahan diri. Betapa sering kita pun mengalaminya, misalnya ingin berdoa, tetapi kalah oleh kesibukan; ingin jujur, tetapi tergoda keinginan; ingin mengasihi, tetapi terseret oleh kepentingan diri.

Paulus menjerit: “Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Dan ia sendiri menjawab, “Syukur kepada Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Artinya, hanya kasih Kristus yang mampu membebaskan kita dari belenggu dosa dan keletihan moral. Pertobatan sejati bukan sekadar usaha manusia, tetapi respons terhadap rahmat Allah yang bekerja dalam kelemahan kita.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Bebas untuk Taat: Menjadi Hamba Kebenaran, Bukan Tawanan Kenyamanan

Yesus dalam Injil menegaskan, bahwa kita tidak cukup hanya menilai cuaca, tetapi harus mampu membaca tanda zaman bukan dengan mata duniawi, melainkan dengan mata rohani.

Zaman kita adalah zaman di mana dosa sering dibungkus dengan kata “kebebasan,” dan kompromi disamarkan sebagai “toleransi.” Kita perlu membiarkan Roh Kudus menyalakan nurani agar dapat membedakan mana yang benar di hadapan Allah dan mana yang sekadar benar menurut manusia.

Saudara-saudari terkasih, renungan hari ini mengajak kita untuk dua hal: pertama, mengenali diri seperti Paulus — jujur terhadap kelemahan dan terus mencari rahmat pembebasan; kedua, mengenali zaman seperti Yesus — peka terhadap tanda-tanda kehadiran Allah di tengah dunia yang berubah.

Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan bukanlah kemampuan kita membaca dunia, tetapi kesetiaan kita menjawab panggilan Tuhan di dalam dunia ini. Mari, jelilah membaca tanda kasih Allah yang hadir di tengah kita, tidak hanya membaca tanda-tanda dunia.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian): Menyalakan Pelita Iman di Tengah Gelapnya Zaman

Petikan Sabda Allah hari ini:

“Banyak orang pandai membaca dunia, tetapi buta membaca dirinya; padahal kebijaksanaan sejati lahir bukan dari informasi, melainkan dari pertobatan.”

“Mengenali zaman tanpa mengenali diri hanya melahirkan kebingungan; tetapi mengenali diri dalam terang Kristus menuntun kita membaca zaman dengan mata iman.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan