Sikka Terlalu Panas, Dokter Ahli Selalu Di-bully
MAUMERE,dewadet.com-Ulah segelintir netizen di media sosial mem-bully dokter ahli sangat menghambat kehadiran dokter ahli bertugas di Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSUD dr.TC.Hillers Maumere.
Direktur BLUD RSUD, dr.Clara Francis, menjadi sasaran bully sudah dua kali mengajukan surat pengunduran diri kepada Bupati Sikka, meski permintaan itu belum direspon.
“Covid (pandemi) kami diagung-angungkan. Tetapi, kondisi kami saat ini, kami jadi bahan bullyan,” beber Clara Francis, dalam rapat kerja pemerintah dengan DPRD Sikka, Jumat siang, 31 Oktober 2025 di ruang sidang utama.
Ia mengatakan, tanggungjawab mendatangkan dokter ahli sudah dilakukan. Sejak bulan Februari 2025 ketika Bupati dan Wakil Bupati Sikka sudah dilantik.
Baca juga:Tahun 2026, Insentif Dokter Spesialis RSUD Maumere Rp 50-60 Juta Sebulan
“Tapi Sikka terlalu panas, Dokternya selalu di-bully,” tegas Clara Francis.
“Terakhir saya komunikasi dengan dokter ahlinya. Dok.. Kalau saya ke situ (Maumere)… tapi kenapa. Tapi bagaimana situasinya. Saya katakan kita akan sama-sama hadapi. Dokter ada di belakang kami. Lakukan saja yang terbaik,” Clara Francis menyampaikan dialog dengan dokter ahli (residen) dalam rapat dipimpin Ketua DPRD Sikka, Stefanus Sumandi, dihadiri Wakil Bupati Sikka.
“Kadang kami harus merayu supaya mereka (dokter ahli) mau datang ke sini. Akhirnya kami bisa datangkan (residen),” Clara Francis menambahkan.
Ia menegaskan bahwa dokter residen itu bukan setengah dokter. Bukan!. Residen adalah mereka yang telah menyelesaikan pendidikan pada tahap akhir menunggu pelantikan atau wisuda.
Baca juga:Tujuh Hari Ke Depan di Kabupaten Sikka, 80 Ibu Hamil Beresiko Akan Partus
Menurut regulasi, kata Clara Francis, residen dibolehkan melakukan pelayanan kesehatan. Selalu ada rekomendasi untuk dikirim. Banyak rumah sakit, lanjut Clara Francis, dilayani oleh dokter residen, karena tenaga dokter spesialisis masih kurang.
“Apalagi ditanya berapa insentif yang diberikan. Saya malu-malu menjawab. Kondisi keuangan kita, insentif dokter ahli berada di bawah angka yng diberikan untuk dokter ahli di Labuan Bajo, maupun di Mbay,” katanya.
Selain insentif yang harus disediakan, kata Clara Francis, dokter ahli harus mendapatkan fasilitas rumah dan mobil. Berkali-kali di dalam pertemuan DPRD dengan pemerintah, disepakati menyediakan mobil dan rumah. Namun tidak direalisasikan.
“Ini jadi tanggungajwab bersama pemerintah dan DPRD. Berkali-kali saya datang tapi dikatakan kembali ke BLUD. Bayangkan pendapatan BLUD Rp 54 miliar, sebagian besar untuk jasa, listrik sebulan Rp 123 juta, obat-obatan, makan pasien, perawatan rutin fasilitas, dan semua kebutuhan dipenuhi dari pendapatan ini. APBD tidak diberikan sama sekali,” tegas Clara Francis.
Baca juga:Dokter Spesialis Anestesi dan Obgyn Beri Pelayanan di RSUD Maumere
“Kata orang BLUD uangnya banyak. Tapi kami pakai semuanya untuk operasional di RSUD. Uangnya ada tapi semua pengeluaran mengikuti aturan. Siapa yang mau tinggal di depan Benggoan (Rutan Kelas II B Maumere),” tegas Clara Francis. *




