Jumat, 9 Januari 2026. Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan. Surat Pertama Rasul Yohanes 5:5-13; Lukas 5:12-16.

Oleh: Rd.Fidelis Dua.

SAUDARI dan saudara terkasih, banyak orang hidup dengan tubuh yang bergerak aktif dan pikiran yang penuh rencana, namun hati kerap diliputi kegelisahan dan ketakutan. Relasi dibangun, pekerjaan dijalani, ibadat dirayakan, tetapi kerinduan terdalam sering tak terjawab karena hidup diarahkan oleh keinginan-keinginan yang rapuh dan sementara.

Kita mencari kepenuhan, namun justru mengalami kerapuhan batin yang menyingkapkan kebutuhan akan pertobatan sejati. Dalam kondisi seperti inilah Sabda Tuhan berbicara dengan jujur dan membebaskan, menyingkapkan bahwa penyembuhan sejati terjadi ketika manusia berani berbalik kepada Allah dan membiarkan diri dijamah oleh kasih-Nya yang memulihkan.

Kerinduan akan hidup yang utuh dan penyembuhan batin itulah yang dijawab oleh kesaksian iman Rasul Yohanes. Rasul Yohanes menegaskan sebuah kebenaran yang sangat mendasar. Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita, dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. “Barangsiapa memiliki Anak Allah, ia memiliki hidup.”

Yohanes tidak berbicara tentang hidup yang ditunda di masa depan, melainkan tentang kualitas hidup yang sudah dimulai sekarang. Hidup sejati bukan pertama-tama soal panjang umur atau kelimpahan materi, melainkan tentang relasi yang benar dengan Kristus, yang terwujud dalam relasi yang benar dengan sesama.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Kasih yang Berani, Iman yang Menang atas Dunia

Memiliki Anak Allah berarti membiarkan Kristus menjadi pusat cara berpikir, cara mencintai, dan cara memilih. Tanpa Kristus, manusia dapat tampak sibuk dan berhasil, namun kehilangan arah terdalam hidupnya.

Hidup sejati yang hadir dalam Kristus itu kini diperlihatkan secara konkret dalam perjumpaan Yesus dengan manusia yang paling terpinggirkan. Injil Lukas menghadirkan gambaran yang sangat menyentuh tentang Allah yang tidak tinggal jauh dari manusia.

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus dengan keberanian dan kepercayaan yang besar. “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Permohonan ini bukan tuntutan, melainkan penyerahan diri sepenuhnya dari seorang yang menyadari keterbatasan dan merindukan pemulihan. Yesus tidak diam atau menjaga jarak, Ia tidak menunda. Ia mengulurkan tangan-Nya dan menjamah orang itu.

Sentuhan ini adalah pewartaan tanpa kata, pengampunan tanpa syarat. Ia tidak hanya menyembuhkan kusta fisik, tetapi juga membebaskan hati yang diliputi kegelisahan dan ketakutan. Jawaban Yesus sangat sederhana dan sarat belas kasih. “Aku mau.”

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Dari Akhir Menuju Awal di Dalam Firman

Sentuhan belas kasih inilah yang menyingkapkan makna terdalam dari hidup kekal yang dijanjikan Allah. Bahwasannya, hidup yang kekal dalam Anak Allah bukan konsep abstrak, melainkan pengalaman dijamah dan dipulihkan oleh kasih Allah. Yesus tidak hanya memberi hidup, Ia menyentuh hidup.

Banyak orang dewasa ini merasa tidak layak, tersisih, atau dipandang rendah karena kegagalan, kelemahan, atau masa lalu. Injil ini menegaskan bahwa tidak ada kondisi manusia yang membuat Allah enggan mendekat. Ketika seseorang berani datang kepada Kristus dengan kerendahan hati, hidup mulai diperbarui.

Mendiang Paus Fransiskus pernah mengatakan bahwa Allah tidak pernah lelah mengulurkan tangan-Nya kepada manusia yang lemah dan kerap jatuh dalam dosa. Perjumpaan belas kasih itu menjadi nyata ketika seseorang dengan rendah hati berani kembali bertobat dan berdoa dengan jujur, serta ketika sesama saudara memilih berdamai dengan saling mengampuni dan memulihkan relasi. Di sanalah hidup yang datang dari Anak Allah sungguh dialami dan dihidupi.

Saudari dan saudara terkasih, Sabda Tuhan mengundang kita untuk berhenti mencari hidup di luar Kristus. Hidup sejati telah dianugerahkan dan hidup itu ada dalam Anak Allah yang mau menjamah dan memulihkan.

Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah–Harian) Kasih yang Menembus Ketakutan

Ketika kita datang kepada-Nya dengan iman yang pasrah dan hati yang terbuka, kita tidak hanya disembuhkan, tetapi sungguh dihidupkan kembali dan diselamatkan.

Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:

”Hidup sejati bukan ditemukan dalam kesibukan dan keberhasilan, melainkan dalam keberanian membiarkan diri dijamah oleh Kristus yang memulihkan.”

”Ketika kita datang kepada Allah dengan hati yang pasrah, Allah tidak hanya menyembuhkan, Ia menghidupkan kembali seluruh keberadaan kita.”

Tuhan memberkati kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan