BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Air Mata Daud, Sentuhan Iman, dan Hidup yang Dipulihkan
Selasa, 03 Februari 2026. Hari Biasa Pekan IV Peringatan Santo Blasius. 2 Samuel 18:9-10.14b.24-25a.30.31b-33; 19:1-3; Markus 5:21-43.
Oleh: Rd. Fidelis Dua.
Saudara dan saudari terkasih. Hidup kita sering bergerak di antara jeritan luka dan bisikan harapan. Ada saat kita menangis seperti Daud yang meratapi kematian Absalom, ada saat kita berani berharap seperti perempuan yang berkata dalam hati asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.
Sabda Tuhan hari ini mempertemukan ratapan terdalam manusia dengan kuasa Allah yang membangkitkan. Tangis tidak diabaikan, iman tidak disia-siakan.
Bacaan pertama memperlihatkan Daud sebagai raja yang hancur oleh kehilangan. Ia tidak mampu menahan air mata karena anak yang dicintainya telah mati. Ratapan Daud menunjukkan bahwa iman tidak meniadakan duka.Orang beriman bukan orang yang tidak terluka, tetapi orang yang membawa lukanya ke hadapan Tuhan.
Dalam kehidupan kita, ratapan itu bisa hadir dalam bentuk relasi yang rusak, keluarga yang retak, atau penyesalan yang terus menghantui. Sabda Tuhan mengajar kita untuk tidak memendam kesedihan, tetapi membawanya ke dalam terang kasih Allah.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Tuhan yang Dipersembahkanke Bait Hidup Kita
Dalam Injil, kita melihat bagaimana Yesus menyambut iman yang sederhana dan bahkan iman yang tersembunyi. Perempuan yang sakit pendarahan tidak berbicara banyak, ia hanya menjamah jubah Yesus. Namun sentuhan iman itu membuka jalan bagi kesembuhan.
Yesus juga berdiri di hadapan kematian anak Yairus dan berkata bahwa anak itu tidak mati tetapi tidur. Dunia menertawakan-Nya, tetapi Yesus tetap memanggil hidup kembali. Di hadapan Allah, iman tidak diukur dari kerasnya suara, melainkan dari ketulusan hati yang berharap.
Saudari dan saudara terkasih, kedua bacaan hari ini saling meneguhkan. Daud hanya mampu menangis karena hidup telah diambil darinya, Yesus datang membawa hidup yang dipulihkan. Ratapan manusia dijawab oleh belas kasih Allah. Di sini kita belajar bahwa Tuhan tidak hanya hadir saat kita kuat, tetapi justru saat kita rapuh.
Pada peringatan Santo Blasius hari ini, kita diingatkan pula bahwa Tuhan peduli pada tubuh dan jiwa kita. Berkat yang kita terima bukan sekadar perlindungan dari penyakit, tetapi tanda bahwa Allah ingin memulihkan seluruh hidup kita melalui iman.
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Sabda Bahagia: Jalan Kesetiaan Menuju Sukacita Sejati
Untuk itu, kita mesti berani meratap di hadapan Tuhan dan sekaligus berani berharap. Datanglah kepada Yesus dengan iman yang sederhana, sentuhlah Dia dalam doa, dalam Ekaristi, dan dalam kepercayaan yang setia.
Biarlah Tuhan membangunkan hidup yang tertidur dan mengubah ratapan menjadi harapan. Sebab di tangan Kristus, air mata tidak pernah sia-sia dan iman yang kecil mampu melahirkan kehidupan baru.
Petikan Butiran Sabda Allah hari ini:
”Di hadapan Allah, air mata bukan tanda kelemahan, melainkan bahasa iman yang paling jujur.”
Baca juga:BUSA-H (Butiran Sabda Allah-Harian) Saat Hati Jujur, Tuhan Bertindak
”Ketika manusia hanya mampu meratap, Kristus datang bukan untuk menegur tangis kita, melainkan untuk membangkitkan hidup yang hampir padam.”
Tuhan memberkati kita.





